PENYAKIT SKLEROSIS MULTIPEL
Di
Susun Oleh:
1.
Dahlia Manda Sari
2.
Desi Astari
3.
Eka Oktavia
4.
Leni Apriliani
5.
Siti Lestari
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI
S1 KEPERAWATA MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
2010-2011
ASUHAN
KEPERAWATAN DENGAN PASIEN SKLEROSIS MULTIPEL
A.
Definisi
Multiple sclerosis (MS) merupakan
keadaan kronis, penyakit degeneratif dikarakteristikkan oleh adanya bercak
kecil demielinasi pada otak dan medulla spinalis.
Demielinasi menunjukkan kerusakan
myelin yaklni adanya material lunak dan protein disekitar serabut-serabut saraf
otak. Myelin adl. Substansi putih yang menutupi serabut saraf yang berperan
dalam konduksi saraf normal (konduksi salutatory). MS merupakan salah satu
gangguan neurologik yang menyerang usia muda sekitar 18-40 tahun. Insidens
terbanyak terjadi pada wanita.
Istilah sklerosis multipel berasal dari
banyaknya daerah jaringan parut (sklerosis) yang mewakili berbagai
bercak demielinasi dalam sistem saraf.
Pertanda neurologis
yang mungkin dan gejala dari sklerosis multipel sangat beragam sehingga
penyakit ini tidakterdiagnosis ketika gejala pertamanya muncul.
- Multipel
Sklerosis (MS) adalah penyakit degenerati sistem saraf pusat (SSP) kronis yang
meliputi kerusakan mielin (material lemak & protein dari selaput saraf)
- MS secara
umum dianggap sebagai penyakit autoimun, dimana sistem imun tubuh sendiri, yang
normalnya bertanggung jawab untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit virus
dan bakteri, dengan alasan yang tidak diketahui mulai menyerang jaringan tubuh
normal. Pada kasus ini menyerang sel yang membentuk mielin.
- Ms
merupakan penyakit kronis dimana terjadi demielinisasi ireguler pada susunan
saraf pusat / perier yang mengakibatkan berbagai derajat penurunan motorik,
sensorik dan juga kognitif.
- MS merupakan
penyakit kronis dari sistem saraf pusat degeratif dikarakteristikan oleh adanya
bercak kecil demielinasi pada otak dan medula spinalis.
B. Etiologi
Penyebab MS belum
diketahui secara pasti namun ada dugaan berkaitan dengan virus dan mekanisme
autoimun (Clark, 1991). Ada juga yang mengaitkan dengan factor genetic.
Ada beberapa
factor pencetus, antara lain :
- Kehamilan
- Infeksi yang
disertai demam
- Stress
emosional
- Cedera
Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa penyebab Multiple Sclerosis yang paling nyata adalah factor
genetok (mirip kenker), tapi perkembangan dunia kedokteran terbaru membantah
kesimpulan ini. Penelitian terbaru membuktikan bahwa Multiple Sclerosis
Faktor keturunan tampaknya berperan dalam
terjadinya sklerosis multipel.
Sekitar 5% penderita memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang juga menderita penyakit ini dan sekitar 15% penderita memiliki keluarga dekat yang menderita penyakit ini. Faktor lingkungan juga berperan dalam terjadinya penyakit ini.
Sekitar 5% penderita memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang juga menderita penyakit ini dan sekitar 15% penderita memiliki keluarga dekat yang menderita penyakit ini. Faktor lingkungan juga berperan dalam terjadinya penyakit ini.
Sklerosis multipel
hampir tidak pernah menyerang orang-orang yang tinggal di
dekatkatulistiwa.
C. Patofisiologi
MS ditandai dengan inflamasi kronis, demylination
dan gliokis (bekas luka).Keadaan neuropatologis yang utama adalah reaksi
inflamatori, mediasi imune, demyelinating proses. Yang beberapa percaya bahwa
inilah yang mungkin mendorong virus secara genetik mudah diterima individu.
