Jumat, 08 Februari 2013

sitem terner


laporan fisik Sistem Terner
I.                   JUDUL PERCOBAAN
Sistem Tiga Komponen Diagram Fase Sistem Terner
II. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menggambarkan diagram fase system terner. System terner yang dimaksud adalah system yang membentuk sepasang zat cair yang bercampur sebagian yaitu campuran klorofom-air dan asam asetat.
2. Memperhatikan menentukan letak “ pleit point “ atau titik jalin pada diagram fasenya.
III. LANDASAN TEORI
Untuk sitem tiga komponen, derajat kebebasan, F = 3 – P + 2 = 5 – P. Untuk P = 1, ada 4 derajat kebebsan. Tak mungkin menyatakan system seperti ini dalam bentuk grafik yang lengkap dalam tiga dimensi,apalagi dalam dua dimensi. Oleh karena itu biasanya system dinyatakan pada sugu dan tekanan yang tetap, dan derajat kebebasan menjadi F = 3 – P, jadi derajat kebebasannya paling banyak adalah dua, dan dapat dinyatakan dalam suatu bidang. Pada suhu dan tekanan tetap, variable yang dapat digunakan unutk menyatakan keadaan system tinggal yaitu Xa, Xb dan Xc yang dihubungkan melalui Xa + Xb + Xc =1. Komposisi salah satu komponen sudah tertentu jika dua komponen lainnya diketahui(Mulyani.2001.404)
Untuk fasa tunggal bagi system tiga komponen terdapat 4 derajat kebebasan.
F = C - D + 2
= 3 - 1 + 2
= 4(tempeatur dan tekanan susunan 2 dan 3 komponen)
System tiga komponen sebenarnya banyak kemungkinannya dan yang paling umum.
 System 3 komponen yang terdiri atas zat cair yang sebagian saling campur
Ø
 System tiga komponen yang terdiri atas dua komponene padat dan satu komponen cair (Sukardjo.1997.,274)
Ø
Cara terbaik untuk menggambarkan system tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dapat dinyatakan dengan istilah % berat atau fraksi mol. Puncak-puncak dihubungkan dengan titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu Aa, Bb, Cc. titik nol dimulai dari a, b ,c dan titk tengah A, B, C menyatakan komposisi adalah 100% atau 1. Jadi garis-garis Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi komponen A, B, dan C. Lebih lanjut segitiga adalah samasisi jumlah jarak-jarak garis tegak lurus dari sembarang titik dengan segitiga ke sisi-sisi adalah konstan dan sama dengan panjang garis tegak lurus antara sudut dan pusat dari sisi yang berlawanan, yaitu 100% atau satu(Dogra.2008.473).
Pada ekstraksi dimana eluen maupun solven sedikit larut maka baik komponen dieluen maupun solven terdapat dikedua fase, yaitu fase ekstrak dan rafinat. Oleh karena itu data kesetimbangan harus menunjukkan hubungan ketiga komponen dikedua fase tersebut, atau dikenal dengan diagram terner(Anonim.2010).
Dua fase dalam kesetimbangan harus selalu bertemperatur sama. Lebih dari itu harus bertekanan sama, asalkan tidak terpisah oleh dinding keras atau oleh suatu antar permukaan yang memiliki lengkung berarti. Akhirnya sembarang zat yang dapat lalu-lalang dengan bebas diantara kedua fase itu harus memiliki potensial kimia yang sama didalamnya. Kriteria penting bagi kesetimbangan ini yang dinyatakan oleh sifat-sifat intensip T, p dan µ, langsung menuju kepada aturan fase wiiliard gibbs (Konnerth.1993.157)
Diagram fase merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan. Contoh khas diagram fase tiga komponen air, kloroform dan asam asetat. Dalam diagram fase bahwa zat tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain yang masuk maupun keluar dari system ini (Anonim.2010).
Asam asetat lebih suka pada air dibandingkan kloroform oleh karenanya bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan kelarutan air dalam kloroform. Penambahan asam asetat berlebih lebih lanjut akan membawa system bergerak kedaerah atau satu fase (fase tunggal). Namun demikian saat komposisi mencapai titik a3, ternyata masih ada dua lapisan maupun sedikit. Setelah penambahan asam asetat diteruskan, pada saat akan menjadi satu fase yaitu pada titik P. titik P disebut pleit point atau titik jalin yaitu semacam titik kritis (Tim Dosen.2010.14-15).
IV. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a. Buret 50 mL 2 buah
b. Statif dan klem 2 buah
c. Erlenmeyer 250 mL 5 buah
d. Gelas ukur 5 mL
e. Botol semprot
f. Batang pengaduk
g. Neraca analitik
h. Bunsen.
i. Piknometer 100 mL
2. Bahan
a) Kloroform (CH3COOH)
b) Asam asetat glacial (CH3COOH)
c) Aquades
d) Tissue
V. PROSEDUR KERJA
a. Pengukuran massa jenis
1. Membersihkan piknometer dan mengeringkannya dalam oven
2. Mengukur berat kosong piknometer.
3. Memasukkan air dalam piknometer sampai penuh dan kemudian menimbangnya.
4. Mengulangi kegiatan diatas dengan mengganti air dengan kloroform dan asam asetat glassial.
b. System tiga komponen
1. Menyediakan buret yang bersih dan mongering (2 buah), mengisi masing-masing dengan aquades dan asam asetat glasial.
2. Menyediakan labu Erlenmeyer 5 buah, masing-masing diisi dengan 3 mL, 4 mL, 6 mL, dan 7 mL kloroform mengerjakan satu persatu mengingat kloroform menguap dan toksik.
3. Menambahkan masing-masing 5 mL aquades, mengocok sebentar, campuran akan membentuk dua lapisan.
4. Menitrasi dengan asam asetat glacial sampai ke-2 lapisan membentuk satu fasa.
Mencatat volume asam asetat glasial yang ditambahkan “ Menitrasi sebanyak 3 kali “.
5. Mengulangi untuk laba erlenmenyer kedua dan seterusnya.
6. Membuat diagram fasa terner .
VI. HASIL PENGAMATAN
Suhu kamar 30o C = 303 K
Massa jenis air = 0,9991 g/mL
Massa jenis kloroform = 1,4474
Massa jenis as-asetat = 1,0463
Zat Cair Volume (mL)
I II III IV V
Kloroform 3 4 5 6 7
Aquades 5 5 5 5 5
CH3COOH 9,0 10,0 11,0 12,0 13,0

