Bagian
I
PERPUSTAKAAN
A.
Latar
belakang
Zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu
yang penting karena pendidikan merupakan akara dari peradaban sebuah bangsa.
Pendidikan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap
orang agar bias menjawab tantangan kehidupan. Untuk memperoleh pendidikan,
banyak banyak cara yang kita capai, diantaranya melalui perpustakaan karena di
perpustakaan berbagai sumber informasi bias kita peroleh. Selain itu, banyak
juga manfaat lain yang dapat kita peroleh melalui perpustakaan. Ketika kita
mendengar kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan
buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini
kelihatannya benar, tetapi kalau kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal ini
belumlah lengkap karena setumpuk buku yang diatur di rak sebuah toko buku tidak
dapat disebut sebagai perpustakaan. Memang pengertian perpustakaan terkadang
rancu dengan istilah-istilah pustaka, pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu
perpustakaan. Secara harfiah, perpustakaan sendiri masih dipahami sebagai
sebuah bangunan fisik tempat menyimpan buku-buku atau bahan pustaka. Selain
itu, perpustakaan juga dapat diartikan sebagai sebuah ruang dimana di dalamnya
terdapat banyak buku yang disusun berdasadarkan sistem tertentu untuk digunakan
sebagai media dalam mencari ilmu dan wawasan bagi semua orang. Dengan semakin
berkembangnya kegiatan dan inventaris suatu buku pada sebuah perpustakaan serta
semakin bertambahnya anggota, maka diperlukan suatu sistem informasi yang dapat
menampung semua informasi mengenai data-data tersebut secara tepat.
Berdasarkan hal tersebut, dalam bab ini dibahas
secara mendalam tentang pengantar umum perpustakaan yang meliputi pengertian
perpustakaan, maksud dan tujuan pendirian perpustakaan, jenis-jenis
perpustakaan, peranan, tugas dan fungsi perpustakaan, aktifitas pokok
perpustakaan, perpustakaan sebagai disiplin ilmu dan sebagainya agar manusia
mampu mengetahui dan memahami bagaimana sebenarnya prosedur-prosedur tentang
perpustakaan.
B.
Pengertian
Perpustakaan
Dalam bahasa
Indonesia dikenal istilah “perpustakaan” (berasal dari kata Sansekerta pustaka)
artinya kitab, buku. Dalam bahasa Inggris, pembaca tentu mengenal istitah library (berasal dari kata Latin liber atau libri) artinya buku. Dari
kata Latin tersebut terbentuklah istilah librarus yang artinya tentang buku.
Dalam bahasa Belanda bibliotheek, Jerman bibliothek, Perancis bibliothrquo, Spanyol bibliotheca, Portugal bibliotheca. Semua istilah itu (berasal dari bahasa
Yunani biblia) artinya tentang buku, kitab. Dari istilah-istilah di
atas diperoleh batasan perpustakaan merupakan kumpulan buku, manuskripsi dan
bahan pustaka lainnya yang digunakan untuk keperluan studi atau bacaan,
kenyamanan atau kesenangan. (Webster’s Third Edition International Dictionary,1961).
Perpustakaan
diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan
terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang
digunakan pembaca bukan untuk dijual. (Sulistyo, Basuki ; 1991).
Ada dua unsur
utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun di zaman sekarang,
koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku tetapi bias
berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai
sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir,disusun
teratur, sehingga kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat
menemukannya. Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan
pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya
sebagai sumber informasi. (Sugiyanto,1991).
Menurut RUU
Perpustakaan pada Bab I Pasal I menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang
mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolahnya dengan cara khusus
guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara
interaksi pengetahuan. Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan
sarana bahan bacaan. Tujuan dari perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan
perguruan tinggi adalah memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar,
penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma
Perguruan Tinggi. (Wiranto dkk, 1997).
Secara umum
dapat disimpulkan bahwa pengertian perpustakaan adalah suatu institusi unit
kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya
dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat diunakan oleh pemakainya.
Namun, saat ini pengertian tradisional dan paradigm lama mulai tergeser seiring
perkembangan berbagai jenis perpustakaan, variasi koleksi dalam berbagai format
memungkinkan perpustakaan secara fisik tidak lagi berupa gedung penyimpanan
koleksi buku. Banyak kalangan terfokus untuk memandang perpustakaan sebagai
sistem, tidak lagi menggunakan pendekatan fisik. Sebagai sebuah sistem
perpustakaan terdiri dari beberapa unit kerja atau bagian yang terintegrasikan
melalui sistem yang dipakai untuk pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi
yang mendukung berjalannya fungsi-fungsi perpustakaan. Perkembangannya
menempatkan perpustakaan menjadi sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi
dan budaya. Dari istilah pustaka, berkembang istilah pustakawan, kepustakaan,
ilmu perpustakaan, dan kepustakawanan yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1.
Pustakawan adalah orang yang bekerja
pada lembaga-lembaga perpustakaan atau sejenis dan memiliki pendidikan
perpustakaan secara formal.
2.
Kepustakaan adalah bahan-bahan yang
menjadi acuan atau bacaan dalam menghasilkan atau menyusun tulisan baik berupa
artikel, karangan, buku, laporan dan sejenisnya.
3.
Ilmu perpustakaan adalah bidang ilmu
yang mempelajari dan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan baik
dari segi organisasi koleksi, penyebaran dan pelestarian ilmu pengetahuan
teknologi dan budaya serta jasa-jasa lainnya kepada masyarakat, hal lain yang
berkenaan dengan jasa perpustakaan dan peranan secara lebih luas.
4.
Kepustakawanan adalah hal-hal yang
berkaitan dengan upaya penerapan ilmu perpustakaan dan profesi kepustakawanan.
C.
Maksud
Dan Tujuan Pendirian Perpustakaan
Aktivitas utama
dari perpustakaan adalah menghimpun informasi dalam berbagai bentuk atau format
untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber informasi, sumber ilmu pengetahuan
lainnya. Untuk mencapai visi, misi, dan tujuannya perpustakaan menjalankan
aktivitas-aktifitas pokok meliputi pengembangan, pengolahan dan pelayanan
koleksi. Maksud pendirian perpustakaan adalah :
1.
Menyediakan sarana atau tempat untuk
menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus-menerus,
diolah dan diproses.
2.
Sebagai sarana atau wahana untuk
melestarikan hasil budaya manusia (ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya)
melalui aktivitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
3.
Sebagai agen perubahan (Agent of
Changes) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai
masa lalu, sekarang, dan masa akan dating.
4.
Selain itu, juga dapat menjadi pusat
penelitian, rekreasi dan aktivitas ilmiah lainnya.
Tujuan pendirian
perpustakaan adalah untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik,
terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan
sepanjang hayat (Long life education).
Cara melihat
sesuatu sebagai disiplin ilmu yaitu subyek kajian, aplikasi dan kapasitas,
metode dan hasil akhir. Ilmu perpustakaan dan informasi menurut Syhabuddin
Qolyabu (2003 ; 63) diartikan sebagai ilmu yang mempelajari dan mengkaji
rekaman informasi, struktur, dinamika dan transferan informasi, cara
memperoleh, mencatat, menyimpan dan menemukan kembali untuk didayagunakan dan
didistribusikan. Ilmu perpustakaan dapat dikatakan sebagai disiplin dapat
dilihat dari tiga dimensi, yaitu produk, proses dan masyarakat (Daoed Joesoef
1987). Disiplin ilmu menurut Thomson sebagai body of knowledge, sekelompok
konsep yang diajarkan bersama. Perpustakaan dipandang sebagai ilmu dari tiga
aspek yaitu :
1.
Ontologis, ilmu perpustakaan dapat
dikaji dari defenisi dan obyek yang menjadi kajiannya.
2.
Epistemologis, bahwa ilmu perpustakaan
memiliki kerangka pemikiran logis dan konsisten dengan argument yang tersusun
sebelumnya, menjabarkan hipotesisi sebagai deduksi kerangka pemikirannya, dan
melakukan falsifikasi dan verifikasi atas hipotesisi dan mengujinya secara
factual.
3.
Aksiologis, bahwa terbukti ilmu
perpustakaan telah membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Dengan demikian ilmu perpustakaan dapat berdiri
sebagai disiplin ilmu tersendiri. Saat ini perkembangannya terpengaruhi oleh
banyak bidang ilmu namun syarat-syarat di atas terpenuhi.
D.
Jenis-Jenis
Perpustakaan
Jenis-jenis
perpustakaan yang ada dan berkembang di Indonesia menurut penyelenggaraan dan
tujuannya dibedakan menjadi :
1.
Perpustakaan digital adalah Perpustakaan
yang berbasis teknologi digital atau mendapat bantuan komputer dalam seluruh
aktivitas di perpustakaannya secara menyeluruh. Contohnya buku atau informasi
dalam format elektrik book, piringan, pita magnetic, CD atau DVD room.
2.
Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia, selanjutnya disebut Perpustakaan Nasional, adalah Lembaga Pemerintah
Non Departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
berkedudukan di Ibukota Negara.
3.
Perpustakaan Provinsi adalah Lembaga
Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah
Provinsi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di
wilayah provinsi serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat.
4.
Perpustakaan Kabupaten/Kota adalah
Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota, yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan
perpustakaan di wilayah Kabupaten/Kota serta melaksanakan layanan perpustakaan
kepada masyarakat umum.
5.
Perpustakaan umum : Perpustakaan yang
ada di bawah lembaga yang mengawasinya. Perpustakaan umum terbagi atas :
a. Perpustakaan
Umum Kecamatan, adalah perpustakaan yang berada di Kecamatan sebagai cabang
layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat
di wilayah masing-masing.
b. Perpustakaan
Umum Desa/Kelurahan adalah perpustakaan yang berada di Desa/Kelurahan sebagai
cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi
masyarakat di desa/kelurahan masing-masing.
6.
Perpustakaan Khusus : Perpustakaan yang
diperuntukkan untuk koleksi-koleksi di toko terkenal. Contoh : Perpustakaan
Bung Hatta.
7.
Perpustakaan Lembaga Pendidikan :
perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga pendidikan (SD, SMP, SMA, PT,
dan LSM). Contohnya : Perpustakaan Universitas. Pada perpustakaan tingkat PT,
perpustakaan dapat dibagi kembali menjadi dua, yaitu : perpustakaan pusat dan
perpustakaan tingkat fakultas.
8.
Perpustakaan Lembaga Keagamaan :
Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga keagamaan. Contohnya :
Perpustakaan Masjid, Perpustakaan Gereja dan sebagainya.
9.
Perpustakaan pribadi : Perpustakaan yang
diperuntukan untuk koleksi sendiri dan dipergunakan dalam ruang lingkup yang
kecil. Contohnya : Perpustakaan Keluarga.
E.
Peranan,
Tugas, Dan Fungsi Perpustakaan
1. Peranan dan Tugas Perpustakaan
Peranan Perpustakaan
Setiap
Perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya apabila dapat menjalankan
peranannya. Secara umum peran-peran yang dapatdilakukan adalah :
a. Menjadi
media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan.
b. Menjadi
lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran
pentingnya belajar sepanjang hayat.
c. Mengembangkan
komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta
kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya.
d. Motivator,
mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.
e. Berperan
sebagai agen perubah, pembangunan dan kebudayaan manusia.
Tugas Perpustakaan
Setiap
perpustakaan memiliki kewajiban yang sudah ditentukan dan direncanakan untuk
dilaksanakan. Tugas setiap jenis perpustakaan berbeda-beda sesuai dengan
kewajiban yang ditetapkan.
2. Fungsi Perpustakaan
Pada
umumnya perpustakaan memiliki fungsi :
a. Fungsi
penyimpanan, bertugas menyimpan koleksi (informasi) karena tidak mungkin semua
koleksi dapat dijangkau oleh perpustakaan.
b. Fungsi
informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk
masyarakat.
c. Fungsi
pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar
baik di lingkungan formal maupun non formal.
d. Fungsi
rekreasi, masyarakatdapat menikmati rekreasi cultural dengan membaca dan
mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti Novel, cerita rakyat, puisi
dan sebagainya.
e. Fungsi
kultural, perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi
budaya masyarakat melalui berbagai aktivitas. Seperti pameran, pertunjukan,
bedah buku, mendongeng, seminar dan sebagainya.
F.
Otomasi
Perpustakaan
1. Pengertian Otomasi Perpustakaan
Otomasi
perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan
bantuan teknologi informasi (TI). Dengan bantuan teknologi informasi maka
beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisiensikan. Selain itu
proses pengolaan data koleksi menjadi akurat dan cepat untuk ditelusur kembali.
Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk
mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang berulang
(repetable) sudah diambil alih oleh komputer. Otomasi perpustakaan bukanlah hal
yang baru lagi di kalangan dunia perpustakaan. Konsep dan implitasinya sudah
dilakukan sejak lama, namun di Indonesia baru popular baru-baru ini setelah
perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia mulai berkembang pesat.
2. Komponen Otomasi Perpustakaan
Sebuah
sistem Otomasi Perpustakaan pada umumnya terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu :
a. Pangkalan
Data
Setiap
perpustakaan umum atau khusus pasti tidak akan terlepas dari proses pencatatan
koleksi. Tujuan dari proses ini untuk memperoleh data dari semua koleksi yang
dimiliki dan kemudian mengorganisirnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu
perpustakaan. Pada system manual, proses ini dilakukan dengan menggunakan
bantuan media kertas atau buku. Pencatatan pada kertas dan buku merupakan
pekerjaan yang sangat mudah namun juga merupakan suatu proses yang tidak
efektif karena semua data yang telah dicatat akan sangat sulit ditelusur dengan
cepat jika sydah dalam jumlah besar walaupun kita sudah menerapkan proses
peng-indeks-an.dengan bantuan teknologi informasi, proses ini dapat dipermudah
dengan memasukkan perangkat lunak pegolah data seperti : CD/ISIS (WINISIS), Ms
Access, MySQL. Perangkat lunak ini akan membantu kita untuk mengelolah pangkalan
data ini menjadi lebih mudah karena proses peng-indeks-an akan dilakukan secara
otomatis dan proses penelusuran informasi akan dapat dilakukan dengan cepat dan
akurat karena perangkat lunak ini akan menampilkan semua data sesuai criteria
yang kita tentukan.
b. User/Pengguna
Sebuah system
otomasi tidak terlepas dari pengguna sebagai penerima layanan dan seorang atau
beberapa operator sebagai pegolah system. Pada system otomasi perpustakaan
terdapat beberapa tindakan operator tergantung dari tanggung jawabnya, yaitu :
·
Supervisor
Merupakan operator dengan wewenang
tertinggi. Supervisor dapat mengakses dan mengatur beberapa konfigurasi dari
system sekaligus dapat pula melakukan proses auditing.
·
Operator Administrasi
Beberapa proses pendaftaran
anggota, pelaporan dan beberapa proses yang digunakan untuk urusan administrasi
dapat ditangani oleh operator ini.
·
Operator pengadaan dan Pengolahan
Untuk urusan pengolahan koleksi
buku dapat ditangani oleh operator dengan wewenang ini, dari proses pemasukan
data hingga proses finishing seperti cetak barcode, lidah buku dan label
punggung.
·
Operator Sirkulasi
Operator ini bertugas untuk
melayani pengguna yang hendak meminjam/memperpanjang/mengembalikan koleksi
ataupun yang hendak membayar tanggungan denda.
c. Perangkat
Otomasi
Perangkat
otomasi yang dimaksud di sini adalah perangkat atau alat yang digunakan untu
membantu kelancaran proses otomasi. Perangkat ini terdiri dari 2 (dua) bagian,
yaitu :
Ø Perangkat
Keras
Sebelum memulai proses otomasi,
sebuah perangkat keras perlu disiapkan. Yang dimaksud perangkat keras di sini
adalah sebuah komputer dan alat bantunya seperti printer, Barcode, Scanner,
dsb. Sebuah komputer sudah cukup untuk digunakan di dalam memulai proses
otomasi pada kalangan instansi perpustakaan kecil. Sedangkan untuk perpustakaan
besar maka pasti diperlukan beberapa komputer dan pelengkapnya agar pelayanan
kepada pengguna menjadi lancer. Untuk perpustakaan besar maka perlu ada
perangkat tambahan guna melengkapi perangkat seperti itu, yaitu :
·
LAN Card
Digunakan untuk mengintegrasikan
banyak komputer. Aplikasi perangkat lunak otomatisnya otomasinya biasanya
berjenis klien-server.
·
System Security Gateway
Digunakan untuk melakukan sensor
terhadap buku yang keluar masuk perpustakaan. Sensor akan bebunyi jika buku
yang dibawa pengguna tidak melewati proses sirkulasi benar.
Ø Perangkat
Lunak Otomasi (Softwere)
Sebuah perpustakaan yang hendak
menjalankan proses otomasi maka harus ada sebuah perangkat lunak sebagai alat
bantu. Perangkat lunak ini mutlak keberadaannya karena digunakan sebagai alat
pembantu mengefisiensikan dan mengektifkan proses. Ada 3 (tiga) cara memeroleh
perangkat lunak ini, antara lain :
·
Membangun sendiri dengan bantuan
developer perangkat lunak. Jika instansi anda mempunyai tenaga programmer maka
langkah pertama ini bias dilakukn karena dapat menghemat biaya membeli
perangkat lunak otomasi.
·
Menggunakan perangkat lunak gratis atau
opensource, misalnya : CDS/ISIS WINISIS, KOHA, dsb. Perangkat lunak ini bias
didapatkan dari internet karena didistribusikan secara gratis kepada kalangan
perpustakaan. Walaupun gratis, perangkat lunak ini masih banyak kekurangan dan
masih harus dimodifikasi lebih lanjut agar memenuhi kebutuhan di tempat kerja.
·
Membeli perangkat lunak komersial
beserta training dan supportnya yang dibangun oleh pihak ketiga. Perangkat
lunak komersial, merupakan hasil riset pengembangannya dan mudah untuk
diimplementasikan karena hanya perlu dilakukan perubahan fitur sedikit atau
tidak sama sekali. Training dan support selama beberapa periode waktu juga akan
diberikan oleh vendor secara penuh sehingga pengguna dapat langsung menggunakan
tanpa harus bersusah payah lagi pilihan ini dapat dipilih jika terdapat dana
untuk membeli perangkat lunak.
G.
Hal-Hal
Yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perjalanan
perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang
yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah.
Pertama,
terbatasnya ruang perpustakaan di samping letaknya yang kurang strategis.
Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit, dengan tanpa
memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Kesadaran dari pihak sekolah sebagai
penyelenggara sangatlah kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan koleksi
bahan pustaka saja. Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di perpustakaan,
sehingga perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Dengan
melihat keadaan tersebut sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang
pentingnya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan dianggap hanya sebagai
pelengkap saja.
Kedua,
keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya.
Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting.
Dengan banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di
dalam perpustakaan, kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga
kemampuan bahasa siswa dapat berkembang dengan baik dan dapat membantu anak
dalam memahami pelajaran-pelajaran lainnya. Mengingat kemampuan bahasa
merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh dalam belajar. Begitu juga
jika bahan pustakanya bermutu, maka anak akan banyak memperoleh pengetahuan
yang berguna dalam hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang banyak
dan bervariari dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka
biasanya mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari
pihak sekolah sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan
pustakanya, dengan alas an utama adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal,
anggaran untuk belanja bahan pustaka setiap tahunnya selalu ada, namun jumlah
bahan pustaka tidak pernah bertambah.
Ketiga,
terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan
sekolah yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan.
Bagian
II
KEPUSTAKAAN
A.
Umber-Sumber
Informasi Primer
Sumber primer adalah bahan orisinil
yang menjadi dasar bagi penelitian lain dengan tanpa di-interpretasi maupun
diringkan atau dievaluasi oleh penulis lain.beberapa contoh sumber-sumber
primer:
a. Jurnal
Jurnal merupakan sumber dari
bernagai macam laporan-laporan percobaan dan pengaplikasiaanya dan
diskusi-diskusi dari berbgai macam pengamatan dan kesimpulan-kesimpulan dari
pengalam yang besar, dirangkaikan dengan beberapa tinjauan pustaka,
aloran-laporan umum dan pernyataan-pernyataan berita ataupun pendapat.
Literature ini sangat nyata berbeda apabila dibandingkan dengan literature buku
lainnya. Melalui jurnal sesorang dapat memperoleh informasi-informasi.
Contohnya : jurnal kimia pertama adalah Chemischer Journal ( 1778-1784),
kemudian disebut sebagai Cell’s Chemischer Annelen ( 1784-1803).
b. seminar
seminar pada umumnya merupakan
sebuah berntuk opengajaran akademis, baik diuniversitas maupun dinerikan oleh
oleh suatu organisasi komersial atau professional. Kata seminar berasal dari
kata latin seminarum yang berarti tanah tempat menanam benih. Sebuah seminar
biasanya memiliki focus pada suatu topic yang khusus, dimana mereka yang hadir
dapat berpartisipasi secara aktif. Seminar sering kali dilaksanakan melalui
dialog dengan seorang moderator seminar,
atau melalui sebuag presentasi hasil penelitian dalam bentuk yang lebih formal.
Biasanya, para peserta. Biasanya para pesrta bukanlah seorang pemula dalam
topic yang didiskusikan ( diuniversitas, kelas-kelas seminar biasanya
disedaiakan untuk mahasiswa yang telah mencapai tingkat atas ). System seminar
memiliki gagasan untuk lebih mendekatkan mahasiswa kepda topic yang
dibicarakan. Dibeberapa seminar dilakukan juga pertanyaan dan debat. Seminar
memiliki sifat lebih informal dibandingkan system kuliah dikelas dalam sebuah
pengajaran akademis.
c. Paten
Paten adalah hak eksklusif yang
diberika oleh Negara kepada inventor
atas hasil invensinya dibidang teknologi, yang untuk Selma waktu
teretntu melaksankan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya
kepad pihak lain untuk menjalankan.
B.
Sumber-sumber
Informasi Sekunder
Sumber sekunder adalah sumber yang
mempermudah proses penemuan dan penilaian literature primer. Sumber sekunder
biasanya karya yang mengemas ulang , menata kembali, menginterpretasi ulang,
merangkum, mengindeks atau dengan cara lain “ menambah nilai “ pada informasi
baru yang dilaporkan dalam literature primer.
Beberapa contoh sumber sekunder :
a. Buku
Buku adalah kumpulan kertas atau
bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi
tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada abuku disebut
sebuah halaman . bebrapa contoh buku kimia seperti Solubilitis of Organic and
Inorganic Compounds, The Chemical Formulary volume 10.
b. Biografi
Biografi berasal dari bahasa yunani
yaitu bios yang berarti hidup, dab graphien yang berate tulis. Dengan kata lain
biografi merupakan tulisan tentang kehidupan sesorang. Biografi, secara
sederhana dikatakan sebagai sebuah kisah riwayat hidup seseorang. Biografi
dapat berbentuk beberapa baris kalimat saja, namun juga dapat berubah lebih
dari satu buku. Perbedaanya dalah biografi singkat hanya memaparkan tentang
fakta-fakta dari kehidupan sesorang dan peran pentingnya sementara biografi
yang panjang meliputi tentunya, informasi-informasipenting namun dikisahkan
dengan lebih mendetaildan tentunya ditulisakan dengan cara becerita yang baik.