Diaktifkannya sel T merespon pada lingkungan.Tsel ini dalam hubunganya dengan
astrosit, merusak barier darah otak, karena itu memudahkan masuknya mediator
imun.
Faktor ini dikombinasikan dengan hancurnya
digodendrosyt (sel yang membuat mielin) hasil dari penurunan pembentukan
mielin. Makrofage yang dipilih dan penyebab lain yang menghancurkan sel. Proses
penyakit terdiri dari hilangnya mielin, menghilangnya dari oligodendrosyt, dan
poliferasi astrosyt. Perubahan ini menghasilkan karakteristik plak, atau
sklerosis dengan flak yang tersebar. Bermula pada sarung mielin pada neuron
diotak dan spinal cord yang terserang. Cepatnya penyakit ini menghancurkan
mielin tetapi serat saraf tidak dipengaruhi dan impulsif saraf akan tetap
terhubung.
Sebagai peningkatan penyakit, mielin secara total
robek atau rusak dan akson menjadi ruwet. Mielin ditempatkan kembali oleh
jeringan pada bekas luka, dengan bentuk yang sulit, plak sklerotik, tanpa
mielin impuls saraf menjadi lambat, dan dengan adanya kehancuranpada saraf,
axone, impuls secara total tertutup, sebagai hasil dari hilangnya fungsi secara
permanen. Pada banyak luka kronik, demylination dilanjutkan dengan penurunan
fungsisaraf secara progresif
D. Manifestasi Klinis
Tergantung pada area system saraf pusat mana yang
terjadi demielinasi :
1. Gejala
sensorik : paralise ekstremitas dan wajah, parestesia, hilang sensasi sendi dan
proprioseptif, hilang rasa posisi, bentuk, tekstur dan rasa getar.
2. Gejala
motorik : kelemahan ekstremitas bawah, hilang koordinasi, tremor intensional
ekstremitas atas, ataxia ekstremitas bawah, gaya jalan goyah dan spatis,
kelemahan otot bicara dan facial palsy.
3. Deficit
cerebral : emosi labil, fungsi intelektual memburuk, mudah tersinggung, kurang
perhatian, depresi, sulit membuat keputusan, bingung dan disorientasi.
4. Gejala
pada medulla oblongata : kemampuan bicara melemah, pusing, tinnitus, diplopia,
disphagia, hilang pendengaran dan gagal nafas.
5. Deficit
cerebellar : hilang keseimbangan, koordinasi, getar, dismetria.
6. Traktus
kortikospinalis : gangguan sfingter timbul keraguan, frekuensi dan urgensi
sehingga kapasitas spastic vesica urinaria berkurang, retensi akut dan
inkontinensia.
7. Control
penghubung korteks dengan basal ganglia : euphoria, daya ingat hilang,
demensia.
8. pyramidal
dari medulla spinalis : kelemahan spastic dan kehilangan refleks abdomen.
E. Penatalaksanaan
·
Bersifat simtomatik : sesuai dengan gejala yang
muncul
·
Farmakoterapi :
1. Kortikosteroid,
ACTH, prednisone sebagai anti inflamasi dan dapat meningkatkan konduksi saraf.
2. Imunosupresan
: siklofosfamid (Cytoxan), imuran, interferon, Azatioprin, betaseron.
3. Baklofen
sebagai antispasmodic
·
Blok saraf dan pembedahan dilakukan jika terjadi
spastisitas berat dan kontraktur untuk mencegah kerusakan lenih lanjut.
·
Terapi fisik untuk mempertahankan tonus dan
kekuatan otot
F. Komplikasi
Ada eberapa penyakit yang menyerupai
sklerosis multiple :
·
Infeksi otak karena bakteri atau virus
(penyakit Lyme, AIDS, sifilis)
·
Kelainan struktur pada dasar tengkorak dan
tulang belakang (artritis berat pada leher, ruptur
diskus spinalis)
·
Tumor atau kista di otak dan
medula spinalis (siringomielia)
·
Kemunduran spinoserebelar dan ataksia
herediter (penyakit dimana aksi otot tidak teratur atau otot tidak
terkoordinasi)
·
Stroke ringan (terutama pada
penderita diabetes atau hipertensi yang peka
terhadap penyakit ini)
·
Sklerosis amiotrofik lateralis (penyakit Lou
Gehrig)
·
Peradangan pembuluh darah di dalam otak atau
medula spinalis (lupus, arteritis).