VII. ANALISIS DATA
Dik Bj air = 0,9991 g/mL
Bj kloroform = 1,4474 g/mL
Bj as-asetat = 1,0463 g/mL
Mm air = 18 g/mol
Mm kloroform = 119,5 g/mol
Mm as-asetat = 60 g/mol
n=
Xn=
n air =
= 0,2775 mol
1. Titrasi 1 (V kloro=3 mL dan V asam asetat =9,0 mL)
n kloro= = 0,0363 mol
n asetat= = 0,1569 mol
ntot= 0,2775 mol + 0,0363 mol + 0,1569 mol = 0,4707 mol
X air = = 0,5895
X kloro = = 0,0770
X asetat = = 0,3335
2. Titrasi II (V kloro=4 mL dan V asam asetat =10,0 mL)
n kloro= = 0,0484 mol
n asetat= = 0,1744 mol
ntot= 0,2775 mol + 0,0484 mol + 0,1744 mol = 0,5003 mol
X air = = 0,5547
X kloro = = 0,0967
X asetat = = 0,3486
3. Titrasi III (V kloro=5 mL dan V asam asetat =11,0 mL)
n kloro= = 0,0616 mol
n asetat= = 0,1900 mol
ntot= 0,2775 mol + 0,0616 mol + 0,1900 mol = 0,5291mol
X air = = 0, 5245
X kloro = = 0, 1164
X asetat = = 0, 3591
4. Titrasi 1 (V kloro=6 mL dan V asam asetat =12,0 mL)
n kloro= = 0,0727 mol
n asetat= = 0,2072 mol
ntot= 0,2775 mol + 0,0727 mol + 0,2072 mol = 0,5574 mol
X air = = 0,4974
X kloro = = 0,1304
X asetat = = 0,3717
5. Titrasi 1 (V kloro=7 mL dan V asam asetat =13,0 mL)
n kloro= = 0,0847 mol
n asetat= = 0,2267 mol
ntot= 0,2775 mol + 0,0847 mol + 0,2267 mol = 0,5889 mol
X air = = 0,4710
X kloro = = 0,1438
X asetat = = 0,3850
Table fraksi mol
Titrasi X air X kloro X asetat
1 0,5895 0,0770 0,3374
2 0,5547 0,0967 0,3486
3 0,5245 0,1164 0,3501
4 0,4974 0,1304 0,3717
5 0.4710 0,1438 0,3850