Bografi menganalisa dan menerangkan kejadian-kejadian dalam hidup sesorang.
Lewat biografi akan ditemukan hubungan, keterangan, arti dari tindakan tertentu
atau misteri melingkupi hidup seseorang, serta penjelasan mengenai tindakan dan
prilakunya.
Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan
seorang tokoh terkenal atau tidak terkenal, namundemikian, biografi tentang
orang biasa akan menceritakan mengenai satu atau lebih tempat atau masa
tertentu. Biografi seringkali bercerita mengenai seorang tokoh sejarah, namun
tak jarang juga tentang orang yang masih hidup. Banyak biografi ditulis secara
kronologis. Beberapa priode waktu tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan
tema-tema utama tertentu ( misalnya masa-masa awal yang susah atau ambisi dan
pencapaian ). Walau begitu, beberapa yang lain berfokus pada topic –topik atau
pencapaian tertentu. Biografi memerlukan
bahan-bahan seperti surat-surat, buku harian, atau klipping Koran.
Macam-macam biografi :
1. Berdasarkan
sisi Penulis
a. Autobiografi.
Ditulis sendiri oleh tokoh yang tercatat perjalanan hidupnya.
b. Biografi.
Ditulis oleh orang lain, berdasarkan izin penulisan, dibagi atas:
-
Authorized biography, yaitu biografi
yang penulisannya seizing atau sepengetahuan tokoh didalamnya.
-
unauthorized biography yaitu ditulis
seseorang tanpa sepengetahuan atau izin dari tokoh didalamnya( biasanya karena
telah wafat ).
2. Berdasarkan
isinya
a. Biografi
perjalanan hidup, isinya berupa perjalanan hidup lengkap atau sebagian paling
berkesan.
b. Biografi
perjalanan karir, isinya berupa perjalanan karir dari awal karir hingga karir
terbaru, atau sebagian besar perjalan karir dalam mencapai sukses terrtentu.
3. Berdasarkan
persoalan yang dibahas
a. Biografi
Politik, yaitu penulisan tokoh-tokoh di negeri ini dari sudut politik. Dalam
bigrafi semcam ini bahan-bahan dikumpulkan biasanya riset. Namun, biografi
semacam ini kadang kal tak lepas dari kepentingan penulis atau sosok yang
ditulisnya.
b. Intelektual
biografi yang juga disusun melalui riset dan segenap temuan dituangkan
penulisnya dalam gaya penulisan ilmiah.
c. Biografi
jurnalistik ataupun biografi sastra yaitu, materi penulisan biasanya diperoleh
dari hasil wawancara terhadap tokoh yang akan ditulis maupun yang menjadi
rujukan sebgai pendukung penulisan ini lebih ringan karena Cuma keterampilandan
wawancara.
4.
Berdasarkan Penerbitnya
a. Buku sendiri. Penerbitan buku kategori ini dilakukan atas inisiatif
penerbit dengan seluruh biaya penulisan, percetakan, dan pemasaran ditanggung
oleh produsen. Biografi jenis ini biasanya memuat kisah hidup tokoh-tokoh yang
diperkirakan akan meanarik perhatian public.
b. buku sibsidi. Ongkos pembuatan buku jenis ini
sebagian biayanya ditanggung oleh sponsor . biasanya pola ini dilakukan pada
buku-buku yang diperkirakan dari segi komersil tidak akan laku atau kalaupun
biasa biasanya dijual harganya sangat tinggi sehinggta tidak terjangkau.
Contoh biografi
:
Biografi Jabir
Ibn Hayyan – Bapak Kimia Modern
Tokoh terbesar yang dikenal sebagai
“ The Father of Modern Chemistry “.Jabir Ibn Hayyan ( Keturunan Arab walupun
sebagian orang menyebutnya keturunan Persia), merupakan seorang muslim yang
ahli bidang kimia, farmasi,fisika,filosofi dan asstronomi. Jabir Ibn Hayyan (
yang hidup diabad ke 7 ) telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai
kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat
diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh
manusia. Penemuan-penemuannya dibiidang kimia telah menjadi landasan dasar
untuik berkembangnnya ilmu kimia dan teknik kimia pada saaat itu. Jabir Ibn
Hayyan lah yang menukan asakam klirida , asam nitrat asam sitrat, larutan aqua
regia ( dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melrutkan
emas.
Jabir Ibn Hayyan mampu
mengaplikasikan pengetahuannya dibidang kimia ke dalam proses pembuatan besi
dan logam lainnya, serta opencegahan karat. Dia jugalah yang pertama
mengaplikasikan penggunaan mangan
dioksida pada pembuatan gelas kaca. Jabir Ibn Hayyan juga pertama kali mencatat
tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah
yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol. Jika kita
mengetahui kelompok metal dan non metal dalam penggolongan kelompok senyawa,
maka lihatlah apa yang pertama kali dolakukan oleh Jabir. Dia mengajukan 3
kelompok senyawa berikut :
a. “ spitits “ yang menguap ketika
dipanaskanseperti camphor, arsen dan ammonium klorida.
b. “metals” seperti emas, perak , timbale,
tembaga dan besi
c. “ stones “ yang dapat dikonversi menjadi
bentuk serbuk.
Pernyataannya yang paling terkenal
adalah ‘ the first esensial in chemistry, is thatyou should perform practical
work and conduct experiments, for he who performs not practical work nor makes
experients will never attain the least degree of mastery.
c. Handbook(
buku pegangan )
buku pegangan adalah jenis referensi kerja atau
kumpulan instruksi lain, yang dimaksudkan untuk memberikan referensi siap. Buku
ini termasuk buku acuan atau literature yang sangat popular dan biasanya
mengandung data yang tersusun rapi mengenai subjek tertentu. Indeksnya biasanya
tersusun cermat, hingga kita ceoat mencari suatu rumus bobot molekul atau bobot
jenis.
d. Bibliografi
Merupakan cara pendokumentasian sumber bacaan dalam
bentuk daftar yang memuat semua karya yang menurutpendapat penulis secara
langsung atau tidak langsung berkaitan dengan isi naskah, baik yang diacu
maupun yang tidak diacu dalam teks. Dengan demikian tujuan bibliografi adalah
untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang
pernah diterbitkan.
Unsur-unsur
Bibliografi dan contoh penulisannya.
1) Nama
pengarang , yang dikutip secara lengkap
2) Judul
buku , termasuk judul tambahan
3) Data
publikasi: penerbit,tempat terbit, tahun terbit, cetakan keberapa, nomor jilit
buku, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
4) Untuk
sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan , nama majalah,
surat kabar, tanggal dan tahun.
Penyusunana BIbliografi
1) Nama
pengaranag diurut berdasarkan urutan abjad
2) Jika
tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan
3) Abjad
4) Jika
untuk seorang pengarang terdapat lebih dari suatu bahan refrensi, untuk
refrensi
5) Kedua
dan seterusnya , nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapidiganti dengan
6) Garis
sepanjang5 sampai 7 ketikan.
7) Jarak
antara baris dengan baris untuk satu refrensi adalah satu spasi. Namun ,jarak
8) Antara
pokok dengan pokok lain adalah dua spasi
9) Baris
pertama dimulai dari margin kiri. Baris
kedua dan seterusnya dari tiap pokok
10) Harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau
empatketikan
Jenis-jenis
Bibliogarafi
Jenis-jenis bibliografiyang diahsilkan dalam
pembuatan publikasi skunder akan tergantung pada jenis pustaka yang akan
didaftar, Misalnya akan dibuat
daftaryang berasal dari skripsi catalog buku yang dimiliki perpustakaan, maka
daftar tersebut dapat dinamakan daftar catalog. Sementara jika daftar yang
disusun berdasarkan judul artikel satu majalah maka daftar tersebutdapat
disebut daftar isi. Dari segi cara penyajian dan uraian deskripnya , bibliografi
dibagi menjadi:
1) Bibliografi
deskriptif, yaitu bibliografi yang dilengkapi deskripsi singkat yang didapat
dari gambaran fisiknya terteraatau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul
buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresium),
kolasi serta kata kunci dan abstrak yang tertulis.
2) Bibliografi
evaluatif yaitu bibliografi ini dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan
pustaka. Evaluasi ini biasanya mencakup
penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel. Evaluasi ini biasanya
mencakup penilaian terhadap suatu bahan pustaka atau artikel.
e. Literatur
kimia dari dunia maya
alamat
situs sumber informasi kimia :
1. Chem-Is-Try.org
situs kimia Indonesia. Chem-Is-Try .org adalah wahana yang bertujuan
memperkenalkan lebih luas tentang dunia kimia dan perkembangannya kepada
seluruh pembaca melalui sarana internet. Situs ini terdiri dari kolom profil
yang memuat profil orang-orang yang member sumbangan yang besar bagi kemajuan
kimia seperti peraih nobel kimia, peneliti dan penemuannya, dll.
2. Indonesia
Chemical Engeneering. Majari kenayakan ialah wadah informasi dan komunikasi
mahsiswa Tekhnik Kimia Indonesia dalam bentuk majalah dan forum online yang
membahs tentang kegiatan akademik dunia kampus, reportase event Teknik Kimia
nasional danregional, serba-serbi isu global teknik kimia, informasi dunia
kerja, beasiswa, penelitian dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia
teknik kimia.
Alamat direktori internet :
1. www.dmoz.org
alamat mesin pencari :
f. Kamus
Diantara buku acuan yang sangat berguna adalah kamus
kimia yang baik. Setiap peneliti memerlukan kamus yang baru dan luas. Contoh
kamus kimia adalah Dictionary of chemistry, oleh Poeker S.P ( 1984),Mc Graw
Hill Book Company New York, dll.
g. Ensiklopedia
biasanya mengandung informasi mengenai kimia secara
agak luas dan mencakup seluruh bidang kimia. Perbedaan ensiklopedia dengan
kamus ialah bahwa kamus memperhatikan kata demi kata, sedangkan ensiklopedia
memberikan informasi mengenai subjek.
h. Monograph
merupakan sebutan lain untuk buku dan digunakan
untuk membedakan terbitan tersebut dengan terbitan berseri. Monograf berisi
sati topic atau sejumlah topic yang berkaitan dan biasanya ditulis oleh satu
orang.
Bagian III
PROSES PENCARIAN DAN PENELITIAN
LITERATUR
A. Studi
Kepustakaan
Seorang peneliti telah menetapkan topik
penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan:
teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam pencarian teori, peneliti
akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang
berhubungan. Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari: buku, jurnal,
majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan sumber-sumber
lainnya yang sesuai (internet, koran dll). Keseluruhan upaya tersebut,
dikatakan sebagai upaya Studi Kepustakaan untuk penelitian.
Istilah studi kepustakaan digunakan
dalam ragam istilah oleh para ahli, diantaranya yang dikenal adalah: kajian
pustaka, tinjauan pustaka, kajian teoritis, dan tinjuan teoritis. Penggunaan
istilah-istilah tersebut, pada dasarnya merujuk pada upaya umum yang harus
dilalui untuk mendapatkan teori-teori yang relevan dengan topik penelitian.
Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera untuk disusun
secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian. Oleh karena itu studi
kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasikan teori secara
sistematis, penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang
berkaitan dengan topik penelitian.
Studi kepustakaan mempunyai beberapa
fungsi, meliputi:
- Menyediakan kerangka konsepsi atau teori untuk penelitian yang direncanakan.
- Menyediakan informasi tentang penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.
- Memberi rasa percaya diri bagi peneliti, karena melalui kajian pustaka semua konstruksi yang berhubungan dengan penelitian telah tersedia.
- Memberi informasi tentang metode-metode, populasi dan sampel, instrumen, dan analisis data yang digunakan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya.
- Menyediakan temuan, kesimpulan penelitian yang dihubungkan dengan penemuan dan kesimpulan kita.
Studi kepustakaan dari sumbernya
dibedakan menjadi dua bagian yaitu: kepustakaan konseptual dan kepustakaan
penelitian. Kepustakaan konseptual meliputi konsep-konsep atau teori-teori yang
ada pada buku-buku dan artikel yang ditulis oleh para ahli yang dalam
penyampaiannya sangat ditentukan oleh ide-ide atau pengalaman para ahli
tersebut. Sebaliknya kepustakaan penelitian meliputi laporan penelitian yang
telah diterbitkan baik pada jurnal maupun majalah ilmiah.
Bagi para pemula disarankan untuk
menggunakan studi kepustakaan yang berasal dari kepustakaan konseptual, untuk
lebih memudahkan dalam merangkum dan mengkategorikan teori, sesuai dengan
kebutuhan pada saat akan membuat kerangka konseptual.
Berdasarkan pada hal tersebut di atas, maka ada beberapa
strategi dalam menyampaikan studi kepustakaan:
- Ungkapkan kajian pustaka yang benar-benar terkait erat dengan variabel penelitian.
- Ungkapkan kajian pustaka dengan urutan dari mulai paparan variabel bebas sampai dengan variabel terikat atau ungkapkan dari variabel yang cakupannya umum dan luas ke arah variabel yang spesifik. Tentu saja secara luas dan nampak saling menyapa antar paparan variabel tersebut dan bukan merupakan kumpulan kutipan sehingga tidak menjadi suatu pola pemikiran yang menyeluruh.
- Dapat diungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik sampel dan demografinya, bila memang dibutuhkan.
B. Kerangka
Konsep
Penentuan kerangka konseptual oleh
peneliti akan sangat membantu dalam menentukan arah kebijakan dalam pelaksanaan
penelitian. Kerangka konseptual merupakan kerangka fikir mengenai hubungan
antar variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian atau hubungan antar
konsep dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang
telah diuraikan pada studi kepustakaan.
Konsep dalam hal ini adalah suatu
abstraksi atau gambaran yang dibangun dengan menggeneralisasikan suatu
pengertian. Oleh karena itu, konsep tidak dapat diamati dan diukur secara
langsung. Agar supaya konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep
tersebut harus dijabarkan terlebih dahulu menjadi variabel-variabel.
Dengan adanya kerangka konseptual akan bermanfaat bagi:
- Minat penelitian akan lebih terfokus ke dalam bentuk yang layak diuji dan akan memudahkan penyusunan hipotesis.
- Memudahkan identifikasi fungsi variabel penelitian, baik sebagai variabel bebas, tergantung, kendali, dan variabel lainnya.Contoh “pendidikan” adalah konsep. Agar dapat diukur maka dijabarkan dalam bentuk variabel, misalnya “tingkat pendidikan atau jenis pendidikan”. “Ekonomi keluarga” adalah konsep, maka diubah menjadi variabel “tingkat penghasilan”.
Kedua konsep tersebut dapat disebut
sebagai variabel bebas. Sedangkan konsep lainnya dapat disebut sebagai variabel
terikat, misalnya perilaku membuang sampah. Cara yang terbaik untuk
mengembangkan kerangka konseptual tentu saja harus memperkaya asumsi-asumsi
dasar yang berasal dari bahan-bahan referensi yang digunakan. Hal ini dapat
diperkuat dengan mengadakan amatan-amatan langsung pada lingkup area masalah
yang akan dijadikan penelitian. Dengan demikian kerangka konseptual yang dibuat
merupakan paduan yang harmonis antara hasil pemikiran dari konsep-konsep
(deduksi) dan hasil empirikal (induksi).
Pola berpikir deduksi adalah proses
logika yang berdasar dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan
menggeneralisasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu
yang berciri sama dengan fenomena yang bersangkutan. Pola pikir induksi adalah
proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi menuju kepada
suatu teori. Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan
fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah menjadi suatu rangkuman
hubungan atau suatu generalisasi.
C. Merumuskan
Hipotesis
1.
Pengertian hipotesis
Menyusun landasan teori juga merupakan
langkah penting untuk membangun suatu hipotesis. Landasan teori yang dipilih
haruslah sesuai dengan ruang lingkup permasalahan. Landasan teoritis ini akan
menjadi suatu asumsi dasar peneliti dan sangat berguna pada saat menentukan
suatu hipotesis penelitian.
Peneliti harus selalu bersikap terbuka
terhadap fakta dan kesimpulan terdahulu baik yang memperkuat maupun yang
bertentangan dengan prediksinya. Jadi, dalam hal ini telaah teoritik dan temuan
penelitian yang relevan berfungsi menjelaskan permasalahan dan menegakkan
prediksi akan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah
bahwa hipotesis penelitian dapat dirumuskan melalui jalur:
- Membaca dan menelaah ulang (reviu) teori dan konsep-konsep yang membahas variabel-variabel penelitian dan hubungannya dengan proses berfikir deduktif.
- Membaca dan mereviu temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan penelitian lewat berfikir induktif.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan
hubungan apa yang kita cari atau ingin kita pelajari. Hipotesis adalah keterangan
sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Oleh karena itu,
perumusan hipotesis menjadi sangat penting dalam sebuah penelitian.
2. Manfaat
Hipotesis
Penetapan hipotesis dalam sebuah
penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:
- Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
- Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
- Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
- Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu kualitas manfaat dari
hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
- Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
- Imajinasi dan pemikiran kreativ dari si peneliti.
- Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.
- Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.
3. Ciri hipotesis yang baik
Perumusan hipotesis yang baik dan benar
harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
- Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
- Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
- Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
- Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
- Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
4.
Menggali hipotesis
Berdasar pada paparan
di atas, maka tentu saja merumuskan hipotesis bukan pekerjaan mudah bagi
peneliti. Oleh karena itu seorang peneliti dituntut untuk dapat menggali
sumber-sumber hipotesis. Untuk itu dipersyaratkan bagi peneliti harus:
Memiliki banyak informasi tentang masalah yang akan
dipecahkan dengan cara banyak membaca literatur yang ada hubungannya dengan
penelitian yang sedang dilaksanakan; Memiliki kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang
tempat, objek, dan hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang
sedang diselidiki;
Memiliki
kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang
sesuai dengan kerangka teori dan bidang ilmu yang
bersangkutan.
Dapat
disimpulkan
bahwa penggalian sumber-sumber hipotesis dapat berasal dari:
- Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam yang berkaitan dengan fenomena.
- Wawasan dan pengertian yang mendalam tentang suatu fenomena.
- Materi bacaan dan literatur yang valid.
- Pengalaman individu sebagai suatu reaksi terhadap fenomena.
- Data empiris yang tersedia.
- Analogi atau kesamaan dan adakalanya menggunakan imajinasi yang berdasar pada fenomena.
Hambatan atau kesulitan dalam
merumuskan hipotesis lebih banyak disebabkan karena hal-hal:
- Tidak adanya kerangka teori atau tidak ada pengetahuan tentang kerangka teori yang jelas.
- Kurangnya kemampuan peneliti untuk menggunakan kerangka teori yang ada.
- Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk merumuskan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.
D.
Cara Pencarian Sumber Literatur
Cara pencarian kepustakaan dapat
dilakukan secara manual atau secara online. Jika dilakukan secara manual maka
maka peneliti harus mengunjungi perpustakaan, 
(yang
mirip dengan penggunaan OR pada logika Boolean), dan PHRASE
yang mencarikan dokumen yang mirip atau
berdekatan dengan yang dicarinya.
Karena tidak adanya
sensor dalam internet, maka kita perlu mengevaluasi








1. Identifikasi sumber informasi
Banyak
cara dan sarana yang dapat dipakai peneliti untuk mengakses


Sehingga,
sumber-sumber informasi yang ditemukan bisa merupakan sunber-

Adanya suatu sumber
ditemukan, dan peneliti memutuskan akan untuk

topic, catatan bibliografis disusun
menurut abjad pengarang atau judul (dalam hal tidak ada pengarang).
Bagian
IV
PERDAGANGAN
LITERATUR
A. Pengertian
Kepustakaan
perdagangan adalah bagian penting dari literatur kimia: pustaka perdagangan
tersebut sebagai penyedia banyak informasi berharga yang tidak tersedia di
tempat lain. Ini adalah sumber utama informasi secara komersial. Tentang bahan
kimia, materi, proses, peralatan, dan aparatur dalam kasus baru adalah
satu-satunya sumber untuk jangka waktu yang cukup.
B. Jenis pustaka perdagangan
Salah
satu jenis pustaka perdagangan adalah jurnal perdagangan. Jurnal-jurnal/majalah
perdagangan ini berfungsi sebagai media iklan dan menyediakan informasi bisnis
dan komersial dan beberapa informasi teknis. Majalah/jurnal kimia meliputi
publikasi perdagangan tentang informasi kimia baru; mereka tidak memisahkan
bisnis dan informasi komersial. Sebuah bagian yang terakhir ditutupi oleh
pengindeksian serials, seni industri teknik indeks dan indeks, tetapi sebagian
besar tidak. Metode bisnis, praktek ekspor dan impor, asuransi resiko,
kecelakaan industri, kondisi pasar, harga barang, dan faktor serupa mungkin
penting semua hubungannya dengan pekerjaan seorang ahli kimia industri atau
operasi bisnis kimia; ini sangat tidak sempurna tercakup oleh pengindeksian.
C. Contoh bentuk sumber informasi dari
pustaka perdagangan
a. Buletin
teknis, ”majalah perdagangan rumahan” dan katalog manufaktur, katalog, pembeli
paduan dan pengarah yang dikompilasi oleh penerbit, katalog perdagangan, dan
iklan. Teknis pembuatan buletin produk baru dan orang-orang yang telah memproduksi
selama beberapa waktu adalah sumber informasi berharga. Dalam hal ini sifat
fisik bahan kimia, buletin ini sering meringkas senyawa kimia, memberikan
informasi lengkap pada properti, katakan bagaimana caranya menggunakannya dalam
berbagai cara, dan beri referensi literatur. Untuk peralatan dan aparat,
buletin sering meringkas teori volved dalam kontruksi dan operasi selain
memberikan petunjuk tentang cara menggunakan dan memeliharanya. Buletin teknis
bervariasi dalam ukuran dari beberapa halaman. Yang merupakan sumber informasi
yang paling hampir lengkap tentang produsen dari berbagai produk, alamat, nama
dagang, dan nama jurnal perdagangan mereka (majalah perdagangan rumahan).
b. Iklan
adalah sumber informasi berharga. Iklan tersebut sering memberikan petunjuk
pertama bahwa suatu senyawa kimia, material, atau sebuah peralatan yang sedang
diproduksi. Fakta bahwa paten/milik telah diperoleh tidak selalu berarti bahwa
produk akan segera di pasar. Banyak paten tidak pernah digunakan, ada beberapa
alasan untuk ini. Kemudian juga, pembuatan banyak senyawa kimia yang tidak dilindungi oleh hak paten dimana senyawa
dapat diketahui selama bertahun-tahun tapi hanya disiapkan di sebuah
laboratorium penelitian. Industri menggunakan yang ditemukan untuk banyak
senyawa tersebut dan produksi dalam skala besar hasil. Juga produsen kimia
terus-menerus mencari kegunaan bahan kimia baru bahwa mereka telah memproduksi
selam bertahun-tahun. Adapun peralatan dan aparatur, perbaikan di bagian yang
ada biasanya diiklankan. Pabrik tidak dapat mengeluarkan katalog baru dari
semua produk-produknya lebih dari sekali setahun. Cara terbaik untuk memeriksa
“iklan” adalah ketika iklan tersebut muncul dalam jurnal/majalah kimia.