G. Pemeriksaan
Diagnosis
·
Lumbal punction : pemeriksaan elektroforesis
terhadap LCS, didapatkan ikatan oligoklonal yakni terdapat beberapa pita
immunoglobulin gamma G (IgG).
·
DCT Scan : gambaran atrofi serebral
·
MRI : menunjukkan adanya plak-plak kecil dan
bisa digunakan mengevaluasi perjalanan penyakit dan efek dari pengobatan.
·
Urodinamik
: jika terjadi gangguan urinarius.
·
Neuropsikologik : jika mengalami kerusakan
kognitifif.
H. ASUHAN
KEPERAWATAN
1. Pengkajian
·
Aktivitas
/ istirahat
Gejala : kelemahan,
intoleransi aktivitas, kebas, parastesia eksterna
Tanda : kelemahan
umum, penurunan tonus/massa otot, jalan goyah/diseret, ataksia
·
Sirkulasi
Gejala : edema
Tanda : ekstremitas
mengecil, tidak aktif, kapiler rapuh
·
Integritas ego
Gejala : HDR, ansietas,
putus asa, tidak berdaya, produktivitas menurun
·
Eliminasi
Gejala : nokturia, retensi, inkontinensia,
konstipasi, infeksi saluran kemih
Tanda : control
sfingter hilang, kerusakan ginjal
·
Makanan / cairan
Gejala : sulit
mengunyah/menelan
Tanda : sulit makan
sendiri
·
Hygiene
Gejala : bantuan
personal hygiene
Tanda : kurang
perawatan diri
·
Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri
spasme, neuralgia fasial
·
Keamanan
Gejala : riwayat
jatuh/trauma, penggunaan alat bantu
·
Seksualitas
Gejala : impotent,
gangguan fungsi seksual
·
Interaksi social
Gejala : menarik
diri
Tanda : gangguan
bicara
·
Neurosensori
Gejala : kelemahan,
paralysis otot, kebas, kesemutan, diplopia, pandangan kabur, memori hilang,
susah berkomunikasi, kejang
Tanda : status
mental (euphoria, depresi, apatis, peka, disorientasi.
Bicara
terbata-bata, kebutaan pada satu mata, gangguan sensasi sentuh/nyeri,
nistagmus, diplopia
Kemampuan motorik
hilang, spastic paresis, ataksia, tremor, hiperfleksia, babinski + , klonus pada
lutut
·
Identitas
Pada umunya terjadi
pada orang-orang yang hidup di daerah utara dengan temperatus tinggi, terutama
pada dewasa muda (20-40th) dan dua kali lebih banyak pada wanita
daripada pria.
·
Keluhan Utama
Muncul keluhan lemah
pada anggota badan bahkan mengalami spastisitas / kekejangan dan kaku otot,
kerusakan penglihatan.
·
Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien
pernah mengalami pengakit autoimun.
·
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umunya terjadi
demilinasi ireguler pada susunan saraf pusat perier yang mengakibatkan erbagai
derajat penurunan motorik, sensorik, dan juga kognitif
2. Pemeriksaan
Fisik
·
Keadaan
Umum
Lemah,
jalan goyang, kepala pusing, diplodia, kekejangan otot / kaku otot
·
T T V
·
Tekanan darah : menurun
·
Nadi : cepat – lemah
·
RR :
normal
·
Suhu
: normal
·
BB
& TB : ormal / seusia pemeriksaan.
o Body System
1. Sistem Respirasi
I : Bentuk dada d/s simetris
P : Pergerakan dada simetris d/s
P : Sinor
A : Tidak ada suara nafas tambahan
·
· Sistem
Kardiovaskuler
I : Ictus cordis tidak nampak
P
: Ictus cordis teraba pada ICS 4-5
P : Pekak
A : Tidak ada suara tambahan seperti
mur-mur
·
Sistem
Intergumen
Resiko terjadinya dekubitus karena
intoleransi aktivitas
·
Sistem Gastrointestinal
Mengalami
perubahan pola makan karena mengalami kesulitan makan sendiri akbiat gejala
klinis yang ditimbulkan.