VIII. PEMBAHASAN
a. Penentuan massa jenis
Alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis dari larutan adalah piknometer. Piknometer ini dikeringkan untuk menghilangkan semua zat yang masih terdapat dalam piknometer. Apabila sudah benar-benar kering dan kosong, ditimbang berat kosongnya dan larutan yang akan diukur massa jenisnya dimasukkan dalam piknometer dan ditimbang massanya. Massa jenis dapat dihitung dari selisih massa setelah pengisian larutan dengan sebelum pengisisan larutan dibagi dengan volume piknometer. Dari hasil pengamatan diperoleh massa jenis air=0,991 g/mL, kloroform=1,4474 g/mL, asam asetat= 1,046 g/mL. dan suhu kamar pada saat itu 303 K. sedangakn menurut teori massa jenis air=0,0998 g/mL, kloroform= 1,4479, asam asetat= 1,047 pada suhu 298 K. perbedaan ini dapat disebabkan oleh suhu tempat mengukur dan kurang ketelitian dalam mengukur massa dari piknometer yang telah diisi larutan.
a.       Determination of the density of
The instrument used to measure the mass density of the solution is piknometer. Piknometer is dried to remove all substances that are contained in piknometer. When it is completely dry and empty, empty weight is weighed and measured the solution to be included in piknometer density and mass weighed. The density can be calculated from the difference in mass after filling with a solution before the solution divided by the volume filling piknometer. From the observations obtained by the density of water = 0.991 g / mL, chloroform = 1.4474 g / mL, acetic acid = 1.046 g / mL. and at room temperature was 303 K. while in theory the density of water = 0.0998 g / mL, chloroform = 1.4479, = 1.047 acetic acid at a temperature of 298 K. This difference may be caused by the temperature measuring point and the lack of accuracy in measuring the mass of the filled piknometer solution.
b. System tiga komponen
Dalam system tiga komponen digunakan tiga jenis larutan yang mempunyai sifat yang berbeda-beda, air(polar), Kloroform (nonpolar), dan asam asetat yang bersifat semipolar.ketiga zat ini digunakan karena hanya akan bercampur sebagian (menurut teori) sehingga digunakan bahan ini untuk membuktikan teori tersebut. Kloroform diukur dengan menggunakan pipet volume karena apabila menggunakan buret maka sebagian dari kloroform akan menguap, karena sifat dari kloroform yang sangat mudah menguap. Penambahan air dilakukan dengan menggunakan buret agar dapat dilakukan dengan teliti. Setelah larutan dicampur terbentuk dua lapisan yaitu air yang sifatnya polar pada bagian atas karena memiliki massa jenis yang lebih rendah (0,9991 g/mL) sedangkan kloroform yang bersifat nonpolar berada pada bagian bawah karena massa jenisnya lebih besar dari air yaitu 1,4474 g/mL.
Campuran ini kemudian dititrasi dengan asam asetat glassial agar larutan ini menjadi satu fasa, karena asam asetat glassial bersifat semipolar sehingga dapat mencampurkan dua jenis larutan yang berbeda sifat menjadi satu fasa. Titrasi dihentikan saat larutan telah menjadi satu fase yang ditandai dengan dua lapisan tadi telah menjadfi satu/saling menyatu.
b. Three-component system
In the three-component system used three types of solutions which have different properties, water (polar), Chloroform (nonpolar), and acetic acid which is semipolar. The third substance is used because it will only partially mixed (in theory) so that the use of this material to prove the theory. Chloroform was measured by using a pipette volume as when using a burette then most of the chloroform will evaporate, due to the nature of the chloroform is very volatile. The addition of water is done by using a burette to be made ​​with care. After the mixed solution is formed of two layers of the polar nature of water on the top because it has a lower density (0.9991 g / mL) while the nonpolar chloroform, which is located on the bottom because the greater density of water is 1.4474 g / mL.
This mixture is then titrated with acetic acid to this solution glassial into one phase, because acetic acid is semipolar glassial that can mix two different types of solution properties of a single phase. Titration was stopped when the solution has to be a phase that is characterized by two layers had already become one / fused together.
Dari hasil analisis data diperoleh fraksi mol air,kloroform dan asam asetat dengan volume masing masing:
Titrasi X air
Volume X kloro
volume X asetat
volume
1 0,5895(5mL) 0,0770(3mL) 0,3374(9mL)
2 0,5547(5mL) 0,0967(4mL) 0,3486(10mL)
3 0,5245(5mL) 0,1164(5mL) 0,3501(11mL)
4 0,4974(5mL) 0,1304(6mL) 0,3717(12mL)
5 0.4710(5mL) 0,1438(7mL) 0,3850(13mL)
Dari grafik terlihat bahwa fraksi mol aior menurun dengan meningkatnya volume kloroform yang digunakan dan berakibat pula pada penggunaan asam asetat yang semakin banyak. Hal ini menyebabkan fraksi mol Dario asam asetat dan kloroform yang semakin meningkat. Dari grafik terlihat bahwa titik plat point terdapat pada fraksi mol air 0,4710 kloroform 0,3850 dan air 0,1438 pada labu ke-5 (titrasi ke-5).
IX. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
1) Titik plat point terjadi pada labu ke-5 dengan fraksi mol air 0,4710 kloroform 0,3850 dan air 0,1438
2) Massa jenis air pada suhu 303 K=0,9991g/ml
3) Massa jenis kloroform pada suhu 303 K=1,4474g/ml
4) Massa jenis asam asetat pada suhu 303 K=1,0364g/ml
2. Saran
Sebaiknya mahasiswa harus teliti dalam mengukur massa piknometer dan menitrasi dan menitrasi larutan asam asetat glassial.


Daftar pustaka

Anonin.2010.Kesetimbangan Fasa dan Diagram Fasa.http://chem-is-try.com
Dogra.2008.Kimia Fisik Dan Soal-Soal.Erlangga.Bandung.
Konneth.1993.Prinsip-Prisip Kesetimbangan Kimia Edisi Keempat.UI-press Jakarta.
Mulyani,Sri.2004.Kimia Fisik I.UPI.Jakarta
Sukardjo.1997.Kimia Fisika.Bineka Cipta.Jogyakarta
Tim Dosen.2010.Penuntun praktikum Kimia Fisika I. FMIPA UNM.Makassar.

makalah sistem imun


http://dc427.4shared.com/doc/BDyQMc0C/preview_html_m70dbe947.gifMAKALAH SISTEM IMUN
PENYAKIT SKLEROSIS MULTIPEL


Di Susun Oleh:
1.      Dahlia Manda Sari
2.      Desi Astari
3.      Eka Oktavia
4.      Leni Apriliani
5.      Siti Lestari










SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATA MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
2010-2011
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN SKLEROSIS MULTIPEL

A.    Definisi
Multiple sclerosis (MS) merupakan keadaan kronis, penyakit degeneratif dikarakteristikkan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medulla spinalis.

Demielinasi menunjukkan kerusakan myelin yaklni adanya material lunak dan protein disekitar serabut-serabut saraf otak. Myelin adl. Substansi putih yang menutupi serabut saraf yang berperan dalam konduksi saraf normal (konduksi salutatory). MS merupakan salah satu gangguan neurologik yang menyerang usia muda sekitar 18-40 tahun. Insidens terbanyak terjadi pada wanita.
Istilah sklerosis multipel berasal dari banyaknya daerah jaringan parut (sklerosis) yang mewakili berbagai bercak demielinasi dalam sistem saraf.

Pertanda neurologis yang mungkin dan gejala dari sklerosis multipel sangat beragam sehingga penyakit ini tidakterdiagnosis ketika gejala pertamanya muncul.
 - Multipel Sklerosis (MS) adalah penyakit degenerati sistem saraf pusat (SSP) kronis yang meliputi kerusakan mielin (material lemak & protein dari selaput saraf)
 - MS secara umum dianggap sebagai penyakit autoimun, dimana sistem imun tubuh sendiri, yang normalnya bertanggung jawab untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit virus dan bakteri, dengan alasan yang tidak diketahui mulai menyerang jaringan tubuh normal. Pada kasus ini menyerang sel yang membentuk mielin.
 - Ms merupakan penyakit kronis dimana terjadi demielinisasi ireguler pada susunan saraf pusat / perier yang mengakibatkan berbagai derajat penurunan motorik, sensorik dan juga kognitif.
- MS merupakan penyakit kronis dari sistem saraf pusat degeratif dikarakteristikan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medula spinalis.





B.     Etiologi

Penyebab MS belum diketahui secara pasti namun ada dugaan berkaitan dengan virus dan mekanisme autoimun (Clark, 1991). Ada juga yang mengaitkan dengan factor genetic.
Ada beberapa factor pencetus, antara lain :

- Kehamilan
- Infeksi yang disertai demam
- Stress emosional
- Cedera

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyebab Multiple Sclerosis yang paling nyata adalah factor genetok (mirip kenker), tapi perkembangan dunia kedokteran terbaru membantah kesimpulan ini. Penelitian terbaru membuktikan bahwa Multiple Sclerosis
Faktor keturunan tampaknya berperan dalam terjadinya sklerosis multipel.
Sekitar 5% penderita memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang juga menderita penyakit ini dan sekitar 15% penderita memiliki keluarga dekat yang menderita penyakit ini. Faktor lingkungan juga berperan dalam terjadinya penyakit ini.
Sklerosis multipel hampir tidak pernah menyerang orang-orang yang tinggal di dekatkatulistiwa. 

C.     Patofisiologi

MS ditandai dengan inflamasi kronis, demylination dan gliokis (bekas luka).Keadaan neuropatologis yang utama adalah reaksi inflamatori, mediasi imune, demyelinating proses. Yang beberapa percaya bahwa inilah yang mungkin mendorong virus secara genetik mudah diterima individu. Diaktifkannya sel T merespon pada lingkungan.Tsel ini dalam hubunganya dengan astrosit, merusak barier darah otak, karena itu memudahkan masuknya mediator imun.





Faktor ini dikombinasikan dengan hancurnya digodendrosyt (sel yang membuat mielin) hasil dari penurunan pembentukan mielin. Makrofage yang dipilih dan penyebab lain yang menghancurkan sel. Proses penyakit terdiri dari hilangnya mielin, menghilangnya dari oligodendrosyt, dan poliferasi astrosyt. Perubahan ini menghasilkan karakteristik plak, atau sklerosis dengan flak yang tersebar. Bermula pada sarung mielin pada neuron diotak dan spinal cord yang terserang. Cepatnya penyakit ini menghancurkan mielin tetapi serat saraf tidak dipengaruhi dan impulsif saraf akan tetap terhubung.
Sebagai peningkatan penyakit, mielin secara total robek atau rusak dan akson menjadi ruwet. Mielin ditempatkan kembali oleh jeringan pada bekas luka, dengan bentuk yang sulit, plak sklerotik, tanpa mielin impuls saraf menjadi lambat, dan dengan adanya kehancuranpada saraf, axone, impuls secara total tertutup, sebagai hasil dari hilangnya fungsi secara permanen. Pada banyak luka kronik, demylination dilanjutkan dengan penurunan fungsisaraf secara progresif


D.    Manifestasi Klinis
Tergantung pada area system saraf pusat mana yang terjadi demielinasi :
1.      Gejala sensorik : paralise ekstremitas dan wajah, parestesia, hilang sensasi sendi dan proprioseptif, hilang rasa posisi, bentuk, tekstur dan rasa getar.
2.      Gejala motorik : kelemahan ekstremitas bawah, hilang koordinasi, tremor intensional ekstremitas atas, ataxia ekstremitas bawah, gaya jalan goyah dan spatis, kelemahan otot bicara dan facial palsy.
3.      Deficit cerebral : emosi labil, fungsi intelektual memburuk, mudah tersinggung, kurang perhatian, depresi, sulit membuat keputusan, bingung dan disorientasi.
4.      Gejala pada medulla oblongata : kemampuan bicara melemah, pusing, tinnitus, diplopia, disphagia, hilang pendengaran dan gagal nafas.
5.      Deficit cerebellar : hilang keseimbangan, koordinasi, getar, dismetria.
6.      Traktus kortikospinalis : gangguan sfingter timbul keraguan, frekuensi dan urgensi sehingga kapasitas spastic vesica urinaria berkurang, retensi akut dan inkontinensia.
7.      Control penghubung korteks dengan basal ganglia : euphoria, daya ingat hilang, demensia.
8.      pyramidal dari medulla spinalis : kelemahan spastic dan kehilangan refleks abdomen.


E.     Penatalaksanaan

·         Bersifat simtomatik : sesuai dengan gejala yang muncul
·         Farmakoterapi :
1.      Kortikosteroid, ACTH, prednisone sebagai anti inflamasi dan dapat meningkatkan konduksi saraf.
2.      Imunosupresan : siklofosfamid (Cytoxan), imuran, interferon, Azatioprin, betaseron.
3.      Baklofen sebagai antispasmodic
·         Blok saraf dan pembedahan dilakukan jika terjadi spastisitas berat dan kontraktur untuk mencegah kerusakan lenih lanjut.
·         Terapi fisik untuk mempertahankan tonus dan kekuatan otot


F.      Komplikasi

Ada eberapa penyakit yang menyerupai sklerosis multiple : 
·         Infeksi otak karena bakteri atau virus (penyakit Lyme, AIDS, sifilis)
·         Kelainan struktur pada dasar tengkorak dan tulang belakang (artritis berat pada leher,    ruptur diskus spinalis
·         Tumor atau kista di otak dan medula spinalis (siringomielia
·         Kemunduran spinoserebelar dan ataksia herediter (penyakit dimana aksi otot tidak teratur atau otot tidak terkoordinasi) 
·         Stroke ringan (terutama pada penderita diabetes atau hipertensi yang peka terhadap penyakit ini) 
·         Sklerosis amiotrofik lateralis (penyakit Lou Gehrig
·         Peradangan pembuluh darah di dalam otak atau medula spinalis (lupusarteritis). 



G.    Pemeriksaan Diagnosis
·         Lumbal punction : pemeriksaan elektroforesis terhadap LCS, didapatkan ikatan oligoklonal yakni terdapat beberapa pita immunoglobulin gamma G (IgG).
·         DCT Scan : gambaran atrofi serebral
·         MRI : menunjukkan adanya plak-plak kecil dan bisa digunakan mengevaluasi perjalanan penyakit dan efek dari pengobatan.
·         Urodinamik : jika terjadi gangguan urinarius.
·         Neuropsikologik : jika mengalami kerusakan kognitifif.

H.    ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
·         Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, intoleransi aktivitas, kebas, parastesia eksterna
Tanda : kelemahan umum, penurunan tonus/massa otot, jalan goyah/diseret, ataksia
·         Sirkulasi
Gejala : edema
Tanda : ekstremitas mengecil, tidak aktif, kapiler rapuh
·         Integritas ego
Gejala : HDR, ansietas, putus asa, tidak berdaya, produktivitas menurun
·         Eliminasi
Gejala : nokturia, retensi, inkontinensia, konstipasi, infeksi saluran kemih
Tanda : control sfingter hilang, kerusakan ginjal
·         Makanan / cairan
Gejala : sulit mengunyah/menelan
Tanda : sulit makan sendiri
·         Hygiene
Gejala : bantuan personal hygiene
Tanda : kurang perawatan diri

·         Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri spasme, neuralgia fasial
·         Keamanan
Gejala : riwayat jatuh/trauma, penggunaan alat bantu
·         Seksualitas
Gejala : impotent, gangguan fungsi seksual
·         Interaksi social
Gejala : menarik diri
Tanda : gangguan bicara
·         Neurosensori
Gejala : kelemahan, paralysis otot, kebas, kesemutan, diplopia, pandangan kabur, memori hilang, susah berkomunikasi, kejang
Tanda : status mental (euphoria, depresi, apatis, peka, disorientasi.
Bicara terbata-bata, kebutaan pada satu mata, gangguan sensasi sentuh/nyeri, nistagmus, diplopia
Kemampuan motorik hilang, spastic paresis, ataksia, tremor, hiperfleksia, babinski + , klonus pada lutut
·         Identitas
Pada umunya terjadi pada orang-orang yang hidup di daerah utara dengan temperatus tinggi, terutama pada dewasa muda (20-40th) dan dua kali lebih banyak pada wanita daripada pria.
·         Keluhan Utama
Muncul keluhan lemah pada anggota badan bahkan mengalami spastisitas / kekejangan dan kaku otot, kerusakan penglihatan.
·         Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien pernah mengalami pengakit autoimun.
·         Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umunya terjadi demilinasi ireguler pada susunan saraf pusat perier yang mengakibatkan erbagai derajat penurunan motorik, sensorik, dan juga kognitif

2.      Pemeriksaan Fisik

·         Keadaan Umum
Lemah, jalan goyang, kepala pusing, diplodia, kekejangan otot / kaku otot
·         T T V
·         Tekanan darah : menurun
·         Nadi : cepat – lemah
·         RR : normal
·         Suhu : normal
·         BB & TB : ormal / seusia pemeriksaan.
o     Body System
1. Sistem Respirasi
I : Bentuk dada d/s simetris
P : Pergerakan dada simetris d/s
P : Sinor
A : Tidak ada suara nafas tambahan

·         ·         Sistem Kardiovaskuler
I : Ictus cordis tidak nampak
P : Ictus cordis teraba pada ICS 4-5
P : Pekak
A : Tidak ada suara tambahan seperti mur-mur

·         Sistem Intergumen
Resiko terjadinya dekubitus karena intoleransi aktivitas

·          Sistem Gastrointestinal
Mengalami perubahan pola makan karena mengalami kesulitan makan sendiri akbiat gejala klinis yang ditimbulkan.

·         Sistem Eliminasi Urine
BAK : mengalami inkontinensia & nokturia selama melakukan eliminasi urin

·         Sistem eliminasi alvi
BAK : tidak lancar 3 hari 1x dengan konsistensi keras, warn kukning bu khas feses

·         Sistem Murkulus skeletal
Kesadaran : -Apatisi 3-4-6

·         Terjadi kelemahan paralisis otot, kesemutan, nyeri (perasaan
tertusuk-tusuk pada bagian tubuh tertentu)
·         Sistem Neurologis
o    Terjadi perubahan ketajaman penglihatan (diplobia), kesulitan dalam berkomunikasi (disastria)





3.      Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan mobilisasi fisik b/d kelemahan, paresisi, spastisitas
2. Resiko cedera b/d kerusakan sensori dan penglihatan
3. Perubahan eliminasi alvi dan uri b/d disfungsi medula spinalis
4. PPP (kehilangan memori, demetia, euforia
5. Ketidak efektifan koping
6. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah b/d keterbatasan fisik, psikologis, sosial.
7. Resiko disfungsi sex b/d reaksi psikologis terhadap kondisi
Intervensi
1. Tentukan dan kaji tingkat aktivitas sekarang dan derajat gangguan fungsi dengan skala 0-4.
R/ berikan informasi untuk mengembangkan rencana perawtan bagi program rahabilitasi
2. Identifikasi faktor – faktor yang mempengarhuri kemampuan untuk aktif, misalnya pemasukan makanan yang tidak adekuat, insomnia, penggunaan obat-obat tertentu.
R/ berikan kesempatan untuk memecahkan masalaha untuk mempertahankan / meningkatkan mobilitas.
3. Anjurkan klien untuk melakukan perawatan diri sendiri sesuai dengan kemampuan maksimal yang dimiliki pasien.
R/ meningkatkan kemandirian dan rasa mobilitas diri dan dapat menurunkan perasaan tidak berdaya
4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman dan berikan alat bantu berjalan.
R/ latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan keefektifan pasien untuk berjalan dan alat bantu gerak dapat menurunkan kelemahan, meningkatkan kemandirian.
5. Buat rencana perawatan dengan periode istirahat konsisten diantara aktivitas
R/ menurunakn kelelahan, kelemahan otot yang berlebihan
6. Lakukan kolaborasi dengan ahli terapi fisik / terapi kerja
R/ bermanfaat dalam mengembangkan program latihan individual dan mengindentifikasi kebutuhan alat untuk menghilangkan spasme otot, meningkatkan fungsi motorik, emncegah / menurunkan atrofi fan kontraktur pada sistem muskular.

2. Resiko cedera berhubungan dengan kerusaakan sensori dan penglihatan.
Tujuan : - Suatu kecelakaan / cidera dapat terhindarkan
·         Mengidentifikasi perbedaan tipe masalah penglihatan yang brekenaan dengan MS
Kriteria Hasil : 1.Tipe gangguan penglihatan dapat diidentifikasikan
2.      Jarang terjadi kecelakaan / cidera akibat gangguanpenglihatan
Intervensi
1.      Identifikasi tipe gangguan epnglihatan yang dialami klien (diplopia, nigstagmus, neuritis optikus / penglihatan kabur)
R/ mengidentifikasi tipa gangguan visual yang terjadi dan batasan keparahan.
2.      Jelaskan pilihan alternatif untuk mengatasio gangguan.