Kebanyakan majalah yang membawa sejumlah iklan memiliki daftar pengiklan dalam
setiap masalah. Ini adalah bantuan dalam menemukan produk-produk dari produsen
tertentu.
c. Publikasi
cetak meliputi, media perdagangan, buletin statis perdagangan, buletin statis
berjangka, dan catatan perdagangan.
D. Contoh buku pustaka perdagangan
(dalam hal kimia)
The
Chemical Week Buyer’s Guide adalah edisi khusus kimia berkala Mingguan,
sebelumnya disebut Chemical Industries (sekarang diterbitkan oleh Mc Graw-Hill,
New York). Ini adalah buku yang terdiri lebih dari 800 halaman, biasanya
dikeluarkan pada bulan September. Ada empat bagian yaitu: sebuah direktori,
produsen, distributor, dan dealer. Sebuah daftar yang sangat luas tentang kimia
dan bahan baku bersama dengan sifat-sifat dan pabriknya, direktori peralatan
untuk kedua pabrik dan klaboratorium digunakan, dan sebuah direktori nama
dagang. Kata direktori kimia dari Importer, Eksporter, dan Produsen bahan
kimia, obat-obatan, plastik, dan minyak, yang dikeluarkan oleh Atlas Pub. Co,
New York, juga sering berguna.
Banyak
produsen menerbitkan majalah berkala yang dikenal sebagai majalah perdagangan
rumahan; dasarnya adalah sebuah bentuk iklan. Beberapa majalah perdagangan
tersebut berisi informasi teknis yang berharga; beberapa yang disarikan oleh
Chemical Abstracts untuk informasi kimia baru. Mereka berguna untuk menjaga
produk perusahaan produsen dan untuk mendapatkan informasi mengenai
penggunaannya. Mereka juga mengumumkan produsen buletin teknis dan katalog.
Beberapa majalah perdagangan juga mencakup abstrak dan/atau ulasan artikel.
Sejunlah besar dari mereka saat ini banyak yang meminati kimia.
Daftar
judul juga diterbitkan dalam The Journal
of Chemical Education. Beberapa rumah organ kimia paling berguna telah
diterbitkan selama bertahun-tahun. Sejumlah rumah organ yang lebih berguna
tercantum dalam Ulrich’s Periodical Directory (New York, Bowker), yang telah
diklasifikasikan. Daftar yang paling lengkap dari mereka adalah Printers ‘Ink
Direktori House organ, 3ed ed., 1951 (Printers ‘Ink Pub. Co, new York). Daftar
ini terdiri atas 5.532, tetapi tidak diklasifikasikan menurut subjek.
Pengetahuan tentang produk yang diproduksi dapat diperoleh dari direktori dan
panduan pembeli.
Sebuah
perkembangan terbaru dalam penerbitan sastra perdagangan adalah bahwa beberapa
produsen merilis beberapa buku teknis mereka untuk diterbitkan oleh p[enerbit
buku. Satu contoh dari hal ini adalah seri Esso, diterbitkan dan dijual oleh
Van Nostrand, New York. Buku-buku ini dirancang untuk digunakan dalam
perusahaan; mereka tidak benar-benar
mengungkapkan rahasia “tahu-bagaimana”, tapi mereka mengandung informasi ilmiah
dan teknis berharga. Sebuah komentar mengenai kebijakan baru ini berjudul
“Untuk Menerima, Kita Harus Berikan (To Receive, We Must Give)”.
E. Publikasi Tekhnis
Asosiasi
perdagangan mengeluarkan sejumlah besar publikasi teknis, banyak di antaranya
adalah perhatian terhadap kimia. Beberapa diantanya hanya dibagikan kepada
anggota asosiasi yang mengeluarkannya;
yang lain diberikan atau dijual kepada semua orang yang tertarik kepadanya. Ini
termasuk abstrak jurnal, buletin khusus,
survei, laporan, dan buku. Sebagian besar materi yang tersedia untuk distribusi
kepada publik diumumkan di bagian yang sama dari jurnal kimia sebagai produsen
buletin dan katalog. Beberapa asosiasi perdagangan ini juga mempertahankan
laboratorium penelitian. Untuk informasi tentang asosiasi perdagangan, kegiatan
dan publikasi mereka, lihat Alam Asosiasi dari Amerika Serikat (Natural
Assiciations of The United State) oleh Jay Judkins; ini adalah publikasi dari
US Departement of Commerce (Kantor Perdagangan dalam Negeri), Washington DC,
Goverment Printing Office, 1949, 634 hlm.
Perpustakaan
jarang memiliki koleksi ekstensif mengenai sastra/istilah perdagangan. Hal ini
membutuhkan banyak ruang dan katalogisasi pengindeksan khusus, serta waktu dari
beberapa pustakawan untuk memelihara koleksi besar dan tetap terkini (up to
date). Jadi diperlukan materi yang dapat melihat secara langsung dari
orang-orang yang menerbitkannya dalam kebanyakan kasus. Hampir semua itu adalah
gratis.
Carnegie
Library of Pittsburgh (Departemen Teknologi), Pittsburg 13, Pa, telah
mempertahankan koleksi yang sangat luas dari semua jenis sastra/istilah
perdagangan selama bertahun-tahun; itu akan menjawab permintaan akan informasi.
Untuk menjumlah semuanya, industri kimia dan insinyur kimia tidak mampu untuk
mengabaikan sastra/istilah perdagangan. Kimiawan, lain akan menemukannya
berguna dalam berbagai cara. Dalam kasus masalah industri baru dan
masalah-masalah khusus yang tidak begitu baru, hal yang sering terjadi bahwa
keterangan terbaik tersedia dan dicetak dalam literatur perdagangan. Thomas,
V.P., Printers ‘Ink 217, 37-39 (1946).
F. Tabel Contoh Publikasi Perdagangan
Ekspor Non Migas
|
|||
Tahun
2010
|
Nilai
(Milyar US$)
|
Naik/Turun
|
|
Jan
|
9.23
|
14,87%
|
|
Jan-Jan
|
9.23
|
14,87%
|
|
Grafik
|
|||
Inflasi
|
Februari
0,3%
Jan-Feb 2010
1,14%
|
Kurs-23/03/2010
|
||
Mata Uang
|
Jual
|
Beli
|
US$
Sin$
HK$
JAP$
AUS$
THB
EUR€
UK₤
|
9,162
6,556
1,181
101
8,376
284
12,385
13,752
|
9,070
6,484
1,169
100
8,289
280
12,257
13,610
|
Sumber: Bank
Indonesia
|
||
Bagian
V
INDEKS
Latar
Belakang
Buku-buku
ilmiah biasanya memuat indeks pada halaman-halaman akhirnya. Indeks ini
maksudnya untuk memudahkan pembaca yang hendak memriksa atau membaca bagian
yang membahas tenang orang atau subjek dalam buku tersebut. Ada juga buku ynag mempunyai dua macam
indeks, yaitu indeks nama dan indeks subjek. Karena maksudnya menolong pembaca
maka indeks sebaiknya lengkap, tetapi dikalangan para ahli terdapat pendapat
yang diterima secara unanim bahwa indeks yang terlalu lengkap selalu memasukkan
segala hal yang sama sekali tidak penting sama tak bermanfaatnya dengan indeks
yang tidak lengkap, karena itu dalam menyusun indeks orang harus memperhatikan
penting atau tidaknya suatu nama atau subjek.
Menyusun indeks nama, timbul lagi cara penulisan
nama di Indonesia. Namun yang lucu, banyak indeks (banyak juga susunan nama
dalam buku yang disebut “leksikon” pada judulnya) yang disusun persis menurut
cara orang-orang bersangkutan menulis namanya. Termasuk huruf-huruf inisial
yang ditulis di depan namanya sehingga Navis didaftarkan pada A.A navis (tanpa
didaftarkan apa kepanjangan dari AA yang terdapat disitu), Moeljanto pada D.S
Moelljanto (juga tanpa keterangan apa arti D.S itu), Rustandi Karatakusumah
pada Mh. Rustandi Karatakusumah (juga tanpa keterangan disitu bahwa Mh. disitu
kepanjangan dari Muhammad nama yang sering ditambahkan pada nama lelaki muslim)
padahal pembaca tidak selalu mengingat inisial seseorang yang ditaruh di depan
namanya. Orang ingat pada Navis karena ia tidak pernah menggunakan nama lengkap
Ali Akbar pada karangan-karangannya. Karena itu kalau seseorang ingin mencari
sesuatu tentang dia pada suatu buku, niscanya akan mencarinya pada Navis,
artinya pada huruf N bukan pada huruf A.
Kerancuan demikian maka indeks sekarang banyak
yang dimuat dalam buku-buku ilmiah kita itu menjadi kurang bermanfaat.
Maksudnya adalah untuk menolong pembaca yang ingin mencari sesuatu nama atau
subjek yang dibahas dalam buku itu dengan mudah dan bukan hanya agar buku itu
kelihatan ilmiah. Hal inilah yang melatarbelakangi dibuatnya makalah ini.
A. Definisi Indeks
Indeks merupakan
kumpulan informasi tentang nama, konsep, gagasan, terminologi, dan pengertian
terhadap suatu peristiwa yang dapat membuat setiap pembaca secara cepat
memperoleh gambaran dan ide yang diinginkannya. Indeks takkan bercerita kembali
tentang isi pokok buku,tetapi hanya merupakan koleksi dari poin-poin tertentu
di beberapa halaman yang memuat tentang isu-isu tersebut. Sebuah indek yang
baik biasanya merefleksikan teks buku tersebut secara akurat, dan pembaca dapat
mengantisipasi beberapa gagasan tertentu yang kemungkinan lebih atau kurang
diketahuinya dari si pengarang (Wolman.1991:146)
Indeks berguna untuk
menghindarkan terpendamnya data dan informasi lain. Perindeksan tergantung macam publikasi.
Misal untuk Majalah Abstrak memerlukan perindeksan yang baik, sedang majalah
dengan karangan orisinil dapat lebih sederhana. Perlu diingat bahwa seorang
ahli kimia harus mengeenal sifat, rencana umum dari karya referensi umum dalam
bidangnya juga harus mengenal ciri dari karya referensi umum dalam bidangnya
juga harus mengenal cirri dan kekurangan perindeksan harga-harga ini
(Retno.2000:43)
B.
Ciri-ciri
Umum
Indeks yang baik
memberikan cara yang dapat dipercaya dalam menemukan tempat dari sesuatu
informasi dengan usaha minimum. Indeks ini ada dalam sumber yang tercakup dalam
indeks itu. Indeks yang ideal harus diteliti, lengkap, cukup tepat, enak
digunakan. Kesalahan yang biasa dijumpai dalamindkes yang dapat meyebabkan
indeks tidak teliti:
1. Pembuatan
indeks masih mencamtumkan halaman lama, walau sudah menginjak halaman baru
2.
Salah tulis/salah cetak misalnomor
halaman 1347 ditulis 1437 dan seterusnya.
Jika
menemui keadaan demikian hendaknya dicek dengan indeks silang (indeks pengarang
dan indeks subyek merupakan indeks silang satu terhadap yang lain). Indeks yang
lengkap misal indeks pengarang,indeks rumusdan indeks nomor paten. Indeks
subyek kulit untuk dapat dibuat lengkap.
C.
Petunjuk
umum pemakaian indeks
Penggunaan indeks
adalah suatu seni , tergantung pada pengalaman. Indeks tidak perlu tergantung pada
sesuatu pengantar terpisah yang menjelaskan system indeks tersebut. Kalau ada
pengantar, maka pengantar harus diperiksa dengan teliti. Indeks nama dan indeks
subyek diandaikan disusun secara alphabet. Indeks paten secara logis. Indeks
rumus impirik dan indeks cincin biasanya memerlukan keterangan. Maka harus
dibaca keterangan tersebut untuk mengetahui sistem yang dipakai. Pemeriksaan
indeks harus habis-habisan, jangan cepat puas dan sering mengulang memeriksa
indeks menjumpai suatu hal yang semula tak terlihat.
Indeks
subyek terutama dalam mencari harus panjang akal lebih-lebih kalau indeks
silang tigdak ada. Secara singkat dikatakan bahwa pencari indeks harus siap
akan subyek yang dicari, tekun,panjang akal dan mengumpulkan segala kemungkinan (Retno.2000:43-44)
Dalam bidang kimia dikenal Indeks
Chemical Abstracts memuat abstrak yang singkat dan bermanfaat dari makalah
majalah, makalah konperensi yang diterbitkan, laporan teknik, disertasi dan
paten, demikian pula pengumuman mengenai buku kimia. Semua abstrak dan
pengumuman memuat keterangan kepustakaan yang lengkap, yang diperlukan untuk
menentukan dokumen aslinya (Anonima.2011).
Chemical
Absract adalah sistem dinamis yang beruubah terus selama bertahun-tahun.
Perubahan itu antara lain mempengaruhi kebijakan dalam penyusunan indeksnya.
System indeks yang ada mengandung jilif dan indeks bersama berikut : Indeks
Pengarang, Indeks Zat Kimia, Indeks Subjek Umum, Indeks Rumus, Indeks Sistem
Cincin, dan Indeks Paten. Sebelum tahun1972 hanya terbit indeks tunggal. Indeks
subjek itu mencakup senyawaan kimia dan hal umum yang disusun dalam satu urutan
berabjad tunggal. Indeks paten menggantikan indeks Patena Angkawi dan
Kongkordan Paten yang terbit sebbelum tahun 1981 (Anonimb.2011).
Hasil Dari
Literatur
A.
|
|
|
![]() |
B.
Indeks
Subjek
A L
Adsorpsi, Laju
reaksi, 99, 100, 104, 124
Koloid,
289 Larutan
elektrolit, 210
Aerosol, 284, 285 MN
Amfiprotik, Medium disperse, 283
sifat,
196 Mekanisme
reaksi, 122, 125
Alkalosis, 244 O
BC Orbital d, 13
Basa, 173, 195, 199 Orde reaksi
dua, 114
Bentuk, PQ
Molekul,
28 Perubahan
entalpi, 64
Orbital,
12, 37, 46 pH,
174, 272, 273
Bilangan
Kuantum, pOH,
176
Azimuth,
9 R
Magnet,
10 Reaksi,
Spin,
16 asam
basa, 211
Utama,
8 penetralan,
191, 228
D S
Derajat ionisasi, 179 Selaput
semipermeable, 293
Dialisis, 293 Silika, 44
Dialisator, 293 T
E Termokimia, 85
Efek Tyndall, 287, 288 Titik ekivalen,
222, 228
Elektron Valensi, 21, 46 UVWXYZ
FG Valensi
basa, 172
Fase terdispersi, 283 Valensi asam,
173
Gaya sintesis, 83
H
Hibridisasi, 35
Hipotesis Louis de Broglie, 6
IJ
Indicator asam basa, 170, 187
Intan, 44
Ion senama, 269
K
Kalor, 56, 558, 59
Kalorimeter bom, 70
Katalis, 1100, 124, 151
Kelarutan, 266, 272, 273
Kemolaran, 94, 124
C.
Indeks Gambar
dan Tabel Penting
Afinitas electron unsur-unsur 243
Asam-asam amino jilid
2
Aturan-aturan kelarutan 93
Bilangan oksidasi unsur-unsur 104
Diagram alir analisis kualitatif jilid
2
Energy bebas pembentukan standar
dari unsur dan senyawa jilid 2
Entropi-entropi standar unsur
senyawa jilid
2
Gugus-gugus fungsi organic 355
Indicator asam basa jilid
2
Jari-jari atom 236
Jari-jari ion 239
Kalor lebur molar 392
Kalor penguapan molar 388
Keelektronegatifan unsur-unsur 268
Konstanta hasil kali kelarutan 218
Nama-nama kation dan anion
anorganik umum 46
Suhu kritis zat 391
D. Indeks
Artikel Majalah
Jakarta:
Pusat Dokumentasi dan
Perpustakaan Departemen Penerangan, 1979.
v, 60 hlm.; 24 cm.
Notasi
Terbitan indeks
artikel ini merupakan hasil pengolahan data dan penyajian informasi dalam
rangka pengembangan dokumentasi penerangan yang termasuk dalam program Proyek
Penelitian dan Pengembangan Departemen
Penerangan. Sasaran utama terbitan ini adalah untuk menunjang
kelancaran tugas-tugas penerangan baik
bidang administratif dan operasional, dengan harapan dapat membantu pimpinan
memecahkan persoalan atau aspirasi situasi berkaitan pengembangan penerangan
dan membantu menyediakan bahan bagi juru penerangan dalam pelaksaan tugasnya.
Cakupan informasi terbitan ini meliputi artikel dari
berbagai majalah dalam dan luar negri meliputi masalah penerangan /
komunikasi, jurnalistik/pers, media
massa, IPOLEKSOSBUDHANKAM. Sedangkan informasi dalam setiap entri meliputi
penulis, judul artikel, judul majalah
beserta nomor, tahun dan halaman di mana dimuat.
Susunan isi
terbitan secara keseluruhan, setelah pengantar dan pendahuluan, disampaikan
daftar isi langsung diikuti dengan susunan entri indeks. Pada bagian akhir dilengkapi dengan indeks penulis dan
badan korporasi yang merujuk ke nomor
entri, serta daftar majalah yang diindeks. Terbitan ini menggunakan bahasa Indonesia untuk
menyatakan semua penjelasan termasuk judulnya.
Dilihat dari susunan isinya, indeks ini sudah menunjukkan
fungsi dan tugas lembaga induknya. Hal
ini terlihat dari bab.1,2 dan 3 tentang
penerangan, komunikasi, jurnalistik dan media massa. Meski demikian indeks ini juga meliput masalah umum seperti
agama, pancasila, politik, hukum, ekonomi
dll. yang termasuk dalam Ipoleksosbudhankam dalam dan luar negeri. Dilihat dari
penanggungjawab dan penerbit indeks ini adalah lembaga resmi pemerintah, sehingga informasi yang
disampaikan cukup dapat dipercaya. Dari segi fisik, terbitan ini hanya menggunakan
kertas Koran, sehingga kurang tampak memperhitungkan ketahanan fisiknya.
E. Indeks Terjemahan (Terbitan dalam Negeri 1972-1982)
Asiah Janna Saragih, and W.W. Sayangbati-Dengah (editor).
Jakarta: Perpustakaan Nasional, 1985.
ix, 340 hlm.; 25
cm.
Notasi
Terbitan ini merupakan lanjutan kegiatan Pusat
Pembinaan Perpustakaan dalam bentuk
pengiriman kartu katalog terbitan
terjemahan ke Unesco yang terhenti sejak tahun 1975. Sasaran yang ingin dicapai adalah memenuhi
kelengkapan data tentang terbitan
terjemahan di Indonesia dengan mendaftar sekitar 2500 judul buku.
Terbitan yang didaftar meliputi semua terbitan
terjemahan yang terbit antara tahun 1972
sampai tahun 1982, dari berbagai disiplin
ilmu pengetahuan dan berbagai bahasa asing di Indonesia. Adapun cakupan informasi yang disampaikan adalah
pengarang asli, penerjemah/penyadur,
judul buku asli, judul terjemahan / saduran, cetakan ke..., kota domisili
penerbit, nama penerbit, tahun terbit dan keterangan fisik buku. Disertakan
pula kode bahasa aslinya, seperti
Fr=Franche , Eng= English dll.
Terbitan ini disusun berkelompok menurut
disiplin ilmu, seperti karya umum, filsafat, agama dst. Setelah itu pada setiap
kelompok, entri disusun berdasarkan abjad nama pengarang aslinya. Kode bahasa asli dan judul asli dicantumkan pada akhir
setiap entri. Pada halaman akhir
disertakan indeks nama pengarang dan penerjemah/penyadur yang mengacu ke nomor
entri lengkapnya. Pengantar digunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Penyusun katalog
ini adalah mereka yang sudah lama bekerja di perpustakaan, sudah memahami
pelayanan dan kolkesi yang ada. Sedangkan Perpustakaan Nasional merupakan
lembaga yang dipercaya oleh pemerintah dalam berbagai hal kepustakawanan dan
kepustakaan. Oleh karena itu, kebenaran dan kelengkapan informasi yang disampaikan cukup dapat dipercaya. Dengan
kata lain otoritas penyusun dan penerbit
tidak diragukan. Dengan indeks nama penulis
dan penerjemah cukup membantu pemakai. Namun sayang tidak
disertakan indeks subyek yang banyak digunakan
sebagai titik pendekatan. Pencetakan
dengan huruf times-romans 10 point kurang sedikit jelas bagi pemakai yang sudah tidak muda lagi.
Terbitan sejenis sebagai kelanjutan dari yang sudah ada adalah terbitan periode
1980-1985. Dalam terbitan ini masih disusun oleh orang yang sama, belum
ada perubahan sistem penyusunannya.
Terbitan jenis ini akan dilakukan secara berkesinambungan, meski tidak
periodik.
F.
Indeks
Madjalah Ilmiah
Indiah (Editor). --Djakarta: Madjelis Ilmu
Pengetahuan Indonesia
(Council for Sciences of Indonesia), 1963
100 hlm.; 23 cm.
Notasi
Terbitan
indeks ini merupakan terbitan ketiga, setelah yang pertama terbit tahun 1960. Terbitan ini merupakan terbitan
berkala - bulletin no. 5 yang
diterbitkan oleh Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, sebagai hasil kerjasama beberapa perpustakaan seperti
Biro Ekonomi dan Keuangan, Perpustakaan
Lembaga Penjelidikan Ekonomi Masjarakat,
Perpustakaan Sedjarah Politik dan Sosial, Regional Housing Centre dan Perpustakaan Departemen Kesehatan.
Tujuan
penerbitan indeks ini adalah menyajikan rujukan artikel dalam majalah yang
bermanfaat bagi ilmuwan dan peneliti, khususnya untuk pembangunan Indonesia.
Indeks ini membatasi pada artikel yang berbasis penelitian, terutama ilmu pengetahuan, mencakup 788
artikel majalah dari 119 judul majalah yang terdaftar. Terbitan ini
mengemukakan hal-hal tentang pembangunan
nasional, laporan tentang hal-hal yang bersifat khusus tentang Indonesia, dan
artikel yang memberikan solusi atas berbagai
masalah pembangunan nasional.
Terbitan
ini terbagi dalam 7 bagian yaitu, daftar singkatan yang digunakan, daftar majalah ilmiah yang
mutakhir disusun berdasarkan disiplin ilmu, indeks judul majalah disusun
berabjad judul merujuk ke nomor majalah terdaftar, daftar singkatan judul
majalah terdaftar, indeks artikel dalam majalah terdaftar yang merujuk
ke nomor entri majalah disusun
berdasarkan disiplin ilmu. Indeks pengarang dan indeks subyek disajikan pada
akhir halaman sebagai pelengkap
informasinya. Semua keterangan dalam terbitan ini berbahasa Inggris. Untuk
memudahkan penelusuran dilengkapi dengan indeks pengarang dan indeks subyek.
Majalah yang
terdaftar cukup mewakili majalah ilmiah di tanah air, sehingga sudah dapat
memberikan cukup informasi tentang karya ilmiah yang dimuat dalam majalah
ilmiah. Terbitan ini bermanfaat sebagai rujukan ilmuwan yang aktif dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Terbitan ini hanya menggunakan satu bahasa
Inggris, karena informasi ditujukan pada
ilmuwan yang sudah pasti menguasai bahasa Inggris. Hal ini juga
akan memudahkan bagi ilmuwan asing yang
memerlukannya.
G. Press Index
W.W. Sayangbati-Dengah (Editor).
-- Jakarta: Perpustaka- An Sejarah
Politik dan Sosial Lembaga Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1974. viii, 183 hlm.; 33 cm.
Notasi
Press index ini direncanakan terbit tiga
bulanan. Namun terbitan ketiga ini mengalami keterlambatan dan digabung dengan
nomor 2 tahun yang sama, selain kesulitan dana dikarenakan terhentinya
pemberian hadiah surat kabar sebagai sumber. Indeks ini bertujuan untuk
memberikan informasi tentang berbagai
pokok masalah yang tertuang dalam artikel surat kabar kepada masyarakat luas yang memerlukan.
Indeks ini mencakup artikel yang termuat
dalam 7 surat kabar, yaitu Berita Yudha,
El Bahar, Harian Kami, Indonesia Raya, Nusantara, Operasi dan Sinar Harapan. Cakupan pokok masalah meliputi semua aspek kehidupan, mulai dari filsafat
sampai politik sosial. Pada setiap entri
menyampaikan informasi judul artikel, penulis,
judul surat kabar sumber yang dilengkapi dengan keterangn kolom, halaman, tanggal, bulan dan tahun terbitnya.
Sistematika penyusunan isi setelah pengantar
tercantum daftar singkatan, daftar isi, kemudian entri judul artikel yang
disusun berdasarkan pokok masalah sesuai daftar isi. Selain berabjad, entri disusun bernomor urut. Di bagian
belakang halaman disertakan indeks
pengarang dan subyek. Terbitan
ini menggunakan bahasa Indonesia untuk semua penjelasan termasuk judulnya.
Indeks ini sangat membantu pemakai
mempercepat mendapatkan informasi yang
diperlukan, sebelum membaca tulisan aslinya. Cakupan isi cukup luas, meliput
semua aspek kehidupan masyarakat. Namun demikian, dengan keterlambatan terbitnya dapat
mengurangi nilaiguna informasi yang disampaikan. Terbitan indeks
ini tidak berlangsung lama, setelah
terbentuk Perpustakaan Nasional terbit ini dilanjutkan dengan indeks dalam
berbagai pokok masalah secara khusus.
H.
Fungsi
dan Kegunaan Indeks
Fungsi
indeks adalah:
1.
Memberi
panduan secara berkesan untuk mendapatkan suatu bahan.
2.
Memudahkan
pencarian sesuatu bahan atau sumber maklumat dengan cekap dan berkesan.
3.
Membantu
di dalam mengenal dengan pasti lokasi perkara sesuatu bahan yang dikesan.
4.
Memberitahu
perhubungan di antara sesuatu bahan atau sumber maklumat dengan bahan atau
sumber maklumat yang lain.
5.
Menyediakan
suatu pandangan yang menyeluruh kepada perkara yang terdapat dalam teks atau
koleksi.
Kegunaan indeks adalah:
1.
Indeks
dapat dipakai untuk mendaftar tulisan-tulisan yang ada di dalam majalah /
sumber buku lainnya, sehingga terdokumentasi dan dapat dibaca pengguna.
2.
Indeks
dapat dipakai pengguna untuk mencari informasi sesuai dengan keperluannya.
3.
Indeks
dapat dipakai untuk menyebarkan / memasarkan informasi kepada pengguna baik
yang datang ke perpustakaan maupun yang
jauh dari perpustakaan.
I.
Komponen Indeks
Komponen utama bagi sebuah Indeks adalah Entri Indeks (Index Entry) yang mana ia berfungsi sebagai panduan kepada isi kandungan
bagi sebuah dokumen atau koleksi daripada sesuatu ilmu pengetahuan yang
direkodkan (recorded knowledge).
Entri ini biasanya terbagi kepada tiga bagian yaitu:
1.
Headings-
Biasanya meliputi kata kunci (keyword)
atau istilah bagi menerangkan sesuatu perkara seperti tajuk utama, perkara
utama atau tajuk perkara.
2.
Modifications- Menerangkan sesuatu perkara dengan lebih tepat. Modifikasi yang baik akan
membantu mempastikan kerelevanan bagi suatu entri. Ketepatan modifikasi yang
tinggi, akan mengurangi resiko memperoleh hasil cairan yang tidak relevan.
3.
References-
Juga dikenal sebagai ‘locator’ atau penunjuk meliputi sebarang simbol, nomer
kelas atau muka surat yang memberitahu lokasi suatu bahan atau sumber maklumat.
J. Macam-macam Indeks
1. Indeks
nama pengarang
2. Indeks
subyek
3. Indeks
rumus empiris senyawa-senyawa
4. Indeks
rumus cincin senyawa
5.
Indeks nomor paten
Tiap
nomor hanya dimuat indeks nama pengarang. Setiap setengah tahun dibuat indeks
pengarang dan indeks nomor paten (1897-1950), serta indeks subyek (1889-1924).
Tetapi sekarang indeks-indeks ini (subyek, rumus organik, nama pengarang dan
nomor paten), dimuat setahun sekali. Sampai tahun 1987-1881 indeks nama
pengarang dan subyek 1897-1924 dibuat indeks kolektiv 5 tahun untuk nama
pengarang subyek dan paten. Sejak 1923 kolektive lima tahunan ini diperluas
dengan indeks kolektife untuk rumus
organik.
Indeks petikan
(citation index) untuk Pustaka Kimia,
indeks berdasar gugus dan beberapa tipe
khususnya dari indeks subyek.
1.
Indeks
Nama Pengarang
Umumnya
indeks ini tidak terlalu sulit. Kesulitan terjadi bila berasal dari bahasa
dengan huruf yang berbeda dengan bahasa indeks itu. Kalau belum ada standarisir
maka nanti aka nada kemungkinan seseorang muncul beberapa kali.
Komisi istilah Indonesia menggunakan
transliterasi ke Inggris dulu baru Indonesia.
Transliterasi
Jepang ke Inggris dikenal dua sistim yaitu Sistim Pemerintah Jepang dan Sistim
Hepburn yang dipakai oleh C.a (1947) Umlaut.
Bahasa
Inggris tak mengenal umlaut, karena itu dalam menyusun indeks ada 2 cara
tentang nama berumlaut.
a. Umlaut
tak terhiraukan (dianggap tak ada)
b. Huruf
berumlaut, dianggap emngikuti huruf “e”.
Contoh Muller – Mueller
Rontgen – Roentgen
Mullhouse di depan Muller (a),
menurut (b)Mullhouse dibelakang Mueller. Sebaiknya dicek kedua kemungkinan ini.
Huruf Skandinavia “Ø” sama seperti “O” berumlaut. Misal “SØrensen” harus dicari
Sörensen, S Orensen dan Sorensen.
a.
Nama
terdiri 2 bagian
Misal De Groot M., T Von Soelhorst. Nama dengan
awalan : D’,Da, Dal, Del, Della, Des, Du, La, Les Mac , O’. Bila bagian depan
diawali oleh huruf besar maka bagian depan itu digunakan dasar indeks, sedang
kalau bagian depannya huruf kecil, maka bagian akhir merupakan dasar perindeksan. Hal inimenjadi
sulit apabial sesuatu nama tertulis dalam huruf besar semua.
b.
Nama
Majemuk
Misal “Prinsen-Geerligs”, garis hubung terlupa
dicetak, maka nama ini dapat diindeks Geerligs,P., jadi kemungkinan semacam ini
harus diperhitungkan. Nama dengan awalan M’, Mc atau Mac. Dan “S”
(sanctus),”St.”(saint) dan Ste (sainte) ditulis secar alfabetik.
c.
Ejaan
nama pengarang lain yang ditulis diindeks
Misal : Hofman,
Hofmann, Hoffman, Hoffmann
Fischer,
Fisher
Newman,
Neuman, Neumann
Initial
nama pengarang harus dimasukkan. Kalau intial nama ada sama kalau dipanjangkan
maka bedakan menurut kota kediamannya.
d.
Referensi
Silang
Jika
sebuah artikel ditulis oleh beberapa orang sebaiknya digunakan, sebab
kadang-kadang orang menulis urutan nama pengarang dibalik oleh pembuat indeks.
Salah cetak dari singkatan nama maupun nama sering terjadi dalam indeks nama
pengarang karena banyak tangan sebelum sampai ke indeks majalah abstrak.
1)
Pengarangnya sendiri
2)
Editor 1 majalah orisinil
3)
Tukang cetak majalah orisinil
4)
Pembuat abstrak dan juru ketiknya
5)
Tukang cetak majalh abstark
6)
Pembuat indeks dan tukang cetak indeks
2.
Indeks
Subyek
Penelusuran yang efektif meminta
pengetahuan yang khusus, latihan, pengalaman dandijalankannya pertimbangan yang
bijaksana, oleh pemakai indeks. Indeks subyek yang ideal akan menolong si
pemakai untuk menemukan sumber referensi yangterbaik, juga menolong orang untuk
menyadari apa-apa yang mungkin harus dilakukan.
Indeks
subyek bukan indeks kata-kata, sebab kalau kata-kata akan menjadi cerai berai
maksud indeks. Indeks subyek yang benar-benar berdasar subyek, tidak selalu
menggunakan kata-kata dari karangan atau abstrak yang diindeksnya.
Ketidaktelitian indeks subyek umumnya berkisar padaslah tafsir akan arti
sesuatu kekurangan. Salah tafsir :
-
Antara pemakai indeks dan tafsiran
pembuat indeks
-
Anatar pembuat indeks dan tafsiran
pembuat abstrak
-
Antara pembuat abstrak dan maksud
pengarang
Modifikasi
dari indeks subyek dapat terjadi dalam beberpa cara. Keadaan yang optimum
adalah kompromi antara singkatan yang diinginkan dan perincian yang dibutuhkan.
Penelusuran indeks biar bagaimana pun efisiensinya akan tetap memakan waktu yang
lama.
1)
Referensi
Silang.
Pengindeksan
secara kata demi kata dalam menyusun
indeeks subyek tak dapat dihindari. Untuk mengurang keburukan yang mungkin
timbuk maka dibuat referensi silang. Ada 2 macam referensi silang :
1)
Macam “see”; contoh hydrargyrum, see
mercury
2)
Macam “ see also” ; contoh bromides, see
also bromine.
Tahap-tahap dalam menggunakan indeks subyek :
1)
Pikirkan dulu tempat di dalam indeks
subyek dimana persoalan saudara paling tepat dijumpai. Kalau persoalan tak
menentu maka akan sulit menentukan tempat yang sesuai. Pikitkan sinonim maupun
ungkapan-ungkapan yang sama artinya termasuk subyek yang ada hubungannya.
2)
Sesudah heading yang diinginkan
diperoleh masalah berikutnya ialah menelusur modifikasi dalam heading ini. Ini
memerlukan akal yang panjang. Vitamin ada hubungannya dengan food, diet,
nutrition, diseases dan sebaginya. Terkadang perlu dibaca semua odifikasi yang
ada dalam heading tersebut, ini berarti membuang waktu tetapi untuk mendapatkan
keterangan tambahan.
2)
Tata
nama dan Indeks
1)
Kesimpulan bagi pembuat maupun pemakai
indeks :
a)
Senyawa memiliki lebih satu nama
b)
Sulit menentukan dengan pasti nama yang
paling tepat dari senyawa rumit
c)
Adanya terus menerus senyawa yang
disintesa dan diperoleh nama tergantung si pemberi nama
2)
Prasyarat untuk pengindeksan
a)
Sistim nama harus umum digunakan
b)
Untuk suatu senyawa dipilih nama-nama
induk dan lewat suatu inverse dijadikan heading.
3) Pokok
umum tatanama kimia
a)
Senyawa anorganik KCl diindeks
“potassium chlorida” bukan “chloride of potassium”.
b)
Senyawa dari Cu, Au, Sn harus dicari
dengan kata-kata cupric, cuprous, auric, aurous bukan copper, gold, atau tin.
c)
Garam organic dan ester diindeks di
bawah nama asamnya.
d)
Gugus fungsional yang utama dijadikan
bagian utama dari nama senyawa dan tidak sebagai substituent biasa. Misal :
“pentanone” buakn keto pentane. Bagian
yang besar dianggap sebagai senyawa indeks yang kecil sebagaii substituent.
Misal “ethyl benzene” bukan “phenyl ethane”.
e)
Nama dan penomoran sistim cincin organic
yang rumit
f)
Nama niaga dari senyawa-senyawa yang
telah cukup dikenal.
Perlu diingat juga kesetaraan dalam bebrapa bahas
Jerman, Perancis dan Inggris diperhatikan juga.
3.
Indeks Rumus Impirik
Indeks ini
dipakai untuk menolong kekurangan indeks
subyek yang disebabkan kesukaran dan perbedaan tatanama dan bahasa.
Ada 2 sistim penataan indeks rumus :
a.
Sistim Hill
Unsure
karbon ( C ) ditulis lebih dulu dan disusul dengan Hidrogen (H) dan kemudian
unsure-unsur lain yang menyusul secara alphabet.
Umumnya
sistim Hilluntuk senyawa anorganik. Untuk senyawa organik, sistim Hill agak
sulit karena penentuan secara eksak dalam analisa senyawa sering sulit. Unsur
deuterium (D) dan trisium (T) dianggap unsure lain, jadi tunduk pada pengurutan
alphabet masing-masing sistim.
b.
Sistim Ritcher
Urutan
adalah C, H, O, N, Cl, Br, I, F, S, P kemudian unsur-unsur lain menyusul secara
alphabet. Sering semua senyawa diindeks sesuai dengan rumusnya :
-
Garam-garam, dicari dalam asam yang
bersangkutan.
-
Air hidrasi, tidak dimasukkan dalam
rumus tetapi ditunjuk setelah rumus bebas air.
-
Polimer
Bila
dikenal memiliki rumus tertentu dan nama tersendiri, dimasukkan sebgai suatu
senyawa tersendiri. Bila rumus tidak tentu, mak rumus dan nomornya digunakan.
4.
Indeks
rumus cincin dari senyawa
Indeks rumus cincin dari senyawa
perlu karena makin banyaknya cincin induk. Dalam C.A. dimulai dari cincin
tunggal trianggota lalu cincin tunggal empat anggota dan seterusnya.
5.
Indeks
nomor paten
Indeks nomor paten ditulis berdasarkan
pada kenaikan nomor paten. Selanjutnya nomor ini bersifat tahunan.
Indeks Kartu
Perusahaan ataupun perorangan menyusun indeks kartu
literature dari subyek-subyek tertentu yang menjadi perhatian mereka .
Indeks kartu biasanya terdiri dari ringkasan atau
abstrak suatu karangan yang ditulis pada sebuah kartu atau guntingan yang
ditempelkan pada kartu ini. Kartu harus disusun secara bersistim, biasanya
berdasarkan subyek dan dilengkapi dengan referensi silang. Oleh karena itu,
kumpulan kartu ini merupakan indeks dan disebut indeks kartu, bahwa sebuah
abstrak dapat mencakup sejumlah subyek, sehingga harus dibuat sejumlah kartu
untuk sebuah abstrak. Oleh sebab itu, lalu timbulmasalh klasifikasi yang akan
memakan banyak waktu seseorang.
K. Cara Membuat Indeks Buku
Indeks buku dibutuhkan untuk memudahkan
pemahaman arti kata yang tercantum dalam halaman buku. Susunan indeks biasanya
di sort berdasarkan abjad ataupun siimbol tertentu. Halaman yang berisikan
kata-kata yang terindeks pun tercantum lengkap dalam susunan tersebut.
Pembuatan
indeks secar manual dengan melihat satu persatu halaman buku tidaklah efektif
diterapkan dalam halaman yang jumlahnya banyak. Hal tersebut masih memungkinkan
utnuk diatasi dengan penggunaan apliksi index Author. Sesuai dengan namanya
aplikasi ini khusus pembuatan indeks yang memungkinkan penggunanya dapat
menambahkan kata index dengan kriteria tertentu, misalnya panjang kata,
meniadakan upper ataupu lower words, dan mendefenisikan white list ataupun
black list.
Dari aplikasi ini, anda tak hanya dapat
membuat sebuah indeks yang berasal dari sebuah file. Namun juga dapat memilih
beberapa file pada waktu bersamaan untuk menghasilkan sebuah indeks HTML
ataupun menulis sebuah indeks keyword yang berasal dari koleksi file lain.
L.
Pengindeksan Berkomputer
Proses pengindeksan
juga boleh dilakukan secara berautomatik yaitu dengan menggunakan komputer.
Dengan adanya perisian-perisian tertentu khusus untuk membina pangkalan data,
proses pengindeksan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. Antara
perisian tersebut adalah perisian CDS/ISIS (Computerized
Documentation System / Integrated Set of Information Systems). Menggunakan
bahasa pengatur caraan PASCAL adalah perisian yang mudah dan sesuai digunakan
untuk membina pangkalan data bagi tujuan menyimpan dan mendapatkan semula
maklumat (Information storage and
retrieval). Kini perisian CDS/ISIS versi Windows telah dilancarkan
menjadikan ia lebih mudah dan menark. Perisian ini memberi beberapa kemudahan
kepada pengguna, yaitu:
1. Menentukan jenis, bentuk dan rupa paparan entri di dalam
sebuah pangkalan data yang ingin dibina.
2. Memasukkan dan mengemaskinikan data.
3. Melakukan pengindeksan termasuk di dalam menyusun sisip (sorting) entri-entri.
4. Melakukan pencarian (searching).
5. Melakukan cetakan (printing).
M.
Kebijaksanaan Dalam Pengindeksan
Pengindeksan dilakukan berdasarkan suatu kebijaksanaan,
misalnya:
1.
Untuk
kepentingan Nasional, agar semua data tentang suatu cakupan subject tertentu
terdokumentasi bagi kepentingan pengguna dan bagi kepentingan pendataan karya
ilmiah nasional.
2.
Untuk
menunjang informasi suatu lembaga atau instansi tertentu. Untuk itu, informasi
yang penting untuk menunjang kegiatan lembaga, dikumpulkan dan didokumentasikan
agar mudah dicari bilamana dibutuhka.
3.
Untuk
kepentingan dokumentasi lembaga penerbit. Penerbit biasa melakukan dokumentasi
terhadap semua artikel yang dimuat di dalam majalah yang diterbitkan.
4.
Untuk
kepentingan seseorang atau sekelompok orang yang memerlukan informasi di bidang
kajian tertentu.
Bagian VI
ARTIKEL
Pengertian
Artikel
Artikel
adalah karangan faktual secara lengkap dengan panjang tertentu yang dibuat
untuk dipublikasikan ( melalui koran, majalah, buletin, dan sebagainya ) dan
bertujuan menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan
menghibur. Menurut Sharon Scull (1987), artikel didefinisikan sebagai bentuk
karangan yang berisi analisis suatu fenomena alam atau sosial dengan maksud
untuk menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa fenomena
alam dan sosial tersebut terjadi.
Menurut
Harianto G.P ( 2006), artikel mempunyai dua arti, yaitu :
1.
Barang, benda, pasal
dalam undang-undang dasar atau anggaran dasar,
2.
Karangan, tulisan, yang
ada dalam surat kabar, mjalah, dan sebagainya.
Sebuah
artikel adalah hasil kajan tentang sesuatu, bukan hasil khayalan atau sebuah renungan
pribadi; tentang sesuatu yang aktual yang dikaji oleh si penulis berdasarkan
kompetensi latar belakang; tentang sesuatu yang menarik dan ditulis dengan
runtut, saling berhubungan satu dengan yang lain, dari alinea pertama hingga
seterusnya yang panjang opini tersebut berkisar 500-700 kata. Artikel adalah
suatu pedoman dan bukan kebijakan.
Jenis-jenis
artikel menurut jenisnya terbagi atas empat, yaitu :
1.
Artikel deskriptif yang
menjelaskan suatu masalah atau fakta
2.
Artikel eksplanatif
yang menjelaskan tentan suatu masalah dengan detil
3.
Artikel prediktif yang
meramal, menduga hal yang akan terjadi di masa datang
4.
Artikel preskriptif
yang menentukan, menuntun, mengajak orang agar mau melakukan sesuai keinginan
penulis.
Dalam
pembuatan artikel, ada tiga jurus ampuh, yaitu :
1.
SMART (Specifiic,
Measurable, Applicable, Reasonable, dan Timetable). Menulis artikel harus
spesifik, terukur (struktur, jumlah huruf, data-data, dan bagaimana penyajian
konteks), realistis untuk dikerjakan (diselesaikan), applicable, beralasan
dalam penulisannya, dan rela dalam mengalokasikan waktu untuk menulis
timetable.
2.
Mastermind (berkumpul
dalam komunitas menulis)
3.
Minds mapping (pemetaan
pikiran), membuat semacam outline artikel.





Prosedur
pembuatan artikel






Bagian
VII
KATALOG
A.
Pengertian
dan Fungsi Katalog
Katalog berAsal dari bahasa Latin katalogus yang
berarti daftar barang atau benda yang disusun untuk tujuan tertentu. Contoh
katalog dalam pengertian umum adalah Shopie Martin Le Katalogue, katalog
penerbit dan sebagainya.
Beberapa definisi katalog menuriut ilmu perpustakaan
dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Katalog
berarti daftar berbagai jenis koleksi perpustakaan yang disusun menurut sistem.
(Fathmi, 2004, p.6)
2. A
catalogue is a list of, an index to, a collection of books and/or others
materials. It enables the user to discover : what material is present in the
collection, where this material may be found. (Hunter, 1990, p.1)
3. Katalog
perpustakaan merupakan suatu rekaman atau daftar bahan pustaka yang dimiliki
oleh suatu perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang disusun menurut aturan
dan system tertentu. (Dasar-Dasar Ilmu Kepustakaan, 2003, p. 130)
Definisi di atas dapat disimpulkan bahwa katalog
merupakan daftar dari koleksi perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang
disusun secara sistematis, sehingga memungkinkan pengguna perpustakaan dapat
mengetahui dengan mudah koleksi apa yang dimiliki oleh perpustakaan dan dimana
koleksi tersebut dapat ditemukan.
Pengertian katalog induk (union katalog) sangat
berkaitan erat dengan kerjasama perkatalogan (cooperative cataloguing).
Cooperative cataloguing sesuai dengan istilahnntya merupakan kerjasama antar
perpustakaan dalam pengerjaan katalog dan hasilnya adalah katalog induk. Jadi
secarra ringkas dapat dikatakan bahwa katalog induk merupakan hasil kerjasama dalam
pengerjaan katalog oleh beberapa perpustakaan atau penyatuan dari bebrapa
katalog perpustakaan.
Menurut Bakewell di dalam buku “A Manual Cataloguing
Practice”, keterangan-keterangan yang perlu dicantumkan pada katalog adalah
sebagai berikut:
1.
The Heading, tajuk entri yang berupa
nama keluarga pengarang atau nama utama pengarang.
2.
The Title Statement, judul buku, baik
judul utama buku maupunsi ini meru. fung sub judul.
3.
The Imprint, keterangan tentang kota
terbit, nama penerbit dan tahun terbit.
4.
The Collation, keterangan tentang jumlah
halaman, ukuran buku, ilustrasi, indeks, table, bibliografi, dan ependik.
5.
Notes, keterangan singkat mengenai seri
penerbitan, judul asli, dan pengarang aslinya.
Mengkatalog buku-buku perpustakaan sangat penting
sekali sebab katalog itu berfungsi sebagai alat menginformasikan buku apa saja
yang terdapat di perpustakaan.
Fungsi yang dimiliki
oleh katalog ada dua, yaitu:
1.
Katalog berfungsi sebagai “an instrument
of communication” (alat komunikasi) yang menginformasikan buku-buku perpustakaan.
Oleh karena katalog itu merupakan alat komunikasi, sudah barang tentu katalog
itu berisi bahan-bahan informasi yang akan dikomunikasikan, dalam hal ini
berupa cirri-ciri buku misalnya judul buku, pengarang, edisi, kota terbit,
jumlah halaman dan sebagainya.
2.
Katalog itu brfungsi sebagaik wakil
buku. Fungsi ini merupakan konsekuensi lanjut dari fungsi pertama, oleh karan
katalitu memberikan keteraan yang lengkap tentang ciri-ciri buku, dengan
membaca katalog dapat secara langsung memperoleh gambaran mengenai bukunya.
B.
Jenis-jenis
Katalog
Katalog terdiri
dari kartu katalog yang disusun menurut abjad. Tiap kartu katalog memuat
keterangan tentang: pengarang, judul, edisi (kalau ada), kota penerbit,
penerbit, tahun. Kartu katalog mewakili suatu bahan pustaka yang terdapat dalam
koleksi perpustakaan. Karena itu, langkah pertama untuk menemukan atau
mengetahui bahan yang terdapat disuatu perpustakaan ialah meneliti melalui
katalog.
Katalog terdiri dari beberapa
jenis, yaitu:
1. Katalog pengarang.
Digunakan
jika buku yang kita cari hanya diketahui nama pengarangnya. Atau ingin
mengetahui pengarang tertentu telah mengarang buku apa saja, katalog pengarang
disusun sistematis berdasarkan nama pengarang suatu karya di dalam cabinet
katalog. Penulisan nama p;engarang adalah dengan cara menuliskan terlebih
dahulu nama keluarga, contoh:
Asep Sugriatna
menjadi SUGRIATNA, Asep. Melalui katalog pengarang dapat diketahui nama
pengarang tertentu telah menghasilkan karanga-karangan tertentu.
|
2. Katalog Judul
Jika
buku yang kita cari hanya diketahui judul bukunya, maka yang kita gunakan katalog
judul. Atau ingin mengetahui judul buku tertentu yang sama telah dikarang oleh
pengarang mana saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan judul
dalam cabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul buku
yang sama, ypengarang yang berang dikarang oleh pengarang yang berbeda.
|
3. Katalog subyek
Bila
kita ingin mengetahui beberapa buku yang membahas subyek yang sama, maka yang
kita gunakan katalog subyek. Biasanya sering digunakan dalam mengupulkan bahan
pustaka untuk kepentingan peebuatan penelitian, makalah dan sebagaianya yang
membahas suatu subyek tertentu. Melalui katalog subyek akan diketahui
karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul yang
berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahasan yang sama.
|
C.
Katalogisasi
Katalogisasi merupakan proses
pembuatan katalog, yang dapat dibagi dalam dua tahap, yaitu:
1.
Pembuatan Deskripsi Katalog
Keterangan
staka dibuat dalam bentuk dan urutan yang baku, sehingga ada keseragaman
pembuatan katalog. Pembuatan deskripsi katalog dapat sangat rinci, tetapi juga
dapat sederhana, terutama untuk perpustakaan kecil dan sedang.
Pedoman
penentu deskripsi yang sudah diterima secara internasional adalah ISBD
(Internasional Standard Bibliographic Description); ISBD (M) khusus untuk
monografi, ISBD (S) untuk serial atau majalah, dan ISBD (NBk) untuk pustaka non
buku.
2.
Katalogisasi Majalah
Majalah atau terbitan berkala mempunyai kala terbit
seperti mikngguan, bulanan, kuartalan, dan sebagainya, volume atau tahun ke,
nomor edisi, dan berisi artikel-artikel. Artikel-artikel yang berada dalam satu
majalah kadang-kadang subjek atau isis sangat berbeda, sehingga sulit dibuat
nomor klasifikasi atas dasar subjek atau isinya. Maka majalah diklasifikasikan
atas dasar bentuknya, yaitu 050 dengan DDC dan 05 dengan UDC.
Perpustakaan kadang-kadang hanya memiliki satu atau
beberapa nomor edisi majalah karena tidak berlangganan maka majlah dianggap
sebagai buku dan dibuatkan katalog seperti buku.
Bagian
VIII
SEJARAH
MASALAH DAN OBJEKTIVITAS
1.
Sejarah
masalah
Masalah
secara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan (gap) antara yang
seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan
yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara
harapan dan kenyataan. Suatu kesenjangan antara harapan dengan kenyataan,
perundang-undangan dengan pelaksanaan, peraturan dengan implementasinya, teori
dengan praktik, sehingga menarik minat dan perhatian untuk diteliti/dipelajari.
2.
Sejarah
objektivitas
Sebuah
pelukisan sejarah kita sebut subjektif, bila subyek yang tahu - yakni -
sejarawan sendiri jelas hadir didalamnya. Sedangkan pelukisan sejarah kita
sebut objektif, bila hanya obyek penulisan sejarah dapat diamati (Baca:
Ankersmith, Refleksi tentang Sejarah : Pendapat-Pendapat Modern Tentang
Sejarah, 1987).
Berangkat dari apa yang dikatakan oleh Soedjatmoko dalam buku yang ditulis oleh Poesporodjo, bahwa :" Sesungguhnya, setiap pembicaraan tentang problema-problema interpretasi sejarah dan sintesis bahan-bahan sejarah menjadi suatu kisah yang berhubungan ke dalam historiografi Indonesia modern, menjurus kepada persoalan-persoalan tentang subjektivitas dan objektivitas". Artinya, sejarah yang tergolong ilmu humaniora hendak menyamai ilmu pengetahuan alam yang dinilai ilmiah seperti ilmu eksak. Keobjektifannya dianggap merupakan bukti suatu kebenaran, ilmu pengetahuan alam dapat dibuktikan langsung secara ilmiah dan mampu menjawab persoalan langsung saat itu juga, sedangkan sejarah terutama dalam penulisannya memiliki kelemahan yang dianggap tidak objektif karena memiliki kebenaran yang relatif.Selama ini untuk menjamin keilmiahan suatu ilmu hanya objek, objektif dan objektivitas yang dikejar. Pendekatan objektif dalam ilmu pengetahuan alam terkesan digeneralisasikan dengan pendekatan objektif dalam ilmu sejarah. Dalam pandangan sejarah, subjek mempunyai peranan yang penting. Ternyata subjektivitas, bukan dalam arti subjektivisme, justru merupakan dasar bagi lahirnya objektivitas.
Berangkat dari apa yang dikatakan oleh Soedjatmoko dalam buku yang ditulis oleh Poesporodjo, bahwa :" Sesungguhnya, setiap pembicaraan tentang problema-problema interpretasi sejarah dan sintesis bahan-bahan sejarah menjadi suatu kisah yang berhubungan ke dalam historiografi Indonesia modern, menjurus kepada persoalan-persoalan tentang subjektivitas dan objektivitas". Artinya, sejarah yang tergolong ilmu humaniora hendak menyamai ilmu pengetahuan alam yang dinilai ilmiah seperti ilmu eksak. Keobjektifannya dianggap merupakan bukti suatu kebenaran, ilmu pengetahuan alam dapat dibuktikan langsung secara ilmiah dan mampu menjawab persoalan langsung saat itu juga, sedangkan sejarah terutama dalam penulisannya memiliki kelemahan yang dianggap tidak objektif karena memiliki kebenaran yang relatif.Selama ini untuk menjamin keilmiahan suatu ilmu hanya objek, objektif dan objektivitas yang dikejar. Pendekatan objektif dalam ilmu pengetahuan alam terkesan digeneralisasikan dengan pendekatan objektif dalam ilmu sejarah. Dalam pandangan sejarah, subjek mempunyai peranan yang penting. Ternyata subjektivitas, bukan dalam arti subjektivisme, justru merupakan dasar bagi lahirnya objektivitas.
A.
Definisi
objektivitas
Ada
tiga versi definisi objektivitas;
1.
Objektivitas versi Ilmuan dan Agamawan
Dalam
objektivitas versi ini, Ilmuan dan
Agamawan menganggap sifat objektive adalah bilamana individu peneliti yang
telah didokterin sebelumnya oleh institusi yang ada tentang peraturan yang
menilai benar dan salah melakukan penelitian dengan menggunakan dokterin
sebagai alat ukur terhadap individu objeknya. Sifat objektif mengharuskan si
peneliti tetap tidak terikat secara emosional dengan objek, mendekati objek
tetapi pada jarak-jarak yang tertentu, lalu menilai berdasarkan pada alat ukur
yang disediakan oleh istitusi hingga lahirlah kesimpulan tanpa benar-benar
memahami object secara individual, maka peneitian ilmiah selalu bersifat
kesimpulan umum.
2.
Objektivitas versi Humanis
Dalam
objektivitas versi humanisme menganggap sifat objektif adalah bilamana individu
peneliti berusaha menghilangkan keberpihakan dan judgement yang ada di dirinya
sendiri dan mencoba menilai objek berdasarkan aspek-aspek, pola pikir, keadaan
si individu untuk mencari solusi terbaik bagi individu menurut keadaan
lingkungan dan cara berpikir individu itu sendiri. Seorang humanis tidak akan
mengatakan bahwa klien/objek penelitiannya sakit jiwa dan perlu diobati,
seorang humanis hanya akan mencari penyelesaian yang menguntungkan pihak si
individu objek yang tidak melanggar ‘moral dasar’ (misal:tidak berbohong, tidak
menipu, tidak merugikan kepentingan individu lain, dsb.)
3.
Objektivitas versi Petualang
Dalam
objektivitas versi petualang, sikap objektif adalah dengan tidak menerima teori
atau kesimpulan begitu saja tanpa pembuktian dengan tolak ukur pengalaman di
ruang pribadi. Seorang petualang akan merasa penelitiannya objektif bilamana ia
secara sadar telah memasukkan dirinya sendiri ke dalam ruang yang sama dengan
object yang diteliti. Hidup bersama
dengan turut
menjalankan proses kehidupan, sifat-sifat, pengalaman-pengalaman pribadi objek
yang diteliti.
B.
Prinsip
Prinsip Objektivitas
Dalam ilmu-ilmu sosial, masalah obyektivitas dari informasi
yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan suatu isyu yang utama dalam metode
ilmiahnya. Sebab, berbeda dengan dalam sains, informasi yang dikumpulkan itu
berasal dari dan mengenai kegiatan- kegiatan manusia sebagai mahluk sosial dan
budaya, sehingga dapat melibatkan hubungan perasaan dan emosional diantara
peneliti dengan pelaku yang diteliti.
Untuk menjaga obyektivitas tersebut, dalam ilmu-ilmu sosial
terdapat prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.
Ilmuwan
harus mendekati segala sesuatu yang menjadi sasaran kajiannya dengan penuh
keraguan dan skeptik;
2.
Ilmuwan
harus obyektif dalam menilai segala sesuatu, yaitu harus membebaskan dirinya
dari sikap-sikap pribadinya, keinginan-keinginannya, dan
kecenderungan-kecende-rungannya untuk menolak atau menyukai data yang telah
dikumpulkannya;
3.
Ilmuwan
harus secara etika bersikap netral atau terbebas dari membuat
penilaian-penilaian menurut nilai-nilai budayanya mengenai hasil-hasil
penemuannya, dan dalam hal ini dia hanya dapat memberikan penilaian mengenai
data yang diperolehnya itu apakah sebagai data yang benar atau data yang palsu;
dan begitu pula dalam kesimpulan-kesimpulannya dia tidak boleh menganggap bahwa
datanya tersebut adalah data akhir, mutlak, atau kebenaran universal. Karena
kesimpulan-kesimpulannya hanya berlaku secara relatif sesuai dengan waktu dan tempat
dimana penelitian itu dilakukan.
Untuk menjaga nilai obyektif dari data yang dikumpulkan maka
dalam setiap kegiatan penelitian harus berpedoman pada metode ilmiah yang
ketentuan-ketentuannya mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.
Prosedur
pengkajian/penelitian harus terbuka untuk umum dan dapat diperiksa oleh
peneliti lainnya;
2.
Definisi-definisi
yang dibuat dan digunakan adalah tepat dan berdasarkan atas konsep-konsep dan
teori-teori yang sudah ada;
3.
Pengumpulan
data dilakukan secara obyektif;
4.
Penemuan-penemuannya
akan ditemukan ulang oleh peneliti lain; yaitu untuk sasaran atau masalah
penelitian yang sama dan dengan menggunakan pendekatan dan prosedur penelitian
yang sama;
5.
Di
luar bidang sains, tujuan kegiatan pengkajian/penelitian adalah untuk pembuatan
teori-teori penjelasan, interpretasi, dan prediksi-prediksi (khususnya dalam
ilmu ekonomi) mengenai gejala- gejala yang dikaji.
Secara garis besarnya ada dua macam penelitian yaitu:
1.
Penelitian Dasar (basic research), penelitian yang dilakukan dengan tujuan
untuk pengembangan teori-teori ilmiah atau prinsip- prinsip mendasar dan umum
dari bidang ilmu yang bersangkutan, dan yang penemuan teori-teori ilmiahnya
tersebut dapat digunakan untuk kepentingan kegiatan-kegiatan penelitian yang
bersifat aplikasi agar hasilnya lebih baik
2.
Penelitian untuk aplikasi (applied research), yang ditujukan untuk
menemukan teori-teori atau prinsip-prinsip yang mendasar dan umum dari masalah
yang dikaji untuk dapat memecahkan/mengatasi masalah tersebut dan
masalah-masalah lainnya yang tergolonga dalam tipe dan kelas yang sama.
Masalah-masalah tersebut dapat berupa, atau berkaitan dengan masalah-masalah, bisnis, pemerintahan, perburuhan,
pendidikan, ketegangan sosial, dan sebagainya.
Disamping itu, kegiatan-kegiatan penelitian juga dapat
digolongkan menurut corak kegiatannya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan secara
individual, yang dalam hal mana peneliti melakukan kegiatan penelitian
semata-mata berlandaskan pada perhatian ilmiah dan bebas dari pengaruh
keinginan birokrasi pemerintahnya ataupun kepentingan praktis untuk memecahkan sesuatu
masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya; kegiatan penelitian seperti ini
hanyalah dengan tujuan untuk memperdalam pengetahuannya dan untuk
penciptaan/penemuan teori baru atau verifikasi teori yang sudah ada
2. Penelitian terorganisasi sebagai sebuah kelompok
penelitian, yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti
untuk suatu masalah penelitian yang satu atau untuk sejumlah masalah penelitian
yang saling berkaitan dan terkordinasi satu sama lainnya; kegiatan penelitian
terorganisasi biasanya dilakukan untuk suatu tujuan aplikasi tertentu.
Sesungguhnya kegiatan penelitian aplikasi tidak hanya dilakukan secara
terorganisasi dalam bentuk sebuah kelompok peneliti tetapi dapat juga dilakukan
oleh seorang peneliti saja. Karena peneliti tersebut biasanya dibantu oleh
sejumlah asisten dalam melakukan kegiatan penelitiannya maka juga seringkali
kegiatan penelitian seperti ini digolongkan sebagai kegiatan penelitian
terorganisasi dalam kelompok.
C. Tahapan-tahapan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian selalu dilakukan dengan melalui
tahapan-tahapan; dan tahapan-tahapan tersebut dilakukan berlandaskan pada
prinsip-prinsip yang terdapat dalam metode ilmiah. Adapun tahapan-tahapannya
adalah sebagai berikut:
1. Masalah penelitian didefinisikan;
2.
Masalah
penelitian tersebut dinyatakan/diungkapkan dalam kaitannya dengan sesuatu
kerangka teori tertentu dan berkaitan dengan penemuan-penemuan yang telah ada
dari hasil-hasil penelitian sebelumnya oleh peneliti lainnya;
3. Sebuah hipotesis atau sejumlah hipotesis
yang berkaitan dengan masalah penelitian tersebut diciptakan, yang dibuat
berdasarkan atas teori-teori yang telah ada sebelumnya, dan hipotesis tersebut
menjadi landasan bagi terciptanya masalah penelitian;
4. Prosedur pengumpulan data
ditentukan;
5. Data dikumpulkan dengan menggunakan
tehnik-tehnik penelitian yang telah dikemukakan dalam prosedur penelitian;
6. Data dianalisis untuk menentukan
apakah hipotesis yang telah ditentukan itu dibenarkan/diterima ataukah ditolak;
dan
7.
Kesimpulan-kesimpulan
dari kajian/penelitian yang dilakukan dihubungkan dengan kerangka teori semula
yang digunakan, yang dapat menghasilkan sesuatu perubahan dari teori yang
digunakan tersebut setelah diperbandingkan dan dianalisis dengan hasil- hasil penemuan
dari penelitian tersebut.
D.
Masalah Penelitian
Diantara berbagai kesukaran dalam melaksanakan penelitian
sesuai dengan tahapan-tahapan penelitian, yang tersukar adalah pembuatan
masalah penelitian. Tahap-tahap lainnya yang ada dalam prosedur penelitian di
Indonesia, telah dipecahkan hambatan- hambatannya melalui berbagai kegiatan
penataran dan latihan penelitian sehingga para peneliti Indonesia dapat menjadi
pengumpul data yang baik. Tetapi pembuatan masalah penelitian memerlukan
kesanggupan pengetahuan yang lebih banyak daripada hanya sekedar sebagai
pengumpul data; dan kenyataan ini berbeda dengan pandangan orang awam pada
umumnya.
Pada umumnya orang awam berpendapat bahwa masalah penelitian
dalam kegiatan penelitian ilmu-ilmu sosial adalah sama dengan masalah sosial
(yaitu gejala atau serangkaian gejala yang ada dalam kehidupan sosial yang coraknya menyimpang
dari keteraturan sosial yang berlaku sehingga oleh para warga masyarakat digolongkan sebagai
masalah sosial). Disamping itu, ada juga orang awam yang menganggap bahwa suatu
penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari bidang ilmu-ilmu sosial hanyalah
bertujuan untuk mengungkapkan hal-hal yang aneh atau unik atau menarik hati.
Anggapan-anggapan seperti tersebut diatas tentu saja tidak benar. Karena sama
halnya dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli dalam bidang
sains dan teknologi, penelitian- penelitian yang dilakukan oleh para ahli
ilmu-ilmu sosial juga bertujuan untuk mencapai suatu pengertian mengenai
prinsip-prinsip mendasar yang berlaku umum mengenai hakekat hubungan diantara
variabel-variabel yang ada dalam sasaran penelitiannya. Hanya bedanya dengan
sains adalah teori-teori yang ditemukan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial
adalah teori penjelasan dan bukannya rumus-rumus atau hukum-hukum.
Kalau sebuah masalah sosial itu pada hakekatnya berasal dari
dan terwujud dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan, maka sebuah
masalah penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penciptaan sebuah masalah penelitian
dilakukan dengan berlandaskan pada pembuatan sebuah proposisi (teori atau
hipotesis yang belum diuji kebenarannya) yang kerangka acuannya adalah hasil
pengkajian mengenai kaitan hubungan antara sejumlah teori yang sudah ada dan
relevan, dan yang hasil kajian tersebut dikaitkan dengan kenyataan-kenyataan
yang dihadapi. Dari hasil kajian tersebut dapat tercipta masalah atau
masalah-masalah teori yang perlu dikaji kebenarannya berdasarkan atas fakta-fakta.
2.
Penciptaan
sebuah masalah penelitian, dengan demikian, adalah sama juga dengan penciptaan
suatu model teori atau hipotesis yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi
kegiatan penelitian dan bagi mengungkapkan kebenaran dari proposisi yang telah
dibuat tersebut.
3. Dengan demikian pula, setiap
kegiatan ilmiah, sebenarnya sama dengan serangkaian kegiatan yang bertujuan
untuk menguji dan memantapkan kebenaran sesuatu teori atau teori-teori yang ada
dengan berdasarkan atas bukti-bukti yang telah dikumpulkan dalam penelitian.
Pembuatan masalah penelitian dimulai dengan memilih masalah
penelitian. Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam memilih sebuah masalah
penelitian yaitu;
1. Masalah dibuat berdasarkan atas masalah sosial
yang ada di dalam kehidupan sehari-hari, yang dilihat dan dirasakan sebagai
sebuah masalah oleh para warga masyarakat, yang kemudian diangkat sebagai
sebuah masalah konseptual (contoh : Kurangnya Pengaruh Kontrol Orang Tua
Terhadap Tingkat Kenakalan Remaja di Jakarta).
2. Masalah penelitian dapat dibuat
berdasarkan atas memperhubungkan kaitan antara satu konsep dengan konsep-konsep
lain, yang menuntut dibuatnya penjelasan mengenai hakekat dari kaitan
hubungan-hubungan yang diakibatkannya, dan menuntut adanya pembuktian mengenai
kebenaran hakekat (teori atau hipotesis) tersebut berdasarkan atas bukti-bukti
empirik yang secara obyektif dan ilmiah dapat dipertanggung-jawabkan (contoh:
Hubungan Kekerabatan, Hubungan Kerja, dan Keberhasilan Bisnis Keluarga). Dari
hasil pemilihan masalah seperti tersebut di atas, yang dihasilkan belumlah
berbentuk sebuah masalah penelitian, tetapi baru sebuah Pernyataan Maksud
Penelitian atau statement of intent.
Tahap selanjutnya yang harus dilakukan untuk membuat sebuah
masalah penelitian adalah mengolah pernyataan maksud penelitian yang telah
dibuat melalui tahap-tahap berikut ini.
1.
Membaca,
menyeleksi, dan memperdalam konsep-konsep yang relevan dengan masalah
penelitian yang dipilih.
2.
Membaca
dan menyeleksi hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah penelitian
yang telah dipilih dan secara terseleksi menggunakan penemuan-penemuan yang
telah dihasilkan berbagai penelitian terdahulu; baik mengenai tesis atau
teorinya, maupun mengenai datanya yang relevan kegunaannya bagi masalah
penelitian tersebut.
3.
Membuat
hipotesis, yaitu memperlakukan masalah penelitian yang telah dipilih itu
sebagai terdiri atas satuan-satuan variabel yang hubungan sebab akibat di
antara variabel-variabel tersebut menghasilkan hipotesis atau teori yang perlu
dibuktikan kebenarannya.
4.
Membaca
dan mempelajari wilayah-wilayah masyarakat dan kebudayaannya untuk diseleksi
dan dijadikan sasaran penelitian (sebagai kasus) untuk pembuktian kebenaran
hipotesis yang telah dibuat.
E. Subjektivitas dan objektivitas
a.