·
Sistem
Eliminasi Urine
BAK : mengalami inkontinensia & nokturia
selama melakukan eliminasi urin
·
Sistem
eliminasi alvi
BAK : tidak lancar 3 hari 1x dengan konsistensi
keras, warn kukning bu khas feses
·
Sistem
Murkulus skeletal
Kesadaran : -Apatisi 3-4-6
·
Terjadi
kelemahan paralisis otot, kesemutan, nyeri (perasaan
tertusuk-tusuk pada bagian tubuh tertentu)
·
Sistem
Neurologis
o Terjadi perubahan ketajaman penglihatan
(diplobia), kesulitan dalam berkomunikasi (disastria)
3. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan
mobilisasi fisik b/d kelemahan, paresisi, spastisitas
2. Resiko cedera
b/d kerusakan sensori dan penglihatan
3. Perubahan
eliminasi alvi dan uri b/d disfungsi medula spinalis
4. PPP
(kehilangan memori, demetia, euforia
5. Ketidak
efektifan koping
6. Kerusakan
penatalaksanaan pemeliharaan di rumah b/d keterbatasan fisik, psikologis,
sosial.
7. Resiko
disfungsi sex b/d reaksi psikologis terhadap kondisi
Intervensi
1. Tentukan dan
kaji tingkat aktivitas sekarang dan derajat gangguan fungsi dengan skala 0-4.
R/ berikan informasi untuk mengembangkan
rencana perawtan bagi program rahabilitasi
2. Identifikasi
faktor – faktor yang mempengarhuri kemampuan untuk aktif, misalnya pemasukan
makanan yang tidak adekuat, insomnia, penggunaan obat-obat tertentu.
R/ berikan kesempatan untuk memecahkan
masalaha untuk mempertahankan / meningkatkan mobilitas.
3. Anjurkan klien
untuk melakukan perawatan diri sendiri sesuai dengan kemampuan maksimal yang
dimiliki pasien.
R/ meningkatkan kemandirian dan rasa
mobilitas diri dan dapat menurunkan perasaan tidak berdaya
4. Evaluasi
kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman dan berikan alat bantu
berjalan.
R/ latihan berjalan dapat meningkatkan
keamanan dan keefektifan pasien untuk berjalan dan alat bantu gerak dapat
menurunkan kelemahan, meningkatkan kemandirian.
5. Buat rencana
perawatan dengan periode istirahat konsisten diantara aktivitas
R/ menurunakn kelelahan, kelemahan otot
yang berlebihan
6. Lakukan
kolaborasi dengan ahli terapi fisik / terapi kerja
R/ bermanfaat dalam mengembangkan program
latihan individual dan mengindentifikasi kebutuhan alat untuk menghilangkan
spasme otot, meningkatkan fungsi motorik, emncegah / menurunkan atrofi fan
kontraktur pada sistem muskular.
2. Resiko cedera
berhubungan dengan kerusaakan sensori dan penglihatan.
Tujuan : - Suatu kecelakaan / cidera
dapat terhindarkan
·
Mengidentifikasi perbedaan tipe masalah
penglihatan yang brekenaan dengan MS
Kriteria Hasil : 1.Tipe gangguan
penglihatan dapat diidentifikasikan
2. Jarang
terjadi kecelakaan / cidera akibat gangguanpenglihatan
Intervensi
1. Identifikasi
tipe gangguan epnglihatan yang dialami klien (diplopia, nigstagmus, neuritis
optikus / penglihatan kabur)
R/ mengidentifikasi tipa gangguan visual
yang terjadi dan batasan keparahan.
2. Jelaskan
pilihan alternatif untuk mengatasio gangguan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar