Jumat, 08 Februari 2013

makalah sistem imun


http://dc427.4shared.com/doc/BDyQMc0C/preview_html_m70dbe947.gifMAKALAH SISTEM IMUN
PENYAKIT SKLEROSIS MULTIPEL


Di Susun Oleh:
1.      Dahlia Manda Sari
2.      Desi Astari
3.      Eka Oktavia
4.      Leni Apriliani
5.      Siti Lestari










SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATA MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
2010-2011
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN SKLEROSIS MULTIPEL

A.    Definisi
Multiple sclerosis (MS) merupakan keadaan kronis, penyakit degeneratif dikarakteristikkan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medulla spinalis.

Demielinasi menunjukkan kerusakan myelin yaklni adanya material lunak dan protein disekitar serabut-serabut saraf otak. Myelin adl. Substansi putih yang menutupi serabut saraf yang berperan dalam konduksi saraf normal (konduksi salutatory). MS merupakan salah satu gangguan neurologik yang menyerang usia muda sekitar 18-40 tahun. Insidens terbanyak terjadi pada wanita.
Istilah sklerosis multipel berasal dari banyaknya daerah jaringan parut (sklerosis) yang mewakili berbagai bercak demielinasi dalam sistem saraf.

Pertanda neurologis yang mungkin dan gejala dari sklerosis multipel sangat beragam sehingga penyakit ini tidakterdiagnosis ketika gejala pertamanya muncul.
 - Multipel Sklerosis (MS) adalah penyakit degenerati sistem saraf pusat (SSP) kronis yang meliputi kerusakan mielin (material lemak & protein dari selaput saraf)
 - MS secara umum dianggap sebagai penyakit autoimun, dimana sistem imun tubuh sendiri, yang normalnya bertanggung jawab untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit virus dan bakteri, dengan alasan yang tidak diketahui mulai menyerang jaringan tubuh normal. Pada kasus ini menyerang sel yang membentuk mielin.
 - Ms merupakan penyakit kronis dimana terjadi demielinisasi ireguler pada susunan saraf pusat / perier yang mengakibatkan berbagai derajat penurunan motorik, sensorik dan juga kognitif.
- MS merupakan penyakit kronis dari sistem saraf pusat degeratif dikarakteristikan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medula spinalis.





B.     Etiologi

Penyebab MS belum diketahui secara pasti namun ada dugaan berkaitan dengan virus dan mekanisme autoimun (Clark, 1991). Ada juga yang mengaitkan dengan factor genetic.
Ada beberapa factor pencetus, antara lain :

- Kehamilan
- Infeksi yang disertai demam
- Stress emosional
- Cedera

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyebab Multiple Sclerosis yang paling nyata adalah factor genetok (mirip kenker), tapi perkembangan dunia kedokteran terbaru membantah kesimpulan ini. Penelitian terbaru membuktikan bahwa Multiple Sclerosis
Faktor keturunan tampaknya berperan dalam terjadinya sklerosis multipel.
Sekitar 5% penderita memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang juga menderita penyakit ini dan sekitar 15% penderita memiliki keluarga dekat yang menderita penyakit ini. Faktor lingkungan juga berperan dalam terjadinya penyakit ini.
Sklerosis multipel hampir tidak pernah menyerang orang-orang yang tinggal di dekatkatulistiwa. 

C.     Patofisiologi

MS ditandai dengan inflamasi kronis, demylination dan gliokis (bekas luka).Keadaan neuropatologis yang utama adalah reaksi inflamatori, mediasi imune, demyelinating proses. Yang beberapa percaya bahwa inilah yang mungkin mendorong virus secara genetik mudah diterima individu. Diaktifkannya sel T merespon pada lingkungan.Tsel ini dalam hubunganya dengan astrosit, merusak barier darah otak, karena itu memudahkan masuknya mediator imun.





Faktor ini dikombinasikan dengan hancurnya digodendrosyt (sel yang membuat mielin) hasil dari penurunan pembentukan mielin. Makrofage yang dipilih dan penyebab lain yang menghancurkan sel. Proses penyakit terdiri dari hilangnya mielin, menghilangnya dari oligodendrosyt, dan poliferasi astrosyt. Perubahan ini menghasilkan karakteristik plak, atau sklerosis dengan flak yang tersebar. Bermula pada sarung mielin pada neuron diotak dan spinal cord yang terserang. Cepatnya penyakit ini menghancurkan mielin tetapi serat saraf tidak dipengaruhi dan impulsif saraf akan tetap terhubung.
Sebagai peningkatan penyakit, mielin secara total robek atau rusak dan akson menjadi ruwet. Mielin ditempatkan kembali oleh jeringan pada bekas luka, dengan bentuk yang sulit, plak sklerotik, tanpa mielin impuls saraf menjadi lambat, dan dengan adanya kehancuranpada saraf, axone, impuls secara total tertutup, sebagai hasil dari hilangnya fungsi secara permanen. Pada banyak luka kronik, demylination dilanjutkan dengan penurunan fungsisaraf secara progresif


D.    Manifestasi Klinis
Tergantung pada area system saraf pusat mana yang terjadi demielinasi :
1.      Gejala sensorik : paralise ekstremitas dan wajah, parestesia, hilang sensasi sendi dan proprioseptif, hilang rasa posisi, bentuk, tekstur dan rasa getar.
2.      Gejala motorik : kelemahan ekstremitas bawah, hilang koordinasi, tremor intensional ekstremitas atas, ataxia ekstremitas bawah, gaya jalan goyah dan spatis, kelemahan otot bicara dan facial palsy.
3.      Deficit cerebral : emosi labil, fungsi intelektual memburuk, mudah tersinggung, kurang perhatian, depresi, sulit membuat keputusan, bingung dan disorientasi.
4.      Gejala pada medulla oblongata : kemampuan bicara melemah, pusing, tinnitus, diplopia, disphagia, hilang pendengaran dan gagal nafas.
5.      Deficit cerebellar : hilang keseimbangan, koordinasi, getar, dismetria.
6.      Traktus kortikospinalis : gangguan sfingter timbul keraguan, frekuensi dan urgensi sehingga kapasitas spastic vesica urinaria berkurang, retensi akut dan inkontinensia.
7.      Control penghubung korteks dengan basal ganglia : euphoria, daya ingat hilang, demensia.
8.      pyramidal dari medulla spinalis : kelemahan spastic dan kehilangan refleks abdomen.


E.     Penatalaksanaan

·         Bersifat simtomatik : sesuai dengan gejala yang muncul
·         Farmakoterapi :
1.      Kortikosteroid, ACTH, prednisone sebagai anti inflamasi dan dapat meningkatkan konduksi saraf.
2.      Imunosupresan : siklofosfamid (Cytoxan), imuran, interferon, Azatioprin, betaseron.
3.      Baklofen sebagai antispasmodic
·         Blok saraf dan pembedahan dilakukan jika terjadi spastisitas berat dan kontraktur untuk mencegah kerusakan lenih lanjut.
·         Terapi fisik untuk mempertahankan tonus dan kekuatan otot


F.      Komplikasi

Ada eberapa penyakit yang menyerupai sklerosis multiple : 
·         Infeksi otak karena bakteri atau virus (penyakit Lyme, AIDS, sifilis)
·         Kelainan struktur pada dasar tengkorak dan tulang belakang (artritis berat pada leher,    ruptur diskus spinalis
·         Tumor atau kista di otak dan medula spinalis (siringomielia
·         Kemunduran spinoserebelar dan ataksia herediter (penyakit dimana aksi otot tidak teratur atau otot tidak terkoordinasi) 
·         Stroke ringan (terutama pada penderita diabetes atau hipertensi yang peka terhadap penyakit ini) 
·         Sklerosis amiotrofik lateralis (penyakit Lou Gehrig
·         Peradangan pembuluh darah di dalam otak atau medula spinalis (lupusarteritis). 



G.    Pemeriksaan Diagnosis
·         Lumbal punction : pemeriksaan elektroforesis terhadap LCS, didapatkan ikatan oligoklonal yakni terdapat beberapa pita immunoglobulin gamma G (IgG).
·         DCT Scan : gambaran atrofi serebral
·         MRI : menunjukkan adanya plak-plak kecil dan bisa digunakan mengevaluasi perjalanan penyakit dan efek dari pengobatan.
·         Urodinamik : jika terjadi gangguan urinarius.
·         Neuropsikologik : jika mengalami kerusakan kognitifif.

H.    ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
·         Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, intoleransi aktivitas, kebas, parastesia eksterna
Tanda : kelemahan umum, penurunan tonus/massa otot, jalan goyah/diseret, ataksia
·         Sirkulasi
Gejala : edema
Tanda : ekstremitas mengecil, tidak aktif, kapiler rapuh
·         Integritas ego
Gejala : HDR, ansietas, putus asa, tidak berdaya, produktivitas menurun
·         Eliminasi
Gejala : nokturia, retensi, inkontinensia, konstipasi, infeksi saluran kemih
Tanda : control sfingter hilang, kerusakan ginjal
·         Makanan / cairan
Gejala : sulit mengunyah/menelan
Tanda : sulit makan sendiri
·         Hygiene
Gejala : bantuan personal hygiene
Tanda : kurang perawatan diri

·         Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri spasme, neuralgia fasial
·         Keamanan
Gejala : riwayat jatuh/trauma, penggunaan alat bantu
·         Seksualitas
Gejala : impotent, gangguan fungsi seksual
·         Interaksi social
Gejala : menarik diri
Tanda : gangguan bicara
·         Neurosensori
Gejala : kelemahan, paralysis otot, kebas, kesemutan, diplopia, pandangan kabur, memori hilang, susah berkomunikasi, kejang
Tanda : status mental (euphoria, depresi, apatis, peka, disorientasi.
Bicara terbata-bata, kebutaan pada satu mata, gangguan sensasi sentuh/nyeri, nistagmus, diplopia
Kemampuan motorik hilang, spastic paresis, ataksia, tremor, hiperfleksia, babinski + , klonus pada lutut
·         Identitas
Pada umunya terjadi pada orang-orang yang hidup di daerah utara dengan temperatus tinggi, terutama pada dewasa muda (20-40th) dan dua kali lebih banyak pada wanita daripada pria.
·         Keluhan Utama
Muncul keluhan lemah pada anggota badan bahkan mengalami spastisitas / kekejangan dan kaku otot, kerusakan penglihatan.
·         Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien pernah mengalami pengakit autoimun.
·         Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umunya terjadi demilinasi ireguler pada susunan saraf pusat perier yang mengakibatkan erbagai derajat penurunan motorik, sensorik, dan juga kognitif