Subjektivitas
Seperti telah disinggung di atas bahwa subjektivitas adalah suatu sikap yang memihak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan, dipengaruhi oleh nilai-nilai yang melingkupinya. Dalam sejarah unsur ini banyak terdapat dalam proses interpretasi. Sejarah, dalam mengungkapkan faktanya membutuhkan interpretasi dan interpretasi melibatkan pribadi/subyek. Selain yang diinterpretasikan adalah peristiwa masa lalu yang sudah ditinggalkan. Sekalipun masih ada itu hanya ada dalam pikiran sejarawan/subyek tersebut. Sejarawan tersebut yang hidup di masa kini, tentu saja dalam melakukan interpretasi dipengaruhi oleh keadaan zamannya. Selain itu terdapat faktor lain yaitu menurut pendapat G.G.J Resink yang turut mempengaruhi subyektivitas yaitu lingkungan kultural Indonesia yang majemuk dan terbuka untuk banyak tafsiran, sinkretisme religius dan kultural, kecenderungan untuk mencari ketenangan dengan sikap jujur.
Untuk itulah, hingga melahirkan subjektivisme, dimana objek tidak lagi dipandang/dinilai sebagaimana seharusnya; tetapi dipandang sebagai "kreasi", "konstruksi" akal budi. Mengapa subjektif, karena menurut Nugroho bahwa sejawaran tidak menangkap objek, yakni hal-hal yang pernah nyata pada masa lampau dengan menangkap ideanya. Sedangkan idea itu sesuatu yang subjektif. Walaupun demikianbahwa pengetahuan subjektif tidak selalu mutunya lebih rendah dari pengetahuan lainnya.
Artinya, dari penjelasan ini bahwa unsur subjektif diperbolehkan/dihalalkan selama tidak mengandung subjektivistik yang diserahkan kepada kesewenang-wenangan subjek, dan konsekuensinya tidak lagi real sebagai objektif.
b.Objektivitas
Objektivisme yaitu sikap yang tidak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan didalam mengambil keputusan. Objektivitas sebagai realitas adalah ketidaktersembunyiannya realitas tersebut bagi subjektivistas.
Seperti yang kita tahu, keberhasilan ilmu pengetahuan alam membuat banyak orang memandangnya sebagai model ideal ilmu. Dalam ilmu pengetahuan alam yang mendasarkan diri pada pengalaman yang didapat lewat indera maka yang terjadi adalah pendekatan pada suatu objek yang dilakukan ilmu pengetahuan alam terjadi lewat cara objek tersebut memberikan dirinya secara lahiriah kepada pancaindera. Dengan demikian, fakta yang konkret dapat dihasilkan dan diujicobakan kebenarannya sesuai dengan hukum-hukum yang dimilikinya. Berbeda dengan sejarah yang objeknya manusia, maka ketika objektivitas dalam ilmu pengetahuan alam tidak dapat diterapkan dalam ilmu sejarah karena subjek penyelidik sejarawan mulai terlibat, disitulah objektivitas sejarah mulai diragukan.
Dalam sejarah, bagaimanapun subjektivitas merupakan unsur penting bagi terwujudnya ilmu pengetahuan sejarah itu sendiri karena tiada pengetahuan yang tidak berhubungan dengan subjek. Walaupun begitu, sejarah sebagai ilmu dituntut objektif, ilmu tanpa objektivitas tidak mempunyai nilai ilmiah dan akan berhenti sebagai ilmu. Sejarawan berusaha seobjektif mungkin, akan tetapi bagaimanapun objektivitas itu dihasilkan akan tenggelam dalam subjektivitas, sebab untuk dijadikan sejarah, objek harus ditafsirkan oleh subjek. Untuk mendapatkan keobjektivannya, seorang sejarawan harus memiliki filsafat yang sehat, memiliki kejujuran intelektual, dan objektivitas akan semakin didapat dengan semakin kayanya bagasi intelektual, perlengkapan kejiawaan subjektivitas sejarawan. Objektivitas ini dapat dihasilkan dengan menggunakan metode subjektivo-objektif, dengan begitu ilmu disadarkan atau kemungkinannya dan akar konteksnya dalam perspektif rasionalitas yang lebih luas.
Menurut sejarawan dan filsuf sejarah yang berhaluan Marxi, penulisan sejarah yang objektif tidak mungkin dan tidak perlu dicita-citakan. Hasrat akan tercapainya suatu masyarakat yang lebih baik dan adil harus merupakan nilai dan pedoman menuntun sejarawan dalam penelitiannya.
Seperti telah disinggung di atas bahwa subjektivitas adalah suatu sikap yang memihak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan, dipengaruhi oleh nilai-nilai yang melingkupinya. Dalam sejarah unsur ini banyak terdapat dalam proses interpretasi. Sejarah, dalam mengungkapkan faktanya membutuhkan interpretasi dan interpretasi melibatkan pribadi/subyek. Selain yang diinterpretasikan adalah peristiwa masa lalu yang sudah ditinggalkan. Sekalipun masih ada itu hanya ada dalam pikiran sejarawan/subyek tersebut. Sejarawan tersebut yang hidup di masa kini, tentu saja dalam melakukan interpretasi dipengaruhi oleh keadaan zamannya. Selain itu terdapat faktor lain yaitu menurut pendapat G.G.J Resink yang turut mempengaruhi subyektivitas yaitu lingkungan kultural Indonesia yang majemuk dan terbuka untuk banyak tafsiran, sinkretisme religius dan kultural, kecenderungan untuk mencari ketenangan dengan sikap jujur.
Untuk itulah, hingga melahirkan subjektivisme, dimana objek tidak lagi dipandang/dinilai sebagaimana seharusnya; tetapi dipandang sebagai "kreasi", "konstruksi" akal budi. Mengapa subjektif, karena menurut Nugroho bahwa sejawaran tidak menangkap objek, yakni hal-hal yang pernah nyata pada masa lampau dengan menangkap ideanya. Sedangkan idea itu sesuatu yang subjektif. Walaupun demikianbahwa pengetahuan subjektif tidak selalu mutunya lebih rendah dari pengetahuan lainnya.
Artinya, dari penjelasan ini bahwa unsur subjektif diperbolehkan/dihalalkan selama tidak mengandung subjektivistik yang diserahkan kepada kesewenang-wenangan subjek, dan konsekuensinya tidak lagi real sebagai objektif.
b.Objektivitas
Objektivisme yaitu sikap yang tidak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan didalam mengambil keputusan. Objektivitas sebagai realitas adalah ketidaktersembunyiannya realitas tersebut bagi subjektivistas.
Seperti yang kita tahu, keberhasilan ilmu pengetahuan alam membuat banyak orang memandangnya sebagai model ideal ilmu. Dalam ilmu pengetahuan alam yang mendasarkan diri pada pengalaman yang didapat lewat indera maka yang terjadi adalah pendekatan pada suatu objek yang dilakukan ilmu pengetahuan alam terjadi lewat cara objek tersebut memberikan dirinya secara lahiriah kepada pancaindera. Dengan demikian, fakta yang konkret dapat dihasilkan dan diujicobakan kebenarannya sesuai dengan hukum-hukum yang dimilikinya. Berbeda dengan sejarah yang objeknya manusia, maka ketika objektivitas dalam ilmu pengetahuan alam tidak dapat diterapkan dalam ilmu sejarah karena subjek penyelidik sejarawan mulai terlibat, disitulah objektivitas sejarah mulai diragukan.
Dalam sejarah, bagaimanapun subjektivitas merupakan unsur penting bagi terwujudnya ilmu pengetahuan sejarah itu sendiri karena tiada pengetahuan yang tidak berhubungan dengan subjek. Walaupun begitu, sejarah sebagai ilmu dituntut objektif, ilmu tanpa objektivitas tidak mempunyai nilai ilmiah dan akan berhenti sebagai ilmu. Sejarawan berusaha seobjektif mungkin, akan tetapi bagaimanapun objektivitas itu dihasilkan akan tenggelam dalam subjektivitas, sebab untuk dijadikan sejarah, objek harus ditafsirkan oleh subjek. Untuk mendapatkan keobjektivannya, seorang sejarawan harus memiliki filsafat yang sehat, memiliki kejujuran intelektual, dan objektivitas akan semakin didapat dengan semakin kayanya bagasi intelektual, perlengkapan kejiawaan subjektivitas sejarawan. Objektivitas ini dapat dihasilkan dengan menggunakan metode subjektivo-objektif, dengan begitu ilmu disadarkan atau kemungkinannya dan akar konteksnya dalam perspektif rasionalitas yang lebih luas.
Menurut sejarawan dan filsuf sejarah yang berhaluan Marxi, penulisan sejarah yang objektif tidak mungkin dan tidak perlu dicita-citakan. Hasrat akan tercapainya suatu masyarakat yang lebih baik dan adil harus merupakan nilai dan pedoman menuntun sejarawan dalam penelitiannya.
Objektivitas
ilmu
Objektivitas dalam ilmu sering
dikaitkan sebagai pengukuran ilmiah yang diuji oleh parailmuwan. Keobjektifan tidak berpihak pada satu subjek saja tetapi dapat
diterima oleh semuaorang, karena suatu pernyataan yang diberikan kepada
orang-orang tersebut bukan merupakansatu asumsi,prasangka, atupun
nilai-nilai yang dianut oleh subjek tertentu. Agar dapat dikatakanobjektif maka hasil dari suatu penelitian ilmiah
itu sebaiknya harus disampaikan dari orang keorang, dan kemudian di sampaikan
kembali ke orang ketiga yang lebih mengerti akan objektif atau
tidaknya hasil penelitian ilmiah tersebut. Pandangan tradisional terhadap objektivitas
telah mengabaikan beberapa hal yaitu,
pertama dalam pemilihan penelitian objek khusus adalahkeputusan subjektif yang
sering dikaitkan dengan reduksionisme. Kedua, berpotensi akanbanyaknya
keraguan dalam hal ukuran metodologi dan instrument
nya. Dalam proses penelitianbeberapa kualitas dari objek tersebut akan
diabaikan, dan keterbatasan instrument yang dipilihmenyebabkan data
harus dipertimbangkan. Subjektivitas di bangun dalam sistem konseptual, iapun dapat dilibatkan dalam rancangan alat yang
digunakan dalam penelitian. Jumlah ini bisadibilang objektifitas bahkan tidak
mungkin dalam beberapa situasi. Suatu masalah akan timbulapabila tidak
memahami batas-batas obyektivitas dalam penelitian ilmiah. Pemilihan objek danpengukuran biasanya subjektif, ketika hasil dari
proses subjektif harus disama ratakan dengansystem yang lebih besar dari
objek yang telah dipilih.Masalah subjek-objek
selalu berkaitan dengan pengalaman manusia itu sendiri ataubagaimana si manusia itu dalam mengkaji suatu
masalah. Bagaimana si subjek berhubungandengan objek itu disebut dengan
“subjek mengetahui”. Masalah subjek dan objek ada dua yaitu,pertanyaan tentang
“apa” yang kita tahu dan “bagaimana” kita tahu apa yang kita tahu.Hasil pengukuran biasanya disajikan dalam skala
numeric unit standar sehingga dapatdipahami
oleh semua orang. Data nominal harus digunakan, idealnya kriteria objektif
untuk menempatkan klasifikasi, seperti dalam penggolongan yang berbeda
dapat menghasilkan hasilyang sama. Aspek lain metodologis adalah menghindari
bias, yaitu bias kognitif, bias budayaatau bias sampling. Metode untuk
mengatasi bias tersebut mencangkup random sampling dan ujicoba. Untuk kesalahan yang tidak disengaja tapi
mungkin sistematis, ada kemungkinan hasil
Bila sebuah masalah penelitian telah dibuat, maka tahap
berikutnya adalah membuat rencana penelitian, yang pembuatannya dilakukan
dengan berlandaskan pada masalah penelitian tersebut. Masalah penelitian
menentukan luasnya ruang lingkup dan tingkat kedalaman dari data yang akan
dikumpulkan dalam penelitian, serta menentukan pendekatan yang akan digunakan
sebagaimana terwujud dalam teknik-teknik pengumpulan data dan analisis data.
Dalam penelitian ilmiah, secara garis besarnya terdapat dua golongan pendekatan
yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif memusatkan perhatiannya pada
prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada
dalam kehidupan sosial manusia, sedangkan pendekatan kuantitatif memusatkan
perhatian pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu di dalam
kehidupan manusia yang dinamakannya sebagai variabel. Dalam pendekatan
kuantitatif hakekat hubungan di antara variabel-variabel dianalisis dengan
menggunakan teori yang obyektif, sedangkan di dalam pendekatan kualitatif yang
dianalisa bukannya variabel-variabel, yang sebetulnya adalah gejala sosial,
tetapi prinsip-prinsip umum yang paling mendasar yang menjadi landasan dari
perwujudan satuan-satuan gejala tersebut, yang dianalisis dalam kaitan hubungan
dengan prinsip-prinsip umum dari satuan-satuan gejala lainnya dengan
menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, dan dari hasil analisis
tersebut dianalisis lagi dengan menggunakan seperangkat teori yang berlaku.
Dengan demikian, jelas perbedaan sasaran kajian antara
pendekatan kuantitatif dan kualitatif, di mana sasaran kajian kuantitatif
adalah gejala, sedangkan sasaran kajian pendekatan kualitatif adalah
prinsip-prinsip umum dari perwujudan gejala-gejala. Karena gejala-gejala yang
ada di dalam kehidupan manusia itu terbatas banyaknya, dan tidak terbatas pula
kemungkinan-kemungkinan variasi dan hierarkinya, maka juga diperlukan
pengetahuan statistik, yang secara kuantitatif berguna untuk
menggolong-golongkan dan menyederhanakan variasi dan hierarki yang ada dengan
ketepatan yang dapat diukur secara kuantitatif, dan begitu juga dalam hal
penganalisaan data yang telah dikumpulkan. Sedangkan di dalam pendekatan
kualitatif pengukuran dari makna dan peranan gejala-gejala yang menggunakan
prinsip-prinsip yang berlaku di dalam kebudayaannya tidak dapat dilakukannya
secara obyektif dengan menggunakan ketepatan perhitungan kuantitatif karena
makna dari satuan-satuan gejala tidak hanya dapat dilihat di dalam satu konteks
saja tetapi juga dapat dilihat dari banyak konteks yang tidak terkontrol.
Dalam pendekatan kualitatif yang menjadi sasaran
kajian/penelitian adalah kehidupan sosial atau masyarakat sebagai sebuah satuan
atau sebuat kesatuan yang menyeluruh. Karena itu pendekatan kualitatif biasanya
juga dikaitkan dengan pengertian yang sama dengan pendekatan yang dalam
antropologi dikenal dengan istilah pendekatan holistik. Dalam pendekatan
tersebut tidak dikenal adanya sampel, tetapi penelitian kasus, yaitu sasaran
penelitian dilihat sebagai sebuah kasus yang diteliti secara mendalam dan
menyeluruh untuk memperoleh gambaran mengenai prinsip-prinsip umum atau
pola-pola yang berlaku umum berkenaan dengan gejala-gejala yang ada dalam
kehidupan sosial masyarakat yang diteliti sebagai kasus tersebut.
Dalam pendekatan kualitatif metode penelitian yang umumnya
digunakan adalah :
1.
Metode
pengamatan yang digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang terwujud dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat yang diteliti. Dengan menggunakan metode
pengamatan seorang peneliti, dengan berpedoman pada kategori dan kelas tingkat
gejala yang harus diamati, dapat mengumpulkan kumpulan data yang lengkap
berkenaan dengan gejala-gejala (tindakan, benda, peristiwa dsb) dan kaitan
hubungan antara satu dengan lainnya yang mempunyai makna bagi kehidupan
masyarakat yang diteliti.
2.
Metode
pengamatan terlibat, sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan si
peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk
dapat melihat dan memahami gejala-gejala yang ada sesuai makna yang diberikan
atau dipahami oleh warga masyarakat yang ditelitinya. Termasuk di dalam
pengertian metode pengamatan terlibat adalah melakukan wawancara atau
berkomunikasi dengan para warga masyarakat yang diteliti dan mendengarkan serta
memahami apa yang didengarkan.
3.
Wawancara
dengan pedoman, adalah suatu teknik untuk mengumpulkan keterangan dari para
anggota masyarakat mengenai suatu masalah khusus dengan teknik bertanya yang
bebas yang tujuannya adalah memperoleh informasi dan bukannya memperoleh
pendapat atau respons. Contoh penggunaan metode wawancara dengan pedoman adalah
mengumpulkan data mengenai sistem kekerabatan yang di dalamnya tercakup
informasi mengenai aturan-aturan berkenaan dengan struktur kedudukan dan
peranan di antara mereka yang tergolong sekerabat dan yang struktur tersebut
tercermiun di dalam sistem istilah kekerabatan. Karena itu pemberi keterangan
atau informasi di dalam penelitian kualitatif, yang biasanya dilakukan oleh
para ahli antropologi, adalah informan. Ini dibedakan dengan penelitian yang
menggunakan kuesioner yang pada dasarnya bertujuan mengumpulkan data mengenai
respons atau pendapat yang diwawancarai mengenai suatu gejala atau persitiwa,
yang pemberi keterangan atau responsnya dinamaka responden.
G.
Contoh
masalah yang timbul dalam melakukan studi kepustakaan
Beberapa hambatan yang sering menyebabkan ketidak lancaran kegiatan ini
antara lain:
1.
Kurangnya
buku atau sumber kepustakaan lain, terutama yang bersifat ilmiah. Sampai saat
ini masih terasa sangat kurang bahan kepustakaan ilmiah di Indonesia. Demikian
pula bahan kepustakaan ilmiah dari luar negeri juga sulit diperoleh. Hal ini
mungkin disebabkan belum berkembangnya system dokumentasi, tidak adanya atau
kurangnya komunikasi ilimiah antara peneliti, atau mahalnya biaya kirim atau perizinan,
serta hal-hal birokratis lain yang menghambat pemanfaatan informasi ilmiah.
2.
Kelemahan peneliti untuk memahami tulisan-tulisan dalam
bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ketidakmampuan membaca buku referensi
dalam bahasa asing menyebabkan peneliti tidak dapat
memanfaatkan informasi ilmiah dari luar
negeri. Penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, akan sangat membantu
peneliti untuk mengikuti perkembangan informasi ilmiah. Hasil-hasil
penelitian dan teori-teori yang sudah dikembangkan dan tertulis dalam bahasa Inggris tidak dimanfaatkan oleh peneliti yang mau
memperdalam pengetahuan yang relevan dengan bidangnya bila dia tidak mampu
membaca bahasa asing.
3.
Rendahnya minat peneliti untuk membaca
tulisan ilmiah untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu di bidangnya
masing-masing.
Untuk
mengurangi hambatan di atas peneliti dapat menghubungi lembaga lain atau
koleganya untuk saling menukar informasi dan meminjam buku-buku ilmiah yang
baru. Selain dari itu, usaha menerjemahkan buku-buku berbahasa asing, terutama
yang berbahasa Inggris, perlu digalakkan dan ditangani dengan sungguh-sungguh.
Bagian
IX
PUBLIKASI
PEMERINTAH
Latar
Belakang
Publikasi pemerintah sekarang yang
penting sumber informasi ilmiah. Pemerintah dari berbagai Negara sekarang memelihara
satu atau lebih laboratorium penelitian dan jumlah ini terus berkembang. India
sendiri telah menetapkan sebelas laboratorium nasional sejak tahun 1947 yang
salah satunya adalah laboratorium kimia. Sebuah kisah menarik ini, “india
berpaling kepada ilmu pengetahuan,” adalah Mrs. Mc. Bains Koran. Jumlah besar
karya ilmiah yang berharga ini dilakukan disebagaian ditutupi oleh industri dan
universitas laboratory. Laboratorium pemerintah yang didirikan untuk
kesejahterssn Negara secara keseluruhan dan berada dalam laboratorium mereka
menganggap diluar tanggung jawab atau kepentingan.
Laporan dari banyak penelitian
ilmiah ini muncul hanya dalam publikasi pemerintah. Laporan yang muncul dalam
majalah ilmiah lain yang disponsori oleh pemerintah atau penerbit lain dan
ditutup oleh jurnal abstrsk dan pengindeksan serial sekarang tidak ada masalah
ketika dating ke lokasi mereka. Ini adalah jumlah besar bahan dikeluarkan
sebagai barang terpisah pada waktu yang tidak teratur membuat publikasi
pemerintah sulit untuk bersaing dan menemukan bila diperlukan. Publikasi
pemerintah meliputi banyak informasi kimia berharga. Mereka muncul sebagai
bulletin, teknis kertas, pamphlet, daun memungkinkan dan buku-buku mereka yang
tercatak atau diproses (fotokopi atau duplikasi dalam beberapa bentuk serupa),
dan jumlah mereka banyak.
Contoh-contoh
Publikasi
Publikasi pemerintah amerika Serikat
dibahas disini paling lengkap karena mereka mungkin yang paling banyak dan
karena Amerika menggunakan bahan lebih sering. Juga, ada banyak kesamaan dalam
pekerjaan laboratorium pemerintah dan instansi terkait dengan ilmu pengetahuan.
Ini tidak boleh ditafsirkan bahwa publikasi ilmiah pemerintah Amerika Serikat
yang perlu yang paling penting.
Amerika Serikat, pemerintah federal
sejumlah laboratorium pemerintah telah melakukan kerja penelitian dalam kimia
selama bertahun-tahun dan penerbitan hasil secara pribadi, dalam
majalah-majalah yang tidak publikasi pemerintah. Sebelum Perang Dunia II,
jumlah penelitian kimia yang dilakukan oleh instansi pemerintah relative kecil
sebanding dengan yang dilakukan di industri swasta dan universitas. Namun,
banyak pekeerjaan berharga yang dilakukan di laboratorium pemerintah sebelum
Perang Dunia II. Laboratorium ini prihatin tidak dalam kewajiban tersebut.
Penelitian di Nasional Bureau of Standards, misalnya di bidang kesejahteraan
public dan menghaslkan bahan kimia tersebut dan informasi ilmiah yang tidak
tersedia dari sumber lain.
Selama Perang Dunia II, sebuah
ekspansi besar-besaran dalam penelitian ilmiah pemerintah terjadi dan sekarang
ini merupakan kegiatan utama. Editorial kimia dan teknik berita 30, 3077 (1952)
yang berjudul “Paman Sam Peneliti” mengutip sebuah studi oleh paul B. Beal yang
menyatakan bahwa 22 badan-badan pemerintah yang bertanggung jawab ats
pengeluaran $ 1,6 milyar pada tahun 1952 untuk penelitian ilmiah dan bahwa,
selain bekerja di laboratorium pemerintah, banyak dari penelitian ini dilakukan
untuk kontrak dengan sekitar 1.500 organisasi industri dan sekitar 150
perguruan tinggi dan universitas. Juga, menurut Beal, adalah extremely sulit
untuk memperkirakan berapa banyak dari total yang diperuntukkan untuk menunda
nasional. Dan tujuan militer, dan berapa banyak untuk proyek-proyek
non-militer. Fondasi sains nasional diciptakan oleh tindakan kongres pada Mei,
10, 1950; salah satu fungsi lembaga federal ini adalah untuk mengembangkan
kebijakan nasional untuk mempromosikan riset dan pendidikan dasar dalam bidang
sains. Perkembangan ini bias ditunjukkan tetapi mereka cukup untuk menekankan
fakta bahwa pekerjaan penelitian kimia.
Mengorganisir dalam lembaga pemerintah dibagian yang jauh
lebih besar dari total yang digunakan untuk menjadi. Tepat betapa pentingnya
publikasi pemerintah dan pemerintah menerbitkan dokumen-dokumen yang sebagai sumber
informasi kimia dalam perbandingan dengan buku-buku, majalah dan paten, adalah
sulit untuk ditentukan. Beberapa hasil penelitian pemerintah diklasifikasikan,
setidakmya utnuk sementara, yang mencagah publikasi. Ketika declassified
informasi sering diterbitkan di jurnal. Bebrapa dilaporkan pemerintah dalam
bulletin, sekebaran, laporan, dan kertas-kertas dan beberapa tetep tidak
dipublikasikan, seperti biasa beberpa dunia, ssebagai dokumen meroneo diketik
atau tahu yang mengemudi atsu salinan microfilm
Ketiak seorang melalui pencarian
literature kimia dibuat sumber pemerintsa ini harus dipertimbangkan dalam dari
hasil penelitian kimia, pemerintah menerbitkan banyak informasi yang penting
bagi kimiawan. Ini termasuk bibliografi, penyusunan data fisik dan kimia, kimia
standar utnuk peralatan dan perlengkapan, informasi mengenai penanganan yang
aman dan penyimpanan bahan kimia dan banyak jenis lainnya terlalu banyak untuk
disebutkan banayk informasi ini tidak tersedia ditempat lain. Pemerintah juga
menerbitkan informasi dalam jumlah besar untuk sumber daya alam, perdagangan
dan lain-lain statistic informasi bisnis yang ada yang berharga bagi industri
kimia. Dalam banyak kasus informasi ini dapat diperoleh hanay dari
sumber-sumber pemerintah ini untuk digunakan dalam operasi bisnis dan riset
pasar kimia. Kuantitas dan perkembangan baik pada publikasi ini membuat sulit
untuk mencari informasi. Pemerintah Negara yang bersatu dikatakan penerbit
terbesar di dunia setidaknya dilihat dari jumlah masing-masing produk. Bahkan
dengan besar berjaga-jaga, mudah mungkin untuk dokumen pemerintah kehilangan
minat dan nilai. Dosis ruang diskusi tidak menginjinkan lingere semua pertama
pemerintah berbagai publikasi. Kata benda yang mengikuti hanya dimaksudkan
untuk memberikan ide-ide beberapa jenis informasi evaluable dari berbagai
instansi pemerintah dan untuk membantu para ahli kimia menemukan bahwa
publikasi dimana ia tertarik. Catatan ini hanya meliputi lembaga-lembaga yang
paling sering mempublikasikan materi yang menarik bagi ahli kimia atau industri
kimia. Apalagi sumber informasi tentang publikasi mereka akan mengikuti.
Lembaga tersebut duatur sesuai dengan rencana pemerintah sekarang organisasi.
1.
Departemen
Pertanian U.S
Berbagai instansi di lingkungan
departemen pertanian kimia menrbitkan banyak minat dan cukup materi statistik.
Pekerjaan penelitian mencakup semua fase kimia pertanian, penggunaan produk
pertanian di industri, pengolahan makanan, gizi dan bidang lainnya. Beberapa
lembaga tersebut; Biro ekonomi peertanian. Biro menerbitkan semua jenis
informasi statistic dan survey ekonomi. Biro kimia industri dan pertanian.
Penekanan utama di sini adalah penelitian kimia untuk menemukan outlet untuk
produk pertaanian (baik untuk industyri makanan dan menggunakan). Biro industri
hewan. Banayk pekerjaan kimia alami diterbitkan berurusan dengan daging, kulit,
bulu, binatang gizi, dan topic serupa.
Biro industri Dairy. Sejumlah besar
pubikasi kimia berhubung dengan gizi sus sapi, susu dan produk susu berasal di
sini. Biro tanaman etimologi dan Karantina. Banyak penelitian kimia kerja yang
dilakukan biro ini pada penemuan dan pengembangan insektisida dan fungisida.
Laboratorium produk hutan.
Laboratorium ini, dipelihara di Madison. Wisconsin, isu banyak bulletin teknis
yang berhubungan dengan kimia kayu, kertas, selulosa dan produk kayu lain
seperti terpentin dan dammar. Biro gizi manusia dan ekonomi rumah. Penelitian
kimia biro ini berkaitan dengan gizi, persaingan makanan dan tekstil. Biro
tanaman industri, tanah, dan teknik pertanian. Masalah biro ini banyak
informasi mengenai tanah pupuk kimia.
Departemen pertanian laboratorium di
seluruh Amerika Serikat, tertapi kebanyakan biro memiliki laborastorium di
pusat penelitian pertanian di Beltsville, Maryland, dimana banyak penelitian
dilakukan.
2. Departemen Komersial U.S
Lembaga dalam departemen juga
menyediakan baik kimia dan informasi bisnis. Biro sensus, Fakta dan statistic
yang dikumpulkan diterbitkan tidak ternilai bagi industri kimia dalam
penelitian bisnis mereka. Sensus pertanian, sensus-sensus bisnis dan mineral,
industri semua nilai besar. Ada yang lain selain kompilasi khusus untuk sensus
penduduk. Pembuatan sensus menunjukkan antara lain, jumlah dalam jenis pabrik
kimia dan nilai dari banyak produk kimia nampan di obat-obatan dan cat.
Factor-faktor untuk industri laporan ini diterbitkan bulanan, kuartalan dan
setiap tahun untuk menyediakan data saat ini. Ini mencakup banyak bahan kimia
dan produk yang menggunakan bahan kimia dalam pembuatan. Statistic perdagangan luar
negri sekarang di biro sensus;
Ini di mana dipindahkan dari biro
perdagangan dalam dan luar negri pada tahun 1941. Laporan perdagangan asing
memberikan informasi saat ini diterbitkan bulanan statistic perdagangan ini
tidak ternilai dan memiliki cakupan yang luas.
Biro perdagangan asing dan domestic.
Publikasi ini bersama-sama dengan orang dari biro sensus merupakan dasar dari
bisnis kimia perpustakaan. Penerbitan dan pelayanan dari biro rumah tangga
asing dan perdagangan atau banyak; dengan firman talang air dan
mendistribusikan informasi yang meliputi kondisi bisnis di rumah dan di luar
negri sangat luas. Banyak dari kerja dan banyak dari publikasi berhubungan
langsung dengan bahan kimia dan bahan kimia industri. Biro nasional standar.
Biro ini tidak banyak pekerjaan kimia dan menerbitkan informasi yang berguna
mengenai kimia analitik, kimia organic, kimia fisik, kimia anorganik, disamping
berbagai tahapan industri kimia. Hal ini menetukan dan menyediakan banyak
informasi mengenai konstan dan fisik bahan. Ini juga sumber informasi dari
banyak jenis.
Kantor paten. Lembaga ini telah
dibahas dalam bab kantor paten layanan teknis. Prinsip fungsi kantor layanan
teknis untuk menyediakan semua laporan penelitian declassified yang berasal
dari tentara angkatan laut dan angkatan udara, laboratorium dan organisasi
swasta yang melakukan penelitian dibiayai oleh pemerintah federal. Pandua
materi ini adalah suatu indeks yang disebut laporan pemerintah kita. Kantor
pelayanan teknis juga berfungsi sebagai pusat informasi mengenai data teknis
dalam ion pagar betis dari pemerintah.
3.
Departement Angkatan Bersenjata U.S
Departement tentara korps kimia
(sering disebut layanan perang kmia). Dan beberapa lembaga lain tentara
merupakan pekerjaan kimia. Banyak pekerjaan ide dilakukan oleh organisasi
swasta di bawah kontrak dengan tentara. Departemen Angkatan Laut. Kantor melakukan penelitian
laut cukup banyak pekerja di kimia. Kerja juga dilakukan untuk angkatan laut
oleh organisasi swasta berdasarkan kontrak.
Departemen Angkatan Udara. Beberapa
karya riset yang dilakukan oleh angkatan udar atau untuk itu oleh kontraktor
adalah bunga kimia US Departemen kesehatan, pendidikan dan wallfware.
Departemen termasuk badan-badan dari bekas badan federal. Pelayanan kesehatan
public. Kimia banyak pekerjaan, termasuk biokimia, kimia organic, kimia farmasi
dan banyak orang lain merasa iscarried pada institute nasional kesehatan.
Administrasi makanan dan obat-obatan. Sebagaian besar dari pekerjaan
badan-badan ini berkaitan dengan menegakkan hokum makanan dan obat-obatan.
Memang banyak pekerjaan analisi dan merumuskan dan menerbitkan standard an
metode analisis untuk makanan dan obat-obatan.
4. Departemen dalam Negeri U.S
Survey geologi. The survev’s geologi
adalah cabang tidak banyak bekerja di
geokimia. Analisis bebatuan dan mineral dan studi distribusi pada reserves
mineral deposit, termasuk petroleum. Sumber daya air dipelejari oleh cabang
distribusi, kuantitas dan mineral baik dari permukaan dan air bawah tanah dari
Amerika Serikat. Publikasi cabang sangat berharga pada informasi tentang air
untuk domestic, pertanian, dan digunakan di industri.
Beurau ranjau. Biro ini tidak dalam
jumlah besar bekerja di utilitation mineral, persiapan dan utilitation logam
dan non-logam, metalurgi, batu bara, gas, dan petroleum, bahan peledak (baik
untuk makna dan penggunaan militer), dan explotion, sumber banyak ini adalah
bunga kimia.
Biro resources, statistic ekonomi
telah banyak menerbitkan informasi mengenai logam, mineral, petroleum dan batu
bara. Cabang ini juga mengumpul pasokan informasi tentang sumber daya mineral
asing, persediaan, perdagangan dan item lainnya. Publikasi tunggal yang paling
berharga dari biro tambang mineral adalah buku tahunan.
5.
Departemen Of The Treasury U.S
Bahan-bahan yang dipublikasikan di
sini sebagaian besar statistic. Biro pendapatan dan pendapatan statistic
menunjukkan kembali oleh industridan kelompok industri, industri kimia diantara
mereka. Biro data juga beguna untuk mengumpul industri alcohol. Biro lain
menerbitkan statistic berguna bagi industri kimia.
6.
INDEPENDEN
Pendirian
Komisi energy atom. Komisi menerbitkan
sejumlah besar kertas setelah informasi diklasifikasi dari status
rahasia itu mener itkan kompilasi dari berbagai macam banyak karya ilmiah yang
menarik yang paling berharga adalah ilmu nuklir abstrak yang mencakup
dokumen-dokumen diklasifikasi dari komisi energy atom. Salinan dokumen rahasia
biasanya didistribusikan oleh kantor pelayanan teknis (departemen perdagangan).
Ada juga sejumlah perpustakaan di Amerika Serikat yang tekah ditetapkan sebagai
perpustakaan untuk didepositori file lengkap yang tidak diklasifikasikan dan
laporan yang diklasifikasiakn. Perpustakaan ini tercantum dalam pengantar untuk
setiap angka ilmu nuklir abstrak.
System cadang federal. Publikasi
dari lembaga ini adalah dari kepentingan bisnis industri kimia, disamping
cadangan mineral federal indeks produksi, system cadangan federal menerbitkan
indeks yang berkaitan dengan kimia dan produk kimia. Dasar ilmu pengetahuan
nasional. Dasar ilmu pengetahuan nasional diciptakan oleh tindakan kongres, 10
mei 1950 dalah sangat penting di ahen federal. Semua ilmuan termasuk ahli
kimia, harus tetap berhubungan dengan tugasnya. Ini adalah satu-satunya lembaga
yang bersangkutan dengan seluruh kebijakan untuk penelitian sains bagi
bangsa-bangsa secara keseluruhan. Salah satu studi adalah survey pengembangan
lembaga alfederal. Survey ini juga mencakup penelitian sedang dilakukan oleh
kontrak agen dan pemerintah pendidikan atau lembaga nirlaba lainnya.
Dari ilmu-ilmu akademis nasional dan
dewan riset nasional. Sumber-sumber lain organisasi ini bukan lembaga
pemerintah dalam sains biasa. Lembaga Smithsonian, lembaga ini diciptakan oleh
kongres pada tahun 1846 di bawah syarat-syarat liar dari James Smithson, yang
mewariskan kekayaannya kepada pemerintah AS. Hal ini sebagaian dari apresiasi
oleh pendukung kongres. Lembaga yang mencakup banyak variable ilmiah dan
teknis. Sebuah proporsi besar publikasi Smithsoni tidak dicetak pada biaya
public dan tidak catalog untuk ditangani oleh pemerintah percetakan.
Tariff komisi. Yang menrbitkan
surfay berharga dan pembeljaran konferehensif dari banyak bahan kimia, produk
kimia dan industri yang juga menyediakan banyak informasi tentang industri
asing dan bahan-bahan statistic yang cukup besar. Komisis ini, biro asing dan
perdagangan domestic, dan biro prinsip tambang adalah sumber informasi mengenai
sumbar daya alam dan industri negara asing. Satu sangat berharga adalah
publikasi laporan tahunan produksi dan penjualan ilmiah kimia organic, yang
memberikan statistic dan menunjukkan pabrik dan penggunaan masing-masing dari
ribuan produk ini juga memberikan diskusi mengenai pembangunan di setiap
bidang.
Bagian
X
BUKU-BUKU
A.
Defenisi
Buku
adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah
satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran
kertas pada buku disebut sebuah halaman. Seiring dengan perkembangan dalam
bidang dunia informatika, kini dikenal pula istilah e-book atau buku-e (buku
elektronik), yang mengandalkan computer dan internet (jika aksesnya online).
B.
Penggunaan
Buku Kimia
Buku
kimia mempunyai peranan yang paling penting. Mereka memperkenalkan kepada
pemula untuk bidang umum ilmu atau beberapa bagian dari itu, menjelaskan
teori-teori baru dalam terang fakta telah diketahui, dan membantu untuk
mengkordinasikan dan mensistemasikan pengetahuan. Mereka memberikan informasi,
lengkap atau tidak, dalam bentuk yang disesuaikan untuk referensi cepat, dan membimbing
pencari kembali ke sumber asli melalui karya kutipan bersejarah mencatat
perkembangan ilmu pengetahuan, buku-buku popular melalui public ke dalam miseri
dan menimbulkan minat dan dukungan, dan risalah di berbagai bidang kimia
pembaca memberikan manfaat dari pengalaman kerja atau penelitian gabungan dari
banyak pekerja. Siapa yang akan mengatakan bahwa ahli kimia dapat bergantung
pada jurnal sendiri?. Kenyataan bahwa hamper 2.000 buku-buku baru menengenai
kimia yang diterbitkan setiap tahun membuktikan permintaan mereka.
Buku
menawarkan titik awal yang jaman dalam banyak literature pencarian. Jika subyek
pencari baru, ia akan secara alami membaca pembahasan umum mengenai topic, jika
seperti itu ada, maka beralih ke risalah yang lebih rinci, dan akhrnya
menemukan jalan ke dalam jurnal kepustakaan. Di sisi lain, jika ia sedang
mencari fakta tertentu, sebuah buku dapat memberikan apa yang dia inginkan dan
pencariannya berakhir.
Keuntungan
umum buku sebagai titik awal merupakan kemudahan referensi dan dalam banyak
kasus, lebih atau kurang klasifikasi logis dari subjek. Kerugian mereka adalah
bahwa mereka berada di luar tanggal pada saat mereka akan dicetak dan karenanya
harus dilengkapi dengan jurnal yang lebih baru. Hal ini terutama benar untuk
setiap topic yang sedang mengalami perkembangan pesat, seperti misalnya, kimia
yang berkaitan dengan energy atom atau polimerisasi dan plastic.
Ahli
kimia pada akhirnya tergantung pada sumber-sumber asli untuk informasi, dan dia
akan kembali ke dalam setiap pencarian besar ini. Biasanya sumber aslinya
adalah artikel jurnal atau paten, tetapi mungkin tesis, bulletin, atau bentuk
lain publikasi terpisah. Kadang-kadang mungkin itu adalah sebuah buku.
Kontribusi baru dari teori atau fakta baik jarang diterbitkan dalam bentuk buku
oleh penulis saat ini. Kebanyakan buku adalah sumber informasi sekunder.
Penekanan
khusus dalam pembahasan ini ditempatkan pada buku-buku yang berfungsi sebagai
panduan untuk artikel asli dan dengan demikian sangat memudahkan fasilitas
pencarian kepustakaan. Sebuah buku refrensi yang tidak menyebutkan kewenangan
sepenuhnya harus dianggap sebagai tidak lengkap.
C.
Jenis-Jenis
Buku Kimia
Jenis
buku-buku kimia dan nilai refrensi mereka yang dapat dipertimbangakan dalam
urutannya yaitu: karya-karya ensiklopedia, risalah cakupan yang luas, indeks,
kamus rumus, buku-buku umum (termasuk buku cetak), monograf, kamus dan
glosarium, buku-buku dari konstanta dan abel kompilasi, buku saku, penerbi
serial, rumus-rumus, dan perdagangan catalog.
1. Karya-karya
Ensiklopedia
Karya
ensiklopedia yang mencakup semua hal mengenai kimia jarang dicoba sekarang.
Pengetahuan kita luas sehingga secara praktis tidak mungkin untuk menutupi
semuanya dalam satu refrensi kerja, bahkan dengan menggunakan ringkasan yang
relative pendek yang merupakan cirri khas dari sebuah ensiklopedia.
Baru-baru
ini dan pada saat ini sangat besar batasan terhadap cakupan untuk pemilihan
topic-topik tentang informasi yang paling sering dibutuhkan atau bidang
tertentu dalam kimia. Nama karya-karya rujukan ini sering menyesatkan-itu
sering disebut kamus. Mungkin bentuk ini timbul karena topic biasanya
dimasukkan dalam rutan abjad. Ensiklopedi tersebut khususnya berguna jika yang
ringkasannya relaif pendek dari sebuah topic yang dibutuhkan; orang yang meliputi
referensi dan bibliografi yang berharga dalam pencarian lebih luas.
Ensiklopedi
Baru-baru Ini
Thorpe’s
Dictionary of Applied Chemistry (4th ed., 12 jilid., London, Longmans, Green, 1937-1954). Edisi ini lebih
luas cakupannya daripada yang sebelumnya dan merupakan karya acuan umum untuk
berbagai cabang kimia dan industry kimia. Hal ini tidak lagi terbatas pada
kimia terapan. Setelah volume 5, jauh lebih banyak penekanan pada kimia fisik
dari kimia terapan, dan artikel fisik-kimia yang seharusnya sudah termasuk
dalam jilid 1-5 kemudian dimasukkan dalam volume sebelumnya yang telah diubah
judulnya sebanyak mungkin. Hanya empat jilid pertama edisi ini telah
dikeluarkan ketika terputus oleh Perang Dunia II. Lima buku yang pertama diedit
oleh Sir Jocelyn Thorpe dan Martha Whiteley, sisanya oleh Whiteley dan A. J. E.
Welch, dengan asisten dari dewan redaksi (I. M. Heilborn, H. J. Emeleus, H. W.
Melville, dan A. R. Tood). Entri, yang disusun secara alfabetis, panjang
bervariasi dari beberapa baris ke sejumlah halaman, dan mencakup berbagai
referensi ke artikel jurnal. Edisi ini memiliki indeks kolektif. Ini adalah
ensiklopedia kimia yang paling komprehensif dan karya-karya refrensi yang
sangat diperlukan. Edisi pertama Thorpe’s Dictionary Applied Chemistry muncul
tahun 1300 dalam 3 volume, yang kedua dalam 5 volume dan ketiga (1921-1927)
dalam 7 volume. Edisi ketiga memiliki lampiran dari 2 jilid (1934-1936). Edisi
1-3 yang diedit oleh Sir Edward Thrope.
Ensiklopedia
lama
Fehling
Neues HandwÖrterbuch der Chemie (10 vols., Braunschewig, Vieweg, 1871-1930)
merupakan kelanjutan dari Liebig, Poggendorff, dan Wöhler (lihat bawah). Daftar
pustaka yang baik dan mengandung banyak informasi tidak mudah ditemukan di
tempat lain. Frémy’s Encyclopedia chimique (10 buku-buku tebal atau 94 jilid.,
di Paris, Dunod, 1882-1887, dengan indeks pada tahun 1899) adalah karya yang
sangat komprehensif untuk semua bidang kimia dan mencakup hampir semua yang
diketahui pada waktu dikeluarkan. Ensiklopedia ini berisi ribuan ilustrasi.
2. Risalah
atau Buku Penuntun
Jenis
publikasi yang memperlakukan subjek secara sistematis dan memberikan banyak
referensi ke jurnal kepustakaan, ada pada banyak bidang kima. Buku penuntun
Jerman sering disebut “Handbücher”. Risalah yang sangat berharga sumber buku-buku
dalam karya referensi karena mereka berkumpul dalam jumlah besar dari
informasi. Salah satu kelemahan yang sangat besar dan yang komprehensif,
seperti, misalnya, Beilstein’s Handbuch der organischen Chemie, adalah bahwa
hampir mustahil untuk menjaga mereka di mana saja hampir up to date. Kelemahan
lain untuk risalah besar yang muncul selama jangka waktu yang panjang adalah
masalah bagian pertama sudah ketinggalan jaman sebelum karya selsai.
Namun,
risalah sering berlaku system monograf; bagian yang harus begitu dihargai dan
tanggal mereka dipertimbangkan. Untuk menentukan tanggal yang sebenarnya ketika
sebuah bagian dari sebuah risalah ini dikeluarkan dan periode waktu yang
meliputi, biasanya diperlukan untuk memeriksa kata pengantar dengan hati-hati,
terutama dalam hal cetak ulang.
Hal
lain yang perlu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan sebuah risalah dengan
pencari yang tidak dikenal adalah kebutuhan untuk mempelajari metode
mengorganisasi sebelum ia menggunakannya. Beberapa risalah memiliki indeks
untuk setiap volume, sementara yang lainnya tidak, dan kualitas indeks
bervariasi. Biasanya, metode ini mengorganisasi, singkatan yang digunakan, dan
lingkup karya yang diberikan dalam kata pengantar atau pendahuluan. Tidak ada
risalah yang mencakup kimia secara keseluruhan. Yang paling penting pada
beberapa akan diberikan nanti.
3. Indeks
dalam Bentuk Buku
Jenis
publikasi ini jarang menilai dalam kimia karena jurnal abstrak dan serial
indeks adalah yang paling berguna untuk keputakaan. Ada beberapa indeks yang
berharga dari kimia umum menarik dibahas dalam bab 8, Indeks. Beberapa hal lain
telah dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti misalnya The Ring
Index (Patterson dan Capell) untuk kimia organic, The Color Index (Rowe) unuk
pewarna, dan beberapa rumus leksikon. Ini akan dipertimbangkan kemudian.
4. Formula
Lexicons
Formula
Lexicons ini adalah buku dimana senyawa kimia disusun sesuai dengan rumus
empiris dengan system yang sederhana, sehingga nama dan deskripsi kompleks
dapat diubah sekaligus. Dalam kasus beberapa rumus oraganik, rumus empiris yang
sama mewakili sejumlah besar senyawa, maka perlu untuk mengetahui sesuatu
tentang nomenklatur. Ini adalah kelemahan dari rumus indeks. Jika seorang
kimiawan berharap untuk mendapatkan informasi tentang senyawa tertentu dari
sebuah penuntun atau jurnal abstrak. Dia harus tahu nama yang digunakan untuk
itu, dan hal ini merupakan kesulitan dalam konsultasi mereka. Tatanama kimia
telah meningkat secara bertahap sejak Guyton de Morveau dan rekan-rekannya
memperkenalkan system tata nama pertama pada tahun 1787, namun masih ada
nama-nama yang beragam untuk senyawa, terutama yang organic, dan nama-nama
seringkali berbeda dalam berbagai bahasa. Di sisi lain, sesuai rumus kimia
persis dengan komposisi dan internasional.
Tiga
rumus leksikon yang diterbitakan antara 1884 dan 1926, tetapi tidak ada yang
muncul setelah 1926 karena kebutuhan terhadap mereka sebagai publikasi terpisah
berakhir setelah jurnal abstrak yang diterbitkan rumus indeks. Dua dari tiga
leksikon ini adalah untuk senyawa oraganik (Richter dan Stelzner), dan yang
lainnya (Hoffmann) adalah senyawa anorganik.
Max
Moritz Richter’s Lexikon der Kohlenstoffverbindungenmeliputi senyawa organic.
Edisi pertama muncul pada tahun1884, edisi ketiga dalam empat jilid dan membawa
literature turun melalui 1909 (Leipzig, Voss, 1910-1912). Ini member refrensi
untuk edisi ketiga Beilstein’s Handbuch der Chemie organischen dan untuk
kepustakaan yang idak tercakup oleh Beilstein; itu sama besar dengan
serangkaian utama edisi keempat Beilstein untuk periode yang dicakup. System
dari penyusunan rumus pada Richter, yang diberikan dalam kata pengantar dalam
empat bahasa, telah digunakan dalam indeks rumus sejumlaj jurnal dan karya
refrensi sejak saat itu.
Robert-Stelzner’s
Literature-Register der organischen Chemie (5 jilid., Berlin, Verlag Chemie,
1913-1926) mencakup periode 1910-1921 pada senyawa organik. Ia menggunakan
system Richter untuk memasukkan rumus; itu memberi nama, dan tentang senyawa
dan referensi penuh terhadap kepstakaan; tetapi tidak memberikan referensi
kepada Beilstein. Stelzner’s Literatur-Register adalah sama banyak dengan
lampiran pertama edisi keempat Beilstein’s Handbuch der organischen Chemie.
Ritcher’s
Lexikon dan Stelzner’s Literatur-Register di antara mereka memberikan rumus
dari sejumlah senyawa organic yang dikenal pada tahun 1921. Rumus indeks
pertama yang pernak dikeluarkan untuk Beilstein’s Handbuch der organischen
Chemie oleh penerbit muncul di edisi keempat, dan hal itu memberikan rumus untuk
semua senyawa dalam seri utama dan lampiran yang pertama, tetapi mencakup
kepustakaan pada tahun 1919. Namun, Richter dan Stelzner masih berguna karena
mereka memasukkan senyawa pada bagian IV dari edisi keempat dari Beilstein yang
tidak tercakup oleh indeks sendiri, dan untuk refrensi The Chemisches
Zentralblatt yang dalam arti, mereka melayani sebagai suatu indeks rumus untuk
senyawa organic pada tahun 1921.
MK
Hoffmann’s Lexikon der anorganischen Verbindungen (3 vols.bound as 4, Leipzig,
Barth, 1912-1919) memberikan rumus untuk semua analitis dan sintetis senyawa
anorganik yang dikenal sampai tahun 1919 dan meliputi kepusakaan sampai April
1909. Karya ini tidak memakai sisem Richter untuk memasukkan rumus tetapi
memiliki salah satu rumus sendiri yang dijelaskan dalam pendahuluan Volume 1,
Bagian 1. Berisi refrensi sampai edisi ke-7 dari Gmelin-Kraut Handbuch der
anorganischen Chemie (lihat halaman 26) dalam arti, ini adalah indeks rumus
untuk itu.
Kini
abstrak melalui indeks rumus untuk kedua senyawa organic dan anorganik pada
tahun 1920, dan memulai Chemisches Zentralblatt memulai indeks rumus organic
pada tahun 1925. Untuk periode 1910-1920 tidak ada kompilasi sistematis dari
senyawa anorganik dengan rumus.
5. Buku
Umum (Termasuk Buku Pelajaran)
Selain
penuntun raksasa ada sejumlah besar buku tentang kimia dalam semua aspeknya.
Beberapa karya refrensi pada skala lebih kecil, beberapa buku pelajaran, dan
beberapa buku pedoman praktis; sejarah dan juga karya-karya popular milik
kelompok. Yang lebih penting dari itu sekarang yang digunakan akan ditemukan
salam daftar kalsifikasi pada bab ini. Tidak jelas garis demarkasi dapat
digambarkan antara karya refrensi dan banyak dari buku pelajaran lanjutan yang
memperlakukan sebuah objek secara menyeluruh dan memberikan berbagai kutipan
untuk jurnal kepustakaan.
6. Monograf
Monograf
adalah penuntun yang cukup penuh pada topic khusus. Karena rentang yang
terbatas dapat memberikan informasi rinci yangdituntut oleh pekerja riset dan
belum dapat dikendalikan menjadi ukuran dan dikeluarkan secara keseluruhan,
bukan pada bagiannya. Dibandingkan dengan penuntun besar pada sunjek, serangan
monograf menawarkan kerangka kerja yang lebih fleksibel. Kesinambungan umumnya
tidak menderita oleh penambahan volume baru atau revisi lama sampai batas
tertentu yang diinginkan.
Contoh
dari serangkaian monograf pada subjek tertentu adalah Die Chemische Analyse,
diterbitkan oleh Enke, Sutgart (1907); ada lebih monografi oleh berbagai
penulis di seri ini, lebih banyak yang sekarang pada edisi ketiga.
Monograf
pada kimia yang disponsori oleh American Chemical Society dan diterbitkan oleh
Reinhold, New York, adalah contoh yang sangat baik dari monografi seharusnya;
mereka memberikan ringkasan pengeahuan yang ada pada subjek tertentu dan
mencakup banyak refrensi jurnal dan kepustakaan paten. Dua judul baru dalam
American Chemical Society The furan, oleh A. P. Dunlop dan F. N. Peters (1953),
dan Copper, yang disunting oleh Allison Butts (1954).
7. Kamus
dan Glosari
Kamus
kimia adalah buku yang mendefenisikan istilah kimia dan memberikan
penggunaannya. Sebuah karya yang berhubungan dengan mata pelajaran disusun
dalam urutan abjad adalah sebuah ensiklopedia. Sayangnya, perbedaan ini belum
pernah diamati dalam penamaan banyak karya kimia; istilah kamus dan ensiklopedia
telah digunakan secara bergantiian dan kita harus melihat publikasi untuk
mengetahui hal itu. The Bibliography of Monolingual Scientific and Technical
Glossaries (Paris, UNESCO, 1955-, tersedia dari Kolombia Univ. Press, New York)
adalah diklasifikasikan oleh subjek, daftar glosarium diterbitkan di banyak
Negara dan banyak bahasa, dan mencakup semua cabang ilmu murni dan terapan
untuk karya-karya yang ada; sejumlah besar kamus kmia disertakan. Bibliografi
ini akan diterbitkan dalam beberapa jilid. Volume 1 (1955) dikhususkan untuk
Standar Nasional.
Beberapa
kamus yang paling berguna diantaranya adalah:
·
Bennet, Harry. 1947. Kimia dan Teknik Concise Dictionary. New
York. Chemical Pub. Co, (1055 hlm).
·
Gardner. 1948. Chemical Synonyms dan Perdagangan Nama, 5th edition.
Direvisi oleh El Cook, London, Technical Press., 558 hlm.
·
Hackh dan Grant’s Chemical Dictionary, 3rd
ed., Philadelphia, Blakiston, 1944. 925 hlm.
·
Hayes, William, Kimia Perdagangan Nama
dan Komersial Sinonim, 2nd ed., New York, Van Nostrand, 466 hlm.
8. Buku
Konstanta
Kimia
sering membutuhkan untuk menggunakan data numeric relative terhadap sifat fisik
dan sifat kimia zat serta jenis data numeric dalam karya mereka. Sejumlah besar
materi factual ini telah disusun dalam buku-buku, biasanya dalam bentuk tabel.
Kompilasi ini seharusnya dikonsultasikan erlebih dahulu untuk melihat apakah
informasi yang diinginkan sudah dimasukan karena mencari jurnal kepustakaan
untuk berbagai jenis informasi yang cenderung memakan waktu.
9. Seri
Penerbit
Buku
ilmiah sering digunakan sebagai anggota dari rangkaian yang semuanya berada
pada subjek umum yang sama. Beberapa seri seperti biasanya diatur oleh
penerbit, tetapi mungkin hasil dari kesepakatan bersama antara penerbit dan
beberapa organisasi ilmiah. Banyak dari mereka yang diedit oleh orang terkenal.
Jika sebuah buku milik serangkaian disponsori oleh masyarakat ilmiah atau ke
seri yang memiliki ilmuwanyang berkedudukan tinggi sebagai editor, kualitas
pekerjaan terjamin.
American
Chemical Society Monograph Series, yang dierbitkan untuk masyarakat oleh
Reinhold, New York, adalah sebuah contoh yang luar biasa dari seri tersebut.
Lainnya adalah Seri Energi Nuklir Nasional, yang dierbitkan oleh McGraw-Hill,
New York; itu diatur melalui Departemen Perang Amerika Serikat dan Komisi
Energi Atom.
Ada
berbagai macam jenis buku yang diterbitkan dalam seri buku kimia; sebagian
hanya terdiri dari monograf; lainnya dari buku pengajaran, dan lain-lain hanya
dari laboratorium manual. Masih ada hal lain yaitu bermacam-macam koleksi yang
mengindikasikan bahwa penerbi yang tidak mengkhususkan diri pada buku-buku
ilmiah atau teknis dalam mengelurkan beberapa dari mereka.
Hal
ini tidak perlu untuk mengetahui nama daris eri untuk memastikan keberadaan
sebuah buku di dalamnya, karena masing-masing buku ini dikeluarkan secara
terpisah di bawah judul dan pengarang sendiri oleh para penerbit dengan cara
yang biasa. Kadang-kadang waktu yang tersimpan dalam menemukan sebuah monografi
mengenai topic tertentu secara sepintas melalui seri daftar penerbit dan
kemudian menunjuk catalog yang sesuai unttuk melihat apakah itu adalah anggota
dari seri tertentu.
10. Rumus
Rumus
adalah buku tanda terima, mereka ini dimaksudkan terutama untuk yang mempunyai
sedikit kecerdasan, tetapi mereka telah menggunakan itu dan kadang-kadang
mereka memberikan informasi tentang aspek-aspek tertentu terapan kimia yang
sulit untuk menemukan cara-cara lain. Dua buku yang paling berguna adalah:
·
Bennett, H. (ed.), The Chemical
Formulary, 10 jilid., New York, Chemical Publishing Co, 1934-1956.
·
Hopkins, AA (ed.), Standard American
Encyclopedi of Formulas, New York, Grosset & Dunlap, 1953.
11. Perdagangan
Katalog
Nilai
catalog sebagai sumber informasi yang dibahas dalam kaitannya dengan
perdagangan kepustakaan.
D.
Klasifikasi
Refrensi Buku-buku Kimia
Dalam
mempertimbangkan setiap jenis, contoh yang diberikan adalah dari minat kimia
umum yang paling berguna. Kemudian, diklasifikasikan dafar dari buku-buku yang
paling umum yang bermanfaat untuk berbagai bidang kimia. Buku refrensi yang
lebih tua dimasukkan karena mereka sering berguna dalam pencarian paten dan
dalam mencari informasi sebelum jurnal abstrak menutupi kepustakaan yang begitu
seksama. System klasifikasi untuk buku-buku refrensi ini adalah bahwa digunakan
untuk abstrak dalam Kimia Abstrak, dengan pengecualian bahwa kimia umum
dipisahkan dari kimia fisik. Bagian terakhir bab ini barkaitan dengan
mendapatkan informasi tentang buku-buku lama dan baru, dan dengan pembelian
buku.
Bagian
ini tidak dimaksudkan untuk mencakup semua buku referensi dalam setiap bidang
kimia, tetapi untuk menunjukkan sifat dari material referensi yang tersedia dan
daftar karya yang paling umum dan menarik. Untuk daftar buku yang lebih
komprehensif. Ada pun buku-buku refrensi dalam bidang kimia adalah sebagai
berikut:
1. Apparatus,
Plant Equipment, Unit Operations
Tidak
ada ensiklopedia komprehensif atau penuntun dalam buidang ini. Sebagian besar
buku yang disediakan untuk unit khusus operasi atau jenis peralatan. Beberapa
karya umum adalah:
·
Coleman, H. S. 1951. Laboratory Design.
New York: Reinhold (360 hlm).
Buku
ini disusun pada saat melakukan penelitian nasional dan dikerjakan pada saat
itu juga.
·
Jones, E. B. 1953. Instrument
Technology. London: Butterworth. (Jilid 2 telah direvisi).
2. Kimia
Fisik
Karya
kimia umum yang dalam grup dua dari klasifikasi Abstracts Kimia telah
dipertimbangkan. Tidak ada penuntunyang komprehensif untuk kimia fisik karena
ada organic dan kimia anorganik, tetapi harus diingat, sejumlah besar kimia
fisiska yang terlibat dalam unsure-unsur kimia dan senyawa. Karya pada
anorganik dan kimia organic dan Theorpe’s Dictionary of Applied Chemistry akan
menghasilkan banyak informasi tentang kimia fisik. Sebagian besar buku-buku
kimia fisik adalah buku-buku pelajaran umum atau monograf di bagian lapangan,
seperti misalnya koloid, katalisis, dan termodinamika. Ada beberapa
penuntun-penuntun dan buku-buku teks yang cukup komprehensif diantaranya yaitu:
·
Emschewiller, Guy. 1953. Chemie Physique 3rd vols. Paris:
Presses Univ. de France.
·
Euken, Arnold. 1949. Lehrbuch chemischen der Physik, 3rd
edition 2nd vols. Liepzig: Akademische Verlagsgesellscahft
·
Taylor, H. S. 1931. A Treatise and physical Chemistry 2nd edition. New York:
Van Nostrand.
3. Fenomena
Elektronik dan Spectra
Rupanya
tidak ada pembahasan komprehensif dari bidang ini kecuali yang diemukan dalam
penuntun kimia fisik. Penuntuk di Fisika juga mendiskusikan berbagai fase itu.
Buku-buku berikut, yang meliputi beberapa bagian dari subjek fenomena
elektronik dan spectra, yang berguna:
·
Crowther, J. A. 1945. Ions Elektronic and Ionizing Radiation. London:
Arnold. (322 hlm).
·
Massey, HSW, dan Burhop, EH. 1952. Elektronic and Ionic Impact Phenomen.
Oxford: Clarendon Press. 669 hlm.
·
Sommerfeld, A. 1951. Atombau und Spektrallinien 2nd vols.
Braunschewig: Vieweg.
4. Fenomena
Nuklir
Rupanya
diskusi komprehensif dari fenomena nuklir dapat ditemukan hanya dalam penuntun
kimia fisik atau fisika. Sulit untuk membuat saran bermanfaat dalam bidang yang
berubah dengan cepat ini. Buku-buku ini akan embantu meraka yang tidak ahli
dalam bidang ini untuk mendapatkan beberapa pengetahuan tentang hal itu
diantaranya adalah:
·
Cooke, J. B. dan Duncan, J. F. 1952. Modern Radiochemical Practice. London:
Oxford Univ. Press. (24 hlm).
·
Fermi, Enrico. 1950. Nuclear Energy. Chicago: Univ. of
Chicago Press. (246 hlm).
·
Gamov, G., dan Critchfield, C.L. 1949. Theory of Atomic Nucleus dan Nuklir Energi
Sumber Daya 3rd edition. New York: Oxford Univ. Press. (344
hlm).
5. Elektrokimia
Tidak
ada penuntun besar dalam elektokimia; yang lebih kecil yang memang ada terbatas
untuk senagian besar untuk diterapkan atau elektrokimia teknis. Diskusi terbaru
dari prinsip-prinsip dan teori elektrokimia sebagai publikasi terpisah adalah
jarang, tetapi karya yang lebih besar dalam kimia fisika meliputi materi
teoretis ini. Beberapa karya rujukan yang bermanfaat;
·
Fichter, F. 1951. Organische Electrochemie 2nd edition. Dresden:
Steinkopff. (359 hlm).
·
Cooway, B. E. 1952. Electrochemical Data. New
York: Elsevier. (374 hlm). Sebuah kompilasi dari berbagai jenis data yang
berguna dalam karya elektrokimia.
6. Kimia
Anorganik
Penuntun
J.
W Mellor’s. 1973. Comprehensive Treatise
on Inorganic dan Theoritical Chemistry 16th vols. London:
Longmans, Green. Merupakan yang komprehensif, tetapi tidak begitu lengkap
sebagai penuntun Gmelin’s. Namun, pada bibliografi yang sangat lengkap,
masing-masing volume memiliki indeks dan volume 16 berisi indeks umum. Karya
ini bertujuan untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai semua unsure-unsur
dan senyawa yang dikenal dalam kimia organic dan mendiskusikannya, dimana
mungkin, dalam hal kimia fisik. Tambahan volume (dalam redaksi: HVA Briscoe, AA
Eldridge, dan GM Dyson) sedang dipersiapkan untuk membawa semua 16 jilid
penuntun ternaru Mellor’s; publikasi mulai tahun 1956.
7. Kimia
Analitik
Ada
beberapa refrensi komprehensif dari analisis kimia yang bekerja pada sebagian
besar buku-buku terbatas pada fase tertentu itu. Juga jumlah buku yang
ditujukan untuk salah satu metode kimia fisik analisis kimia beberapa referensi
tersebut adalah:
·
Berl, W. G. 1951. Phisycal Methode in Chemical Analysis 2nd vols. New
York: Reinhold.
Buku
ini memberikan survey yang sangat baik dari metode yang digunakan sekarang
sebagai analisis kromatograf, analisis potentometric, analisis polarographic,
analisis konduktometri, analisis spectrographic, analisis colorimeter dan juga
hal diluar kemungkinan penggunaan ini.
·
Beleher, R dan Wilson, CL. 1955. New Methods In Analytical Chemistry. New
York: Reinhold. 300 hlm.
Buku
ini tidak didasarkan pada teknik instrumental.
·
Feigl, Frizt. 1949. Spot Tests 2nd vols. Housto: Elsevier. Buku ini mencakup
kimia organic dan kimia anorganik.
8. Air,
Kotoran, dan Kebersihan
Ada
beberapa buku yang membahas tentang air, kotoran dan keberhasilan. Diantaranya
adalah sebagai berikut:
·
Habbit, H.E. 1953. Sewage and Sewage Treatment 7th edition. New York: Wiley
(674 hlm)
·
Hobbs, A. T. 1950. Manual of British Water Supply Practice. London: Institution of
Water Engineers (927 hlm)
·
Radols, William. 1953. Industrial Wastes Their Disposal and Treatment.
New York: Reinhold
9. Tanah
dan Pupuk
Ada
banyak buku yang membahas tentang tanah dan pupuk, diantaranya:
·
Bear, F. E. 1955. Chemistry of the Soil. New York: Reinhold (384 hlm)
·
Lyon dan Buchman. 1952. Natural and Properties of Soil 5th edition. New York:
Macmillan (608 hlm) termasuk salah satu buku yang unggul.
10. Buku
Mengenai Pestisida dan Pengontrol Hasil Panen
·
E. H. 1956. Chemistry and Uses of Pasticidies 2nd edition. New York:
Reinhold (sebuah refrensi buku bernilai tinggi)
·
H. B. 1955. Plant Regulators in Agriculture. New York: Wiley.
11. Buku
Mengenai Kosmeti dan Pewangi
Ada
banyak buku yang membehas mengenai kosmetik dan pewangi, diantaranya:
·
Bedonkian, P. Z. 1951. Perfumery Synthesis and Isolates. New
York: Van Nostrand (496 hlm)
·
Gunter, Ernest. 1952. The
Essential Oils 6th vols. New York: Van Nostrand (salah satu buku
terbaik dan mencakup secara luas yang ada pada cabang ilmu kimia).
12. Bahan
Bakar dan Hasil Karbonisasi
·
Huntington, R. L. 1950. Natural Gas and Natural Gasoline. New York:
McGraw-Hill (605 hlm)
·
Lowry, H. H. 1945. The Chemistry of Coal Utilization 2 vols. New York: Willey.
Buku
ini disiapkan oleh ahli dibawah lindungan dewan penelitian nasional. Buku ini
sangat luas pembahasannya tentang batu bara dan semua hasil yang diperoleh dari
karbonisasi, hidrogenasi dan metode lainnya.
13. Minyak
Bumi, Minyak Pelumas, Aspal
·
Abraham, H. 1944. Asphalt and Allied Substance 5th edition. New York: Van
Nostrand.
·
Ellis, Carleton. 1934. Chemistry of Petroleum Derivativies 2nd
vols. . New York: Reinhold.
Buku
ini sangat luas dan memiliki daftar pustaka yang banyak yang membahas
literature.
DAFTAR
PUSTAKA
Chang,
Raymond.2005.KIMIA DASAR Konsep-konsep
Inti Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Dewi, Retno.2000. LITERATUR KIMIA. Yogyakarta : Fakultas
MIPA Universitas Gadjah Mada.
Hadi,
Sutrisno. 2000. Bimbingan Menulis Skripsi dan Tesis Jilid 1. Andi Yogyakarta :
Yogyakarta.
Purba,
Michael. 2006. KIMIA untuk SMA Kelas XI.
Jakarta : Erlangga.
Rifai,
Mien A. 2001. Pegangan Gaya Penulisan,
Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. UGM : Yogyakarta.
Wolman,
Yechesked.1991. Informasi Kimia.
Bandung : Penerbit ITB.
Anonim
A. 2010. ‘’Studi Kepustakaan”.http://sayudjberbagi.wordpress.com/
2010/04/23/studi-kepustakaan/. Diakses pada tanggal
4 Maret 2011.
http://antropologi.anekanews.com/2010/09/penelitian--masalah-penelitian_08.html. Diakses pada tanggal 4 Maret
2011.
Anonim
B. 2011. “Objektivitas Ilmu”.http://www.scribd.com/doc/45477173/
Objektivitas-Ilmu.html . Diakses pada tanggal 4 Maret
2011.
Kurniawati, Lestari. 2008. “Subjektivitas dan objektivitas : Nilai-nilai
Dalam Pengkajian Sejarah”.
http://lestarikurniawati.blogspot.com/2008/12/subjektivitas-dan-objektivitas-nilai.html
. Diakses pada tanggal 24 Maret 2011.
Evelyn,
McBlain, 1945. Chemistry English news. New York
Government
Printing Office. 1947. Report of the Public Printer. Wangshington D.C.
Staff
Report. 1953. Chemistry English News. New York