2.      Pemeriksaan Fisik

·         Keadaan Umum
Lemah, jalan goyang, kepala pusing, diplodia, kekejangan otot / kaku otot
·         T T V
·         Tekanan darah : menurun
·         Nadi : cepat – lemah
·         RR : normal
·         Suhu : normal
·         BB & TB : ormal / seusia pemeriksaan.
o     Body System
1. Sistem Respirasi
I : Bentuk dada d/s simetris
P : Pergerakan dada simetris d/s
P : Sinor
A : Tidak ada suara nafas tambahan

·         ·         Sistem Kardiovaskuler
I : Ictus cordis tidak nampak
P : Ictus cordis teraba pada ICS 4-5
P : Pekak
A : Tidak ada suara tambahan seperti mur-mur

·         Sistem Intergumen
Resiko terjadinya dekubitus karena intoleransi aktivitas

·          Sistem Gastrointestinal
Mengalami perubahan pola makan karena mengalami kesulitan makan sendiri akbiat gejala klinis yang ditimbulkan.

·         Sistem Eliminasi Urine
BAK : mengalami inkontinensia & nokturia selama melakukan eliminasi urin

·         Sistem eliminasi alvi
BAK : tidak lancar 3 hari 1x dengan konsistensi keras, warn kukning bu khas feses

·         Sistem Murkulus skeletal
Kesadaran : -Apatisi 3-4-6

·         Terjadi kelemahan paralisis otot, kesemutan, nyeri (perasaan
tertusuk-tusuk pada bagian tubuh tertentu)
·         Sistem Neurologis
o    Terjadi perubahan ketajaman penglihatan (diplobia), kesulitan dalam berkomunikasi (disastria)





3.      Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan mobilisasi fisik b/d kelemahan, paresisi, spastisitas
2. Resiko cedera b/d kerusakan sensori dan penglihatan
3. Perubahan eliminasi alvi dan uri b/d disfungsi medula spinalis
4. PPP (kehilangan memori, demetia, euforia
5. Ketidak efektifan koping
6. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah b/d keterbatasan fisik, psikologis, sosial.
7. Resiko disfungsi sex b/d reaksi psikologis terhadap kondisi
Intervensi
1. Tentukan dan kaji tingkat aktivitas sekarang dan derajat gangguan fungsi dengan skala 0-4.
R/ berikan informasi untuk mengembangkan rencana perawtan bagi program rahabilitasi
2. Identifikasi faktor – faktor yang mempengarhuri kemampuan untuk aktif, misalnya pemasukan makanan yang tidak adekuat, insomnia, penggunaan obat-obat tertentu.
R/ berikan kesempatan untuk memecahkan masalaha untuk mempertahankan / meningkatkan mobilitas.
3. Anjurkan klien untuk melakukan perawatan diri sendiri sesuai dengan kemampuan maksimal yang dimiliki pasien.
R/ meningkatkan kemandirian dan rasa mobilitas diri dan dapat menurunkan perasaan tidak berdaya
4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman dan berikan alat bantu berjalan.
R/ latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan keefektifan pasien untuk berjalan dan alat bantu gerak dapat menurunkan kelemahan, meningkatkan kemandirian.
5. Buat rencana perawatan dengan periode istirahat konsisten diantara aktivitas
R/ menurunakn kelelahan, kelemahan otot yang berlebihan
6. Lakukan kolaborasi dengan ahli terapi fisik / terapi kerja
R/ bermanfaat dalam mengembangkan program latihan individual dan mengindentifikasi kebutuhan alat untuk menghilangkan spasme otot, meningkatkan fungsi motorik, emncegah / menurunkan atrofi fan kontraktur pada sistem muskular.

2. Resiko cedera berhubungan dengan kerusaakan sensori dan penglihatan.
Tujuan : - Suatu kecelakaan / cidera dapat terhindarkan
·         Mengidentifikasi perbedaan tipe masalah penglihatan yang brekenaan dengan MS
Kriteria Hasil : 1.Tipe gangguan penglihatan dapat diidentifikasikan
2.      Jarang terjadi kecelakaan / cidera akibat gangguanpenglihatan
Intervensi
1.      Identifikasi tipe gangguan epnglihatan yang dialami klien (diplopia, nigstagmus, neuritis optikus / penglihatan kabur)
R/ mengidentifikasi tipa gangguan visual yang terjadi dan batasan keparahan.
2.      Jelaskan pilihan alternatif untuk mengatasio gangguan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